PGE Tepis Isu Pencemaran Mata Air Akibat Pengeboran

Peneliti UGM Sebut Tak Ada Hubungan Antara Air Tanah dan Reservoir Panas Bumi


Tondano, MS

Aktifitas pengeboran panas bumi oleh PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) di wilayah Tompaso didera sederet persoalan. Polemik yang muncul salah satunya soal kekhawatiran warga akan dampak pengeboran yang berpotensi mencemari sumber mata air di sekitar lokasi. Namun, kecemasan itu ditepis pihak PGE.

Menjawab keresahan masyarakat di sekitar lokasi pengeboran, PT PGE menggandeng tim peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta untuk mengkaji potensi dampak lingkungan dan air tanah. Hasil kajian dipresentasikan dalam pertemuan bersama pemerintah di ruang sidang Kantor Bupati Minahasa, Kamis (28/2).

"Proses penelitian geohidrology ini kami lakukan dalam beberapa tahap, yang pertama studi pustaka selama satu bulan, kemudian dilanjutkan dengan studi lapangan selama tiga hari di sekitar lokasi pengeboran dan uji laboratorium dua minggu," papar Ketua Pusat Penelitian Panas Bumi Fakultas Teknik UGM Ir. Pri Utami MSc, PhD saat diwawancarai usai kegiatan.

Dari kajian yang dilakukan, tim peneliti mengaku tak menemukan adanya potensi terjadinya pencemaran mata air akibat proses reservoir panas bumi. "Karena berdasarkan hasil kajian geohidrology tidak ditemukan adanya hubungan antara air tanah, air permukaan dan reservoir panas bumi, karena ada banyak sekat-sekat yang membatasi," ujarnya.

Di samping itu, Utami ikut menjawab fenomena manifestasi panas bumi, yaitu kemunculan sumber mata air panas di sekitar lokasi pengeboran. "Manifestasi panas bumi itu muncul secara alamiah, dan bisa muncul kapan saja karena memang sifat panas bumi sangat dinamis. Sejauh pengetahuan saya tidak ada penyebab manifestasi akibat kegiatan pengeboran. Mata air panas bisa muncul secara alami tapi bisa juga hilang secara alami," ujarnya.

Pengeboran atau pekerjaan lain yang tidak terkait dengan ekstraksi panas bumi diakui bisa berpotensi memicu munculnya manifestasi panas bumi yang baru. Namun apabila muncul, kadang bukan disebabkan kegiatan manusia. Dia mencontohkan longsoran tanah.

"Manifestasi panas bumi bisa muncul sendiri untuk menyeimbangkan tekanan yang ada dibawah permukaan untuk dapat keluar. Ada juga karena faktor alam seperti longsor, seperti kasus manifestasi panas bumi di Jawa Tengah. Di situ tak ada kegiatan pengeboran atau apapun. Tapi memang di sekitar lokasi ada kawah gunung api yang aktif dan kebetulan juga ada wilayah rawan longsor. Akibat lapisan tanah yang terus menerus longsor menyebabkan keluarnya mata air panas," jabar Utami.

Penjelasan serupa disampaikan General Manager (GM) PT PGE Tompaso, Ir. Salvius Patangke. "Jadi sebenarnya kajian geohidrologi ini sudah dilakukan dua kali, yaitu oleh pihak Unsrat dan UGM sebagai tim independen yang mengkaji apakah ada dampak antara pengeboran dan potensi pencemaran mata air seperti yang dikhawatirkan masyarakat, dan terbukti memang tidak ada," jelasnya.

Upaya menggandeng pihak berkompeten dalam penelitian dimaksudkan untuk menghilangkan prasangka buruk masyarakat. "Artinya kalau pertamina yang melakukan kajian, masyarakat pasti berpikir hasilnya akan berpihak ke pertamina, jadi lebih baik dilakukan oleh institusi berkompeten seperti Unsrat dan UGM," katanya lagi.

Terkait kecemasan masyarakat soal dampak pencemaran mata air, Patengke mengaku bahwa pihaknya juga tidak menginginkan hal tersebut terjadi karena bisa berdampak pada produksi panas bumi.

"Kita juga dalam pengelolaan panas bumi memang tidak mau fluida panas bumi yang panas itu kontak dengan air dingin karena akan menyebabkan pendinginan. Makanya dilakukan penelitian sehingga kami juga bisa yakin kegiatan panas bumi tidak mengganggu sumber mata air di permukaan," ujarnya.

"Intinya semua kekhawatiran masyarakat kita perlu buktikan dengan penelitian, dan masyarakat tidak perlu khawatir. Kita juga berkomitmen bahwa tidak mungkin menghilangkan sumber mata air masyarakat, tidak ada niat seperti itu," tutur Patengke.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Minahasa, Jeffry Korengkeng SH MSi, mengapresiasi penelitian air tanah yang dilakukan tim Fakultas Teknik UGM di Kecamatan Tompaso Barat. Hasil kajian diakui telah memberikan masukan berharga bagi kelangsungan hidup masyarakat sekitar.

"Diharapkan dengan adanya kajian ini dapat menjawab kekhawatiran dari masyarakat yang ada diseputaran proyek eksplorasi panas bumi tentang dampak yang akan terjadi nanti," kata Sekda.

Hasil dari pertemuan ini juga diharapkan dapat disikapi dengan arif karena telah melalui kajian dan penelitian ilmiah oleh pihak berkompeten.

"Perilaku masyarakat kita yang paling menonjol dan banyak mempengaruhi kondisi air yakni tindakan membuang sampah sembarang di sungai maupun di jalan raya. Untuk itu perlu kita tingkatkan kesadaran masyarakat untuk peduli terhadap lingkungan dengan mengurangi sampah plastik. Makanya dalam berbagai kegiatan pemerintahan tidak diperkenankan lagi untuk menggunakan air mineral dengan kemasan plastik," pungkas Korengkeng.

Pertemuan ini turut dihadiri Hukum Tua di Kecamatan Tompaso Barat, unsur Forkompimda dan sejumlah pejabat terkait di jajaran Pemkab Minahasa. (jackson kewas)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors