PAN DI ATAS ANGIN, PDIP CS TAK GENTAR

Pilkada Boltim 2020


Boltim, MS

Gejolak politik mulai menjalar di seluruh wilayah Bolaang Mongondow Timur (Boltim). Bara pertempuran di pentas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2020, kian memerah. Posisi puncak eksekutif di wilayah bergelar Kabupaten ‘Seribu Danau’ jadi target.

Sinyal kencang perebutan tahta Kabupaten Boltim terlihat saat sejumlah partai politik (parpol) berkompetisi berburu kemenangan di pemilihan legislatif (pileg) 17 April lalu. Strategi dan taktik dipasang agar bisa mendulang suara signifikan di pesta demokrasi lima tahunan itu. Ada asa yang terselip, perolehan suara tinggi bisa memuluskan ‘jagoan’ mereka menduduki kursi wakil rakyat di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Boltim. Artinya, bermodalkan minimal satu fraksi, potensi untuk bertarung di pilkada kian terbuka lebar.

Di sisi lain, hangatnya persaingan perebutan kursi top eksekutif wilayah pecahan Bolaang Mongondow (Bolmong), karena Bupati Sehan Landjar, dipastikan absen. Bupati berjulukan ‘Sang Motivator’ ini sudah dua periode memimpin wilayah paling timur Tanah Totabuan itu.

Untuk menelisik peluang parpol mengusung calon kepala daerah (cakada) masih terbilang rumit. Langkah membentuk koalisi hingga sikap resmi partai belum terungkap. Meski demikian, merujuk hasil rekapitulasi perolehan suara Komisi Pemilihan Umum (KPU), hanya Partai Amanat Nasional (PAN) yang bisa mengusung cakada. PAN dipastikan memiliki satu fraksi utuh di DPRD. Tanpa koalisi dengan parpol lain, PAN mulus mencalonkan kandidatnya di pilkada, tahun depan. Partai berlambang ‘Matahari Terbit’ itu sukses meraup sekira 11.068 suara rakyat. Jumlah tersebut menjadikan PAN mengklaim 4 kursi dan kans menempati posisi Ketua DPRD Boltim Periode 2019-2024. Setelah PAN, ada Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai besutan Megawati Soekarnoputri ini mengumpulkan 6.781 suara. Di posisi ketiga, Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Partai yang dinakhodai Surya Paloh ini, mendapat sekira 6.779 suara. Tiga kursi di DPRD Boltim diduduki. Berada di zona ini, PDIP maupun Nasdem belum aman. Sebab, harus berkoalisi guna melengkapi armada fraksinya agar bisa mengusung.

Pengamat Politik Hendra Damopolii menilai, Pilkada Boltim akan berlangsung ketat. Meski begitu, posisi PAN yang lebih berpeluang besar. Selain menang telak di Boltim, PAN akan mendapat support penuh Sehan Landjar yang adalah Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PAN Sulawesi Utara (Sulut). Dia diterima semua lapisan masyarakat. Apalagi, kepemimpinanya di Boltim telah menghasilkan banyak kemajuan dan prestasi.

“Kemajuan di Boltim sangat nampak saat ini. Figur Pak Sehan Landjar masih terlalu populis. Ia merupakan pemimpin yang merakyat. Pastilah beliau akan turun tangan saat Pilkada nanti. Apalagi posisinya sebagai pimpinan di DPW PAN Sulut,” ujar dia, Rabu (15/5).

Dua faktor ini, menurut Hendra, sebaiknya menjadi pertimbangan parpol lain untuk bergelut di pilkada. “Tapi, ini kan politik. Semuanya berpeluang. Tinggal bagaimana memainkan strategi dan taktik. Apalagi, pilkada baru akan dilaksanakan tahun 2020. Semua bisa terjadi. Bisa juga, PAN menggandeng partai-partai besar lainnya di Boltim untuk koalisi. Kami menilai, PAN masih di atas angin,” prediksi Hendra.

“Figur yang akan diturunkan saya kira sangat berpengaruh. Partai harus mencari calon yang benar-benar merakyat dan memiliki komitmen kuat untuk membangun daerah ini.”

Terpisah, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN Boltim, Marsaoleh Mamonto mengaku, belum menentukan siapa yang akan diusung partai. Partainya, menurut dia, akan melakukan survei, siapa saja kader yang dapat diusung. "Pilkada nanti PAN tetap mengutamakan kader. Intinya kita lihat saja perkembangan ke depan, apakah PAN berkoaliasi lagi atau mengusung calon sendiri," kunci Marsaoleh, Rabu (15/5).

PDIP CS ‘TEROR’ PAN

Dominansi PAN di Kabupaten Boltim tak menyurutkan langkah sejumlah parpol untuk beradu di pilkada. Semangat ‘tak gentar’ mencuat dari sederet pimpinan parpol yang sukses merebut suara signifikan di pileg.

Misi jawara ditegaskan Ketua DPD PDIP Boltim, Medy Lensun. Mantan Wabup Boltim ini mengatakan, sebagai partai pemenang nomor dua di Boltim, PDIP siap menghadapi pilkada. Meskipun partainya harus berkoalisi karena kekurangan 1 kursi. "Soal figur pasti ada, tapi kita belum membahas soal itu. Yang jelas PDIP punya Rocky Wowor dan Medy Lensun," tandas Medy.

Menurut dia, banyak yang melirik PDIP. Namun, sudah menjadi kewajiban kader terbaik selalu jadi prioritas. Ketika ditugaskan partai untuk maju, tentu harus siap. Jika tidak ditugaskan partai, harus mengabdi pada tugas yang diemban. "Intinya PDIP siap semuanya," seru Medy.

Senada dikatakan Ketua DPD Nasdem Boltim, Deval Pontoh. Menurut Deval, Nasdem berpeluang mengusung cakada di Pilkada Boltim. Itu karena torehan suara di pileg cukup signifikan, yakni 6.779 suara. Hal itu, menurut Deval, membuat kursi Nasdem di DPRD bertambah menjadi tiga. Sebelumnya Nasdem hanya memiliki satu kursi.

Namun, Deval mengakui, besar kemungkinan Nasdem akan berkoalisi dengan partai pengusung capres dan cawapres Jokowi-Amin. "Jadi bisa saja dengan PDIP, Golkar, Perindo (Persatuan Indonesia) atau PKB (Partai Kebangkitan Bangsa)," tandasnya.

Terkait calon yang akan diusung, semua kader Nasdem berpeluang. Tapi tidak menutup kemungkinan dari non kader. “Yang jelas Nasdem tetap melakukan survei terkait siapa yang diusung. Memang Nasdem sejak menghadapi pileg sudah melakukan persiapan untuk menyambut Pilkada 2020. Sehingga, kami akan memastikan terlebih dahulu siapa yang layak diusung. Sebab Nasdem tidak mau kalah di pilkada nanti," ujar Deval dengan nada optimis.

‘PERANG BINTANG’

Pilkada Boltim baru akan dihelat tahun 2020. Namun, sejumlah figur mulai mencuat ke permukaan. Bursa cakada pun bervariasi. Selain politisi ada juga dari unsur birokrat.

Di antara figur-figur yang tersosialisasi di masyarakat saat ini, terdapat beberapa nama yang sudah familiar. Sebut saja, mantan calon bupati (cabup) Boltim di Pilkada 2015, Sam Sahrul Mamonto. Selanjutnya, mantan Wakil Bupati (Wabup) Boltim Medy Lensun dan Wabup Boltim saat ini, Rusdi Gumalangit. Ada juga nama Nursiwin Dunggio, Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Boltim Oskar Manoppo, Sekretaris Daerah (Sekda) Muhammad Assegaf dan Camat Modayag Uyun Pangalima.

Selain figur-figur itu, nama baru mewakili kaum milenial juga ramai di media sosial (Medsos) dan menjadi bahan perbincangkan warga. Adalah Rocky Wowor serta dua anak kandung Bupati Boltim Sehan Landjar, yakni Amalia Landjar dan Fuad Landjar. "Memang nama-nama tersebut berpeluang maju di Pilkada Boltim. Entah papan satu ataupun papan dua. Yang jelas nama-nama itu mulai ramai didiskusikan dan sama-sama memiliki peluang menjadi kandidat," kata Dayat Gumalangit, warga Boltim.

Dia memprediksi pilkada tahun depan bakal diikuti tiga atau empat paslon. Itu jika melihat antusias para calon dan hasil pileg yang baru lewat. "Kan ada empat partai meraih suara terbanyak. PAN menjadi pemenang bisa mengusung calon sendiri, sementara tiga partai, yakni PDIP, Nasdem dan Golkar bisa berkoalisi dengan partai lain," tuturnya.

Terpisah, pengamat politik Boltim, Hendra Damopolii menuturkan, dari beberapa figur yang ramai diperbincangkan, terdapat sosok yang menjadi perbincangan hangat. Contohnya, Oskar Manoppo dan Sam Sahrul Mamonto. "Namun, itu baru sebatas lompatan-lompatan di medsos saja. Sebab, menentukan nanti adalah survei partai dan elektabiltas para figur," urai Hendra.

Adapun peluang para figur ini, sama besarnya. Apalagi, partai yang memiliki peluang untuk mengusung sampai hari ini belum menyatakan sikap. Semua masih menunggu hasil survei. "Ada empat partai memiliki suara signifikat di pileg. Pertama PAN dengan raihan 11 ribu lebih suara dan disusul PDIP, Golkar dan Nasdem yang meraup suara di angka 6 ribuan lebih. Tapi yang jelas PAN bisa mengusung calon tanpa berkoalisi dengan partai lain," tuturnya.

Terpisah, salah satu nama yang digadang-gadang maju di Pilkada Boltim, Oskar Manoppo saat dikonfirmasi, belum menyatakan sikap. Semua harus dipikirkan secara matang. Kalaupun dirinya tetap diminta rakyat untuk maju, maka ia akan menunggu hasil survei partai yang ingin mengusungnya. "Sejaun ini saya masih fokus pada kerja selaku kepala BPKPD Boltim. Kalau ke depan ada partai meminang dan itu kemauan masyarakat saya akan mempertimbangkannya," aku Oskar.

Hal yang sama dikatakan Muhammad Assegaf. Ia beralasan masih menunggu hasil pileg. Apalagi dirinya belum mengetahui survei partai. "Tapi kalau masyarakat yang minta, saya siap," seru Assegaf.(pasra mamonto)


Komentar