Kasus DBD Terus Bertambah, Boltim Rawan


Rasa khawatir warga Bolaang Mongondow Timur (Boltim) membuncah. ‘Serangan’ Demam Berdarah Dengue (DBD) tak terbendung. Langkah antisipasi yang getol dijabal pemerintah dinilai belum efektif.

Informasi yang dirangkum media ini, hanya sepekan lebih, nyamuk Aedes Agypti kembali memakan korban. Jika sebelumnya warga Boltim terjangkit DBD bejumlah 58, namun awal Mei ini kembali bertambah 2 orang. "Sejak Januari hingga awal Mei, sudah 60 kasus DBD. Kecamatan Tutuyan paling tinggi peningkatan kasus," terang Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan Pengendalian Penyakit Wabah Dinas Kesehatan (Dinkes) Boltim Sammy Rarung, Kamis (4/4) kemarin.

Dia pun mengaku pihaknya telah turun di beberapa titik untuk melakukan fogging, guna membasmi nyamuk penular virus DBD. "Pencegahan kita lakukan dengan fogging atau pengasapan agar nyamuk pembawa DBD musnah. Sudah 43 titik kita lakukan fogging," akunya.

Sammy mengatakan, DBD bisa dicegah dengan memastikan lingkungan sekitar bersih dari sampah yang menjadi sarang nyamuk pembawa virus DBD.  "Penyebaran kasus DBD dapat dicegah dengan melakukan bersih lingkungan lewat pemberantas sarang nyamuk atau PSN. Program untuk memberantas nyamuk Aedes Aegypti dengan cara 3M plus dan penaburan Abate. Kemudian, program satu rumah satu kader Jumantik yang tersebar di 80 desa," jelasnya.

Terpisah, Camat Modayag Barat Kisman Mamonto mengatakan, pihaknya telah menetapkan setiap Jumat warga melakukan bersih-bersih secara serentak. "Tiap acara, saya selalu mengingatkan, warga untuk selalu memeriksa tempat air minum dan membersihkannya,” ujarnya.

Untuk diketahui, kasus DBD di Indonesia terus mengalami peningkatan. Mengutip dari beberapa sumber terpercaya, per 29 Januari 2019 dilaporkan ada sebanyak lebih dari 13 ribu kasus dengan jumlah korban meninggal sebanyak 133 orang. Status waspada kemudian digaungkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada akhir Januari, demi menepis kemunculan istilah wabah atau kejadian luar biasa (KLB).

Berbagai upaya pun dikerahkan termasuk fogging yang diprakarsai dinas kesehatan maupun mandiri. Namun, Kemenkes mengingatkan bahwa fogging hanya satu dari sekian upaya yang bisa dilakukan. Langkah ini tak akan efektif tanpa langkah penyerta lainnya. Seperti, adanya dukungan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.(pasra mamonto).


Komentar