Di Ujung Tanduk Petaka


Oleh : DANIEL KALIGIS (Jurnalis, Budayawan Muda Minahasa, Pegiat Mawale Movement)

DARI tepi telaga Tondano ke arah utara, tampak gunung Tampusu. Area kaki gunung itu di masa silam adalah ladang, di mana daun jagung selalu melambai tak kenal musim bersama banyak jenis tetanaman pertanian lain. Makin jauh ke atas, warnanya makin hijau tua, kontras dengan ilalang yang berwarna lebih mudah di batas hutan.

Saya pernah bertanya pada seseorang di kampung tepi telaga itu, “Di mana letak hutan?” Orang itu lalu mengarahkan telunjuknya pada kawasan yang ditumbuhi belukar dan pepohonan khas ketinggian di atas 500 meter dari permukaan laut. Yang ditunjuk itu adalah bekas ladang yang sudah sekian waktu ditinggalkan karena “mungkin saja” sektor pertanian di kampung itu sudah dianggap tidak menguntungkan lagi.

Ada yang unik di sana. Orang-orang tua dulu yang tinggal di kaki gunung Tampusu, jika mau mengintip hujan, mereka punya acuan, bila awan mengental hitam di atas Tampusu, maka sebentar lagi hujan akan turun. Air menderas dari hulu, melewati petak-petak ladang dan sela akar berbagai pepohonan. Cerita beberapa tahun belakangan ini, di sana juga sudah sering jadi langganan banjir.

Aneh memang, karena daerah yang sering disebut sebagai “kawatuan” itu berada di wilayah pegunungan, mengapa banjir sudah boleh mampir ke sana?

Cobalah datang ke lokasi yang ditunjuk sebagai kawasan hutan itu, kita beroleh sedikit jawaban. Jalan-jalan “tikus” menjalar laksana tumbuhan rambat menuju puncak Tampusu, pepohonan meninggi cuma satu-satu, dan bekas tebangan melebar sedemikian cepat. Bunga karang terpijak jejak, salakan ditarikpotong mengumbar duri-duri yang mengering, ketena musti dicari di antara bekas gergaji, aneka anggrek menghilang, pakis dan beberapa jenis palem kian berkurang. Burung-burung taon yang di masa lampau pernah diceritakan ada di sana, tak satupun yang kelihatan. Gambaran singkat deforestasi dan konversi kawasan sebagai ladang perburuan satwa endemik untuk santapan yang terus terjadi mengikut pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak peduli pada bumi.

Berdasarkan data Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah VI, hutan di Sulawesi Utara seluas 788.691,88 hektar, yang berdasarkan fungsinya terbagi atas kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam 320.543,15 hektar; hutan lindung 175.958,33 hektar; hutan produsi terbatas 210.123,45 hektar; hutan produksi 67.423,55 hektar; hutan produksi yang dapat dikonversi 14.643,40 hektar. Ujung dari fungsi kawasan hutan itulah yang berlaku, hampir semua sudah dikonversi, sehingga bencana, banjir, dan krisis air semakin menggila. Padahal selain bernilai ekonomi, hutan memiliki fungsi politis, sosial, budaya dan ekologis yang tidak dapat dipisahkan. Namun, hutan telah jadi prahara, dan harapan untuk menjadikan bumi sebagai tempat hidup yang teduh kian jauh.

Greenpeace menuding Indonesia sebagai perusak lingkungan hutan, tapi negara kita membantahnya dengan berbagai argumen. Menteri Kehutanan, M.S Kaban, mengatakan bahwa delapan puluh persen kerusakan hutan yang terjadi di dunia selama ini adalah akibat adanya perkembangan industri yang pesat yang membutuhkan lahan-lahan produktif.

Kita sama tahu, yang mana, walaupun sudah ada desentralisasi kekuasaan dalam bentuk otonomi daerah, namun untuk urusan hutan, pusat tetap berkuasa menerbitkan berbagai izin pembantaian sumberdaya yang ada di daerah. Wahana Lingkungan Hidup menyebut bahwa kerusakan hutan di negara kita adalah yang tercepat di dunia. “Kerusakan hutan di Indonesia mencapai 3,8 juta hektar per tahun. Ini berarti semenit ada sekitar 7,2 hektar yang rusak.” Data ini diambil tahun 2004, nah, selama beberapa tahun belakangan ini kerusakan itu terus meningkat, hal ini ditandai dengan bencana lingkungan yang tak putus-putusnya di tanah air kita.

Kita kembali pada event yang mendebar laksana kelahiran, tumbuh dan berganti ibarat pepohonan yang terus ditumbangkan. Kenangan lampau yang jadi berita. Jutaan orang turun ke jalan, berdemonstrasi dan memadati Fifth Avenue di New York dengan mengacungkan tinju kemarahan kepada para perusak bumi. Tidak kurang dari 1500 perguruan tinggi dan 10.000 sekolah berpartisipasi dalam unjuk rasa di New York, Washington dan San Fransisco. Majalah TIME memperkirakan bahwa sekitar dua puluh juta orang turun ke jalan pada 22 April 1970. Hari Bumi untuk pertama kalinya diselenggarakan di Amerika Serikat. Embrio gagasan hari bumi dimulai sejak seorang senator menyampaikan pidatonya di Seattle pada 1969, tentang desakan untuk memasukkan issue-issue kontroversial tentang lingkungan hidup, dalam kurikulum resmi perguruan tinggi mengikuti model “teach in” yaitu sessi kuliah tambahan yang membahas tema-tema kontroversial yang sedang hangat, khususnya tema lingkungan hidup.

Hari ini di negara kita, ada tontonan yang terus diberitakan karena bencana ekologi yang terus melebar. Kita tak mungkin menahannya, namun kita dapat melambatkannya dengan menanam bibit pohon, satu demi satu di bekas tebangan, supaya ia boleh tumbuh bersama harapan dan telunjuk kita dapat menunjuk dengan mesra hutan yang merimbun karena kerja yang tak pernah putus.(***)


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors