PERANG STRATEGI DI PILEG MINAHASA


Editor : Jackson KEWAS

Tondano, MS

Persaingan ekstra ketat akan tersaji di panggung Pemilu Legislatif (Pileg) Kabupaten Minahasa tahun 2019. Ratusan bakal calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari 15 partai politik (parpol) yang terbagi di empat Daerah Pemilihan (Dapil) siap bertempur. Pertarungan strategi memperebutkan 35 tiket ke Gedung Manguni dipastikan panas.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Minahasa sebelumnya telah merilis 346 nama bakal calon legislatif (bacaleg) yang berhasil masuk dalam Daftar Calon Sementara (DCS). Nama-nama ini apabila tak bermasalah akan ditetapkan sebagai calon tetap anggota DPRD  Kabupaten Minahasa untuk Pileg 2019 mendatang.

“Saat ini sedang dalam tahap uji publik, jadi diberikan kesempatan bagi masyarakat untuk menyampaikan tanggapan terkait 346 nama yang masuk dalam DCS. Batas waktu pemasukan tanggapan sampai 21 Agustus,” jelas Ketua KPU Minahasa Lord Malonda SPd, dalam wawancara akhir pekan lalu.

Meski belum ditetapkan, manuver adu kebut untuk merebut hati rakyat mulai dilakukan para bacaleg. Baik petahana maupun pendatang baru tampil menggeliat dengan berbagai terobosan untuk meyakinkan pilihan publik Tanah Malesung. Meski peluang 15 parpol di tiap Dapil berimbang, namun tak semua punya kesempatan memperoleh kursi. Dapil 1 yang meliputi 4 kecamatan se-Tondano Raya dengan total jumlah penduduk 96.208 jiwa kebagian jatah 7 kursi. Sama halnya dengan Dapil 2 yang meliputi Kecamatan Eris, Kombi, Lembean Timur, Kakas Raya dan Remboken dengan jumlah 64.151 jiwa memperoleh jatah 7 kursi. Dapil 3 yang meliputi Kecamatan Sonder, Kawangkoan Raya, Tompaso dan Langowan Raya kebagian jatah 11 kursi dengan jumlah penduduk 110.845. Sementara Dapil 4 yang meliputi Kecamatan Pineleng, Tombulu, Tombariri Raya dan Mandolang 10 kursi dengan jumlah penduduk 96.271 jiwa.

Keterbatasan kursi itu akan memicu persaingan sengit dari masing-masing parpol untuk berebut jatah. Strategi jitu ditempuh parpol dengan mendorong figur-figur tertentu yang diyakini mampu mempengaruhi masyarakat untuk meraup suara sebanyak-banyaknya.

Pengamat politik Dr Ferry Liando menilai, penentuan jumlah kursi legislatif di tiap parpol akan sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan calon-calon legislatif yang diusung. Sistim penghitungan suara di Pileg 2019 yang menggunakan metode Sainte Lague Murni (SLM) dipandang akan membuka peluang yang sama bagi tiap parpol untuk bersaing.

Liando berpendapat sistim SLM ini tidak secara otomatis akan menguntungkan parpol besar sebagaimana dugaan banyak orang maupun para politisi. “Sistim yang dikenal dengan istilah the winner take all ini artinya parpol peraih suara terbanyak akan mendominasi perolehan kursi. Di Pileg nanti yang akan berperan untuk meraup suara bukan parpolnya melainkan bergantung pada sejauh mana kemampuan figur-figur yang diusung.  Jadi siapapun parpol yang memiliki figur-figur terbaik di mata masyarakat jelas akan punya peluang lebih besar meraup kursi, tidak pandang apakah itu parpol besar atau kecil,” tanggap Liando, Minggu (19/8) kemarin.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial Politik (FISIPOL) di Universitas Samratulangi Manado itu menganggap, brand parpol tak akan begitu berpengaruh dalam perolehan suara calon legislatif nanti. Bahkan menurut dia, parpol hanya digunakan sebagai kendaraan politik bagi calon legislatif untuk bisa berkompetisi di Pileg.

“Pengaruh parpol pada pilihan masyarakat sangat kecil, sebab ketertarikan pemilih lebih besar dipengaruhi pada unsur kedekatan secara emosional dengan calon,” ujarnya.

Senada diungkap Taufik Tumbelaka, sosok yang getol menganalisa dan mengamati situasi politik dan pemerintahan di Sulawesi Utara (Sulut). Di Pileg kali ini, dia menilai setiap parpol harus menempatkan paling tidak dua sampai kader andalan sebagai upaya memperoleh kursi.

"Ini dikarenakan sistem jatah kursi yang baru memaksa parpol untuk meraih suara sebanyak-banyaknya agar nanti kadernya yang memperoleh suara terbesar dapat duduk di legislatif," papar bang Taufik, sapaan akrabnya.

Kondisi ini, lanjut dia, menyebabkan terjadi persaingan ketat antar parpol dan juga akan terjadi persaingan ketat antar sesama kader. "Untuk mendapatkan hasil maksimal maka tiap parpol harus menempatkan kader andalannya serta melakukan pemetaan kekuatan antar sesama kader sehingga tidak terjadi perebutan suara disuatu titik, karena terjadi irisan politik antar basis massa yang dimiliki sesama kader yang bernaung dalam satu parpol," imbuhnya.

"Jadi pada intinya calon incumbent akan harus bekerja keras karena persaingan semakin ketat dan tidak ada jaminan bahwa calon yang notabene incumbent akan pasti duduk," imbuh jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

ANCAMAN PARPOL BARU

Konstelasi politik dalam perebutan kursi DPRD di Pileg 2019 bakal ketat. Persaingan sengit diprediksi terjadi seiring kemunculan sederet parpol baru yang akan berjuang habis-habisan merebut kursi di Gedung Manguni.

Akademisi yang juga pengamat politik Goinpeace Tumbel mengakui, partai-partai lama seperti PDIP, Golkar, Gerindra, dan Demokrat harus bekerja keras. Sebab kemunculan sejumlah parpol baru akan merubah kostelasi politik, termasuk di Pileg Minahasa.

"Yang terpenting di sini adalah bagaimana parpol menempatkan figur yang tepat di tiap wilayah atau Dapil yang ada. Jika ada kelalaian kecil saja di langkah awal pasti akan berdampak besar di hari pelaksanaan Pileg nanti," ujarnya.

Dia melihat kehadiran parpol baru seperti PSI, Perindo, dan Partai Berkarya akan jadi ujian berat bagi parpol lama. Apalagi ada parpol yang tampil dengan gaya berbeda serta mengincar segmentasi tertentu.

"Contohnya ada PSI yang fokus memberikan kesempatan kepada kader-kader muda, dan sejauh ini mereka berhasil mencuri segmentasi pemilih kaum muda. Ada pula Perindo yang sebelum ditetapkan sebagai peserta Pemilu memang sudah all out melakukan gebrakan. Dengan semangat yang besar dan soliditas tinggi mereka siap bersaing dalam pertarungan politik kali ini," tandasnya.

Di sisi lain, Tumbel melihat bahwa parpol sekelas PDIP masih berada di titik aman. Kemenangan di pentas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Minahasa dipandang jadi modal besar yang dimiliki untuk bisa tampil perkasa dan mendominasi Pileg 2019 mendatang.

"PDIP peluangnya masih sangat besar, karena selain parpol dengan jumlah kursi terbanyak di Pileg 2014 lalu mereka juga terbukti memenangkan Pilkada dan tampil sebagai partai penguasa di Minahasa. Bahkan dalam perekrutan caleg mereka sangat hati-hati dengan mendorong kader-kader terbaiknya yang punya pengaruh cukup besar di masyarakat," tanggapnya.

Lain halnya dengan Partai Golkar. Parpol yang pernah berkuasa lama di Tanah Toar Lumimuut ini dinilai memiliki sederet persoalan. Tumbel melihat gesekan internal dan polemik yang sementara mendera tubuh Beringin Sulut dapat memunculkan efek negatif di Pileg Minahasa.

"Intinya jika Golkar tidak berbenah dan tampil solid maka kemungkinan besar mereka harus gigit jari di Pileg nanti. Kan sempat muncul polemik dalam pengajuan pendaftaran bacaleg, sementara tokoh yang dianggap terzolimi (SVR, red) masih punya pengaruh yang sangat besar di Minahasa. Ini bisa berbahaya bagi Golkar dan harus ada langkah-langkah strategis yang harus dilakukan mengingat tahapan Pileg sudah sementara bergulir," sebut Tumbel.

DAPIL 3 TERPANAS

Menilik kontestasi terkini di ajang Pileg Minahasa, persaingan ketat diprediksi akan tersaji di Dapil 3 yang meliputi Kecamatan Sonder, Kawangkoan Raya, Tompaso dan Langowan Raya. Dapil penyumbang 11 kursi di DPRD Minahasa ini terbilang paling panas. Masing- masing parpol berlomba dengan mendorong figur-figur populis dan handal untuk bersaing ketat merebut jumlah kursi signifikan.

Kubu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sendiri menyiapkan 11 nama. Diantaranya ada figur-figur populis seperti Dharma Palar, Chintya Keintjem dan Dicky Masengi yang notabene petahana. Disamping itu ada figur fenomenal seperti Robby Longkutoy dan Herson Walukow yang dikenal memiliki basis massa meyakinkan. Banteng Moncong Putih bahkan ikut mendorong figur-figur muda berkualitas seperti Monica Rorong dan Debora Sumolang.

Di sisi lain, rival terberatnya Partai Golkar ikut menerjunkan sederet figur tenar seperti Ivonne Andries, Febry Suoth, Adrie Lengkey dan delapan kader lainnya. Hal yang sama dilakukan Partai Demokrat, Gerindra, Nasdem dan PKPI yang pada Pemilu 2014 lalu berhasil memperoleh kursi legislatif dari Dapil 3. Namun persaingan akan semakin sengit dengan kehadiran parpol pendatang baru seperti Perindo dan PSI yang tentunya akan habis-habisan mendapatkan minimal 1 kursi di DPRD Minahasa.

Tokoh pemuda Mario Sarajar yang getol mengikuti perkembangan politik di Dapil 3 memprediksikan parpol-parpol besar seperti PDIP dan Golkar masih akan mendominasi perolehan kursi di Pileg 2019 nanti. Peluang yang sama berlaku untuk Demokrat, Gerindra dan Nasdem yang diyakini masih akan meraup kursi legislatif di Dapil 3.

“Melihat kapasitas figur-figur yang dijagokan tiap parpol, PDIP dan Golkar tampaknya masih akan memperoleh masing-masing 3 kursi sama halnya dengan Pemilu 2014 lalu. Begitu juga dengan Demokrat, Gerindra dan Nasdem. Yang paling menarik yaitu perebutan sisa kursi. Ada beberapa parpol pendatang baru yang punya potensi jika strategi yang diterapkan berjalan baik,” kata Sarajar.

Menurut dia, peluang terbuka untuk Partai Perindo yang memenuhi kuota maksimal 11 calon legislatif di Dapil 3 dan PSI yang mengusung 10 calon. “Penetuan kursi melaui sistim SLM akan dilihat dari parpol peraih suara terbanyak. Logikanya parpol yang mampu memenuhi kuota maksimal 11 calon tentu punya peluang yang lebih besar dibanding parpol yang hanya memiliki 7 calon atau dibawahnya. Karena perhitungan kursi di Pemilu 2014 lalu beda sistimnya dengan sekarang,” imbuhnya.

“Tapi itu jelas kembali lagi ke strategi masing-masing parpol dan figur-figur yang diusung. Sebab bisa saja parpol yang memiliki 7 calon namun semua figurnya mampu meraup suara signifikan akan mampu memperoleh kursi dibanding parpol yang memiliki 11 calon namun rata-rata perolehan suara cuma sedikit. Dalam politik semua itu bisa saja terjadi. Hanya saja kalau bicara peluang, tentu secara logika dan hitung-hitungan politik jelas yang lebih diuntungkan yaitu parpol yang memenuhi kouta maksimal atau yang lebih banyak jumlah caleg,” tandas Sarajar.

PARPOL OPTIMIS

Dinamika politik yang berputar kencang tak menyurutkan hasrat parpol peserta Pileg 2019 di Minahasa. Keyakinan meraih jumlah kursi yang signifikan menyembul. Masing-masing parpol menargetkan hasil terbaik.

PDIP selaku jawara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Minahasa yakin perolehan kursi di Pileg 2019 nanti akan bertambah. Banteng Moncong Putih bahkan optimis mampu merebut 16 kursi di DPRD. ”Logikanya dari hasil Pilkada tahun 2012 lalu PDIP hanya meraup 36 persen namun berhasil meraih 11 kursi di Pileg 2014. Nah tahun ini kita menang lebih dari 64 persen di Pilkada, makanya saya optimis kita bisa meraih minimal 16 kursi,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Minahasa, Jantje Wowiling Sajow (JWS) belum lama ini.

Sementara Partai Gerindra juga optimis menyambut Pemilu Legislatif (Pileg) di Kabupaten Minahasa tahun 2019 mendatang. Bermodal sederet figur-figur handal yang telah diseleksi, partai besutan Prabowo Subianto itu mematok target signifikan.

Untuk Pemilu 2019, Gerindra menargetkan akan meraup minimal 10 kursi legislatif di DPRD Minahasa. "Target Gerindra untuk Pileg tahun depan minimal10 kursi," ujar Ketua DPC Partai Gerindra Minahasa, Man Tojo Rambitan dengan nada optimis.

"Kita akan upayakan dari empat Dapil yang ada masing-masing ada keterwakilan Gerindra. Targetnya minimal dua kursi di tiap Dapil," katanya lagi.

Untuk memuluskan target tersebut, Gerindra telah menyiapkan kader-kadernya yang akan bertarung sebagai calon legislatif. Kata dia, semua yang didaftarkan telah melalui proses penjaringan dan seleksi yang ketat. "Pasukan kita sudah siap, jadi tinggal menunggu waktu saja. Intinya masyarakat sudah melihat kinerja kami selama ini dan Gerindra sudah memberikan bukti nyata kepada rakyat," lugasnya.

Keyakinan yang sama menyembul dari tubuh Partai Hanura. Untuk Pileg 2019 mendatang, Hanura optimis dapat membentuk satu fraksi utuh di DPRD Minahasa.

Target itu bagi Ketua Partai Hanura Minahasa Djeffry Mentu, SH, M.Si bukanlah hal yang berlebihan. "Pada intinya kita sudah sangat siap menatap Pileg 2019. Minimal ada dua Caleg di tiap Dapil yang ada. Jadi Kita berharap perolehan kursi nanti sesuai harapan sehingga Hanura dapat membentuk fraksi utuh,” lugasnya.

Harapan itu, katanya lagi, diperkuat dengan proses penjaringan Bacaleg yang sangat selektif serta tidak ada yang mantan Narapidana. "Tentu optimis target itu bisa tercapai dengan kerja keras dan upaya bersama," tandas Mentu.(*)


Komentar