Minat Warga Urus Akta Kematian Kurang


Bolaang Uki, MS

Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya mengurus dokumen kependudukan, perlu mendapat perhatian dari instansi terkait. Termasuk sinergitas antara dinas yang menangani masalah dokumen kependudukan dengan pemerintah kecamatan maupun desa perlu ditingkatkan lagi. Sebab, masih lumayan banyak masyarakat Bolsel yang belum terlalu mementingkan dokumen kependudukan, seperti akta kematian misalnya. Padahal  akta kematian ini sangat penting, karena mempengaruhi keakuratan data kependudukan. Hal ini seperti dikatakan salah satu Anggota DPRD Bolsel, Marsel Aliu. Menurut dia, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) harus berani mengambil langkah tegas kepada pemerintah desa, supaya mereka secepatnya mengusulkan pengurusan akta kematian dari tingkat desa, jika ada warga mereka yang meninggal. “Hal ini jangan dianggap sebelah mata, apalagi tunggu bola. Karena banyak masyarakat yang belum tahun pentingnya dokumen akta kematian ini. Makanya diharapkan Dukcapil harus lebih sering lagi berkordinasi dengan desa,” kata Marsel.

Menanggapi hal ini, Kepala Dukcapil Bolsel, Gunawan Otuh mengatakan, bahwa dalam sistem data kependudukan warga yang sudah meninggal dunia tidak serta merta langsung terhapus, kecuali sudah mengurus akta kematian. “Tidak bisa dihapus secara manual. Sistem akan menghapus secara otomatis kalau sudah keluar akta kematian. Jadi selama belum keluar akta kematian almarhum/almarhumah masih tetap terdaftar dalam data kependudukan,” aku Otuh.

Dia juga menilai, bahwa memang pemerintah desa kurang memperhatikan urusan seperti ini. Padahal katanya, sudah ada format buku pemakaman yang diberikan untuk pembuatan akta kematian. “Bahkan kita sudah turunkan database di desa-desa dalam bentuk soft copy. Bisa dicek mana warga yang sudah meninggal untuk diajukan akta kematian. Tapi, ini juga belum maksimal,” ujarnya.

Sudah menjadi kebiasaan dari masyarakat, mengurus dokumen kependudukan seperti ini kalau ada hal-hal mendesak. “Terbukti, ada warga yang mengurus akta kematian orangtuanya padahal sudah meninggal 20 tahun lalu. Ini-pun dilakukan karena ada urusan jual beli tanah warisan,” aku Otuh ungkapnya.

Meski demikian, dia mengaku, akan sering melakukan koordinasi dengan pemerintah desa, agar hal ini bisa segera teratasi. “Insya Allah apa yang diharapkan bisa sesuai dengan target kedepan,’ kunci Otuh. (Hendra Damopolii)


Komentar