NASDEM PENANTANG SERIUS PDIP DI PILGUB SULUT, GOLKAR KARTU TRUF


Manado, MS

Tensi politik jelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur (pilgub) Sulawesi Utara (Sulut) mulai meninggi. Itu menyusul hasil pemilihan umum (pemilu) 2019. Tiga partai, masing-masing  Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Golkar dan Partai Nasional Demokrat (Nasdem) memiliki kans besar untuk bisa mengusung pasangan calon (paslon) sendiri.

Terutama  Banteng Moncong Putih. Partai besutan Olly Dondokambey dikabarkan sukses merajai pemilihan legislatif (pileg) di 5 daerah pemilihan (dapil) di Nyiur Melambai dengan perolehan sekitar 18 kursi dari 45 kursi yang diperebutkan.

Disusul Partai Golkar yang berpotensi meraih sekitar 8 hingga 9 kursi. Kemudian Partai Nasional Demokrat (Nasdem) yang juga disebut-sebut berpeluang mendapat 8 hingga 9 kursi. Mengingat, untuk mengusung paslon di Pilgub, parpol minimal harus mengantongi 9 kursi di DPRD.

Nasdem pun disebut-sebut bakal menjadi penantang serius PDIP di Pilgub Sulut. Pasalnya, sebelum pemilu, elit Nasdem telah memberikan psywar akan mengusung paslon sendiri di Pilgub Sulut. “Kelihatannya, Nasdem yang kans jadi rival PDIP di pilgub nanti. Apalagi suara mereka di pileg tingkat provinsi tergolong cukup signifikan,” tanggap Direktur Eksekutif Tumbelaka Academic Centre (TAC), Taufik Tumbelaka, kepada harian ini, Senin (22/4) kemarin.

Jebolan fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu pun menilai ada fenomena menarik yang diperagakan Nasdem di pileg. Partai besutan Surya Paloh disebut menggunakan survei sebagai alat ukur. “Terbukti jitu. H-9 minggu sebelum pemilu, Nasdem menargetkan meraih 1 fraksi di DPRD provinsi.  Survei dijadikan acuan. Dan kini mereka potensi meraihnya. Pola mereka (Nasdem, red), mirip PDIP,” terangnya.

Disinggung soal nama-nama figur seperti Godbless Sofcar Vicky Lumentut (GSVL) dan Elly Engelbert Lasut (E2L) yang disebut-sebut berpotensi jadi calon gubernur (cagub) Nasdem, Taufik enggan berspekulasi. “Itu tergantung situasi politik nanti. Kan di Nasdem banyak kepala daerahnya di Sulut. Kemungkinan E2L akan segera bergabung ke Nasdem. Tapi dua-duanya berpeluang,” tanggapnya.

“Kalau di Nasdem, banyak varian atau pilihannya. Cuma lihat dulu apa mereka sudah pasti bisa mengusung paslon sendiri atau harus berkoalisi lagi,” sambung Bung Taufik, sapaan akrabnya.

Papan dua juga dinilai akan sangat menentukan. Nama-nama seperti Yasti Soepredjo Mokoagow dan Tatong Bara yang sempat mengkristal sebagai calon wagub Nasdem dianggap berpeluang. Namun ada satu figur yang dinilai bisa jadi kuda hitam. Sosok itu adalah mantan Sekretaris Provinsi Sulut, Siswa Rahmat Mokodongan (SRM).

“Jika Nasdem memang melirik unsur keterwakilan Bolmong di papan dua, SRM bisa jadi kuda hitam. Karena beliau itu relatif diterima oleh semua pihak di Bolmong Raya. Baik elit maupun arus bawah. SRM bisa saja pilihan alternatif. Dan peluang politiknya ke Nasdem,” ulasnya lagi.

“Kalau mau dilihat dari sepak terjang Nasdem, memang mereka yang akan menjadi penantang serius PDIP di Pilgub Sulut nanti,” tandas putra Gubernur pertama Sulut itu.

GOLKAR KANS USUNG PASLON

Partai Golkar juga dinilai tidak boleh dipandang sebelah mata. Partai yang dinahkodai Christiany Eugenia Paruntu (CEP), dianggap memiliki peluang untuk mengusung paslon sendiri di Pilgub Sulut.

Apalagi, Beringin memiliki tiga kekuatan politik di tiga daerah, yakni, Minsel, Tomohon dan Sangihe. Mengingat ketiga kepala daerah di kabupaten kota itu merupakan pimpinan partai. Tak hanya itu, Eks partai penguasa di Nyiur Melambai itu juga memiliki basis massa militan yang cukup signifikan di Sulut.

“Akan lebih baik kalau ada tiga paslon yang bertarung di Pilgub nanti. Supaya tidak ada polarisasi serta head to head yang bisa menyulut tensi politik yang panas. Dan yang berpeluang untuk mengusung paslon lainnya, ada di Golkar. Itu partai besar dan memiliki kader dan massa pendukung yang militan,” ulas Taufik Tumbelaka.

CEP pun dianggap sebagai sosok yang paling berpeluang untuk diusung sebagai cagub. Selain sebagai Ketua Partai Golkar Sulut, CEP dinilai akan menjadi keterwakilan cagub dari kaum perempuan. “Kan belum pernah ada Gubernur perempuan di Sulut. Itu bisa jadi tantangan sekaligus peluang bagi CEP. Apalagi CEP sudah tidak bisa lagi maju sebagai cabup nanti, karena sudah dua periode di Minsel,” terang Taufik lagi.

Pun begitu, lagi-lagi calon papan dua tetap akan jadi penentu jika CEP diusung sebagai cagub. “Kalau salah pilih papan dua, peluang untuk menang akan mengecil. Jadi kalau akan maju memang harus berhitung soal calon papan duanya,” katanya.

“Apalagi kalau CEP mampu merangkul semua kekuatan Golkar, terutama elit-elit seperti Imba (Jimmy Rimba Rogi, red),  MMS (Marlina Moha Siahaan), SVR (Stefanus Vreeke Runtu), dan dedengkot-dedengkot Golkar lainnya. Golkar bisa menjadi ancaman bagi PDIP nanti,” timpalnya.

Bila Golkar juga mengusung paslon, Pilgub diprediksi akan berlangsung ketat. “Hasil pileg tentu akan jadi  acuan awal di Pilgub nanti. Kalau Golkar dan Nasdem akan mengusung paslon, tentu pilgub akan berlangsung alot,” imbuhnya.

PDIP TETAP OLLY

Sementara di PDIP, Taufik optimis partai Banteng Moncong Putih akan tetap mengusung Olly Dondokambey sebagai cagub. Baginya, belum ada figur lain di PDIP yang mampu menyaingi kepopuleran Ketua DPD PDIP Sulut itu.

“Kalau PDIP sudah pasti Olly cagubnya. Selain petahana, belum ada sosok yang bisa menyaingi pamor Olly. Apalagi di tangan Olly, PDIP makin merajai Sulut. Lihat aja di pileg kabupaten kota, provinsi dan DPR RI. Suara PDIP yang paling menonjol,” ujar Taufik Tumbelaka.

Peluang PDIP untuk kembali menahkodai Sulut dinilai cukup besar. Selain di provinsi, PDIP juga memiliki kekuatan politik di 4 kabupaten kota, yakni Minahasa, Mitra, Bolsel dan  Sitaro. Mengingat para kepala daerahnya merupakan pimpinan partai. “Basis massanya sudah jelas. Beberapa daerah diantaranya jumlah pemilih besar di Sulut. Seperti Minahasa yang memiliki pemilih diatas 200 ribu,” terangnya lagi.

Disinggung soal calon pendamping Olly, sosok Steven Kandouw (SK) dinilai masih menjadi kandidat terkuat. “Kalau sekarang masih SK. Sebab OD-SK terlihat masih solid,” tanggapnya.

Pun begitu, PDIP dinilai masih akan melihat konstelasi politik kedepan. “PDIP pasti punya hitung-hitungan. Apalagi mereka itu selalu menjadikan survei sebagai alat ukur kandidat. Tidak menutup kemungkinan, akan ada kandidat cawagub lain yang akan ikut disurvei,” beber Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Sosial dan Politik (TAC) itu.

“Tapi kayaknya, mereka akan lebih cenderung ke internal partai cawagubnya. Kecuali dalam dinamika politik nanti, hanya akan dua paslon yang akan bertarung di Pilgub. Tentu PDIP akan lebih berhati-hati,” pungkasnya.

NASDEM DAN PDIP SENTIL PILGUB, GOLKAR WAIT AND SEE

Nada optimis masih dijabal Partai Nasdem di Sulut. Pasukan Surya Paloh ini tetap yakin mampu meraih target-target kursi yang menjadi incaran.   Termasuk di Pileg tingkat provinsi. Bahkan Nasdem, mulai menyinggung soal Pilgub Sulut.

“Dari data yang masuk, untuk tingkat provinsi (Pileg, red), kita ini sudah ada 8 kursi. Jadi tinggal 1 kursi untuk menjadi 1 fraksi. Kan  1 fraksi 9 kursi. Jadi tinggal satu kursi  kita (Nasdem, red) sudah bisa jadi partai pengusung Pilgub,” beber Bendahara Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Nasdem Sulut, Felly Runtuwene, Senin (22/4) kemarin.

“Kita sementara menunggu data C1.  Tapi peluang untuk dapat 9 kursi itu sangat besar, karena hitung-hitungan sekarang kita sudah 8 kursi di provinsi,” sambungnya.

Sedangkan di tingkat kabupaten kota, Felly mengklaim telah ada 9 fraksi di 9 daerah. “Target dapat 11 fraksi di kabupaten kota. Tapi data yang masuk baru 9 fraksi yang kita dapat,” beber salah satu Legislator Sulut yang kini bertarung di DPR itu.

Sementara di di DPR-RI, Felly optimis Nasdem bisa meraih dua kursi. Bahkan ia mengklaim telah merebut 1 kursi. “Kalau ibu (Felly, red) sudah masuk. Yang bersaing ketat di Nasdem pak Benny Mamonto dan Hillary (Hillary Lasut). Tapi kami masih menunggu data yang masuk lagi. Yang pasti patokannya C1,” timpalnya.

Sebelum Pileg, Felly sempat menegaskan akan mengusung paslon sendiri di Pilgub Sulut bisa Nasdem sukses memenuhi target meraih 1 fraksi di DPRD Sulut.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PDIP Sulut, Steven Kandouw, mengklaim capaian PDIP di Pileg,  melampaui target. "Puji Tuhan semua lewat target," ujar Steven, kepada Media Sulut, Senin (22/4) kemarin.

Pileg 17 April juga disebut sebagai menjadi ajang perebutan tiket parpol supaya bisa mengusung calon gubernur dan wakil gubernur Sulut di pilkada serentak 2020. “PDIP bertekad akan mempertahankannya,” lugas Steven.

Manado disebut jadi salah satu target utama PDIP pada pileg. Mengingat Manado merupakan daerah dengan jumlah pemilih terbanyak di Sulut. "Suara PDIP di Manado sangat potensial. Berarti bukan satu hal mustahil kalau di 2019 ini kami rebut tegak lurus dari presiden sampai DPRD Kota Manado," ungkapnya.

“Kemenangan PDIP merupakan hasil jerih payah seluruh pengurus dan kader Caleg yang memiliki semangat kuat,” imbuhnya.

Hal senada diungkap Wakil Ketua DPD PDIP lainnya, Vonny Paat. Ia juga mengklaim target-target kursi PDIP di Pileg terwujud.  “Kita yakin target-target PDIP tercapai. Walaupun ini masih sementara berproses. Ini kan sementara di PPK (Panitia Pemilihan Kecamatan) kan sedang perhitungan,” ujarnya.

“Itu karena semua kader-kader PDIP yang maju sebagai caleg semuanya bekerja dengan giat mencari suara dalam merebut kursi di legislatif. Baik pusat, provinsi maupun kabupaten kota,” pungkas Vonny.

Sedangkan Partai Golkar enggan sesumbar. Partai berlambang Beringin masih akan menunggu hasil perhitungan suara dari KPU. “Memang kita sudah ada info, soal perolehan suara dari Golkar. Tapi kita tetap menunggu hasil resmi dari KPU, sambil menjaga setiap suara yang didapat oleh Golkar dalam pemilu legislatif, baik di tingkat kabupaten kota, provinsi maupun DPR RI,” ungkap Juru bicara DPD I Partai Golkar Sulut, Feryando Lamaluta, Senin (22/4) kemarin.

Khusus  untuk di DPR-RI Golkar mengklaim telah memperoleh 1 kursi. “Kalau DPR Golkar sudah ada 1  kursi. Tinggal menunggu bila ada ketambahan,” paparnya. 

Di tingkat provinsi sendiri, Golkar harap bisa mendapat 9 kursi seperti capaian pileg 2014 silam. “Yang pasti tiap dapil ada. Cuma kita tetap menunggu hasil KPU. Kita tak ingin berandai-andai, agar tidak salah,” lugas Fery.

Sementara di kabupaten kota, Golkar optimis bisa meraih 1 fraksi di setiap daerah. “Karena hampir seluruh daerah kita pimpinan DPRD. Itu data yang masuk.  Tapi sekali lagi keputusannya ada di KPU,” tutupnya.(arfin tompodung/sonny dinar)


Komentar