KETUA TIMSES JOKOWI-MA’RUF MASIH MISTERI


Jakarta, MS

Tensi politik jelang pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres), kian meninggi. Beragam strategi terus dimatangkan oleh kubu Joko Widodo-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dua pasangan calon presiden dan calon wakil presiden yang akan bersaing untuk memikat hati rakyat Indonesia.

Salah satunya menyangkut struktur tim sukses atau tim pemenangan.  Kedua paslon telah menyiapkan skuat terbaik yang akan menjadi corong untuk mensosialisasikan keunggulan masing-masing paslon sekaligus berperan sebagai penangkis serangan kampanye hitam dari rival politik.

Mayoritas timses umumnya berasal dari figur dan tokoh populer dan berpengaruh di nusantara. Baik dari unsur politisi, tokoh agama, akademisi, pengusaha, purnawirawan TNI/Polri, cendekiawan hingga kalangan profesional.  Mengingat, timses memiliki peran  vital dalam meningkatkan elektabilitas paslon.

Namun, hingga Senin (20/8) kemarin,  baru paslon Jokowi-Ma’ruf yang menyodorkan daftar timses ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Tapi ganjilnya, dari  sederet daftar nama Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf, nama leader atau ketua timnya, masih kosong.

Tak ayal, fenomena itu memantik rasa penasaran publik. Nada tanya bersahut-sahutan di media sosial (medsos). Beredar rumor, figur yang dibidik kubu Jokowi-Ma’ruf untuk menjadi ketua timses, menolak pinangan. Sosok itu mengarah ke Mahfud Md. Mengingat, mantan ketua Mahkamah Konstitusi  itu yang paling santer digaungkan untuk menduduki kursi ketua timses Jokowi-Maruf.

Sinyalemen itu diperkuat salah satu elit dari partai pengusung Jokowi-Ma’ruf.  Koalisi Indonesia Kerja (KIK) yang terdiri dari partai-partai politik pendukung Jokowi-Ma’ruf disebut telah menggodok tim pemenangan. Nama Mahfud muncul sebagai salah satu calon ketua tim pemenangan.

Namun figur yang sempat menguat menjadi cawapres Jokowi itu, menolak dengan alasan lebih memilih fokus pada tugas kenegaraan yang dipercayakan oleh Presiden Jokowi. "Jadi ketika diminta untuk untuk menjadi ketua tim pemenangan, beliau (Mahfud Md, red), nggak mau," beber Sekretaris Badan Pelatihan dan Pendidikan DPP PDIP, Eva Kusuma Sundari.

Eva menyebut alasan Mahfud menolak masuk timses adalah ingin fokus pada BPIP.  "Kita sudah menawari dan seterusnya dan Pak MMD sudah mengambil sikap begitu. Kita menghargainya,” tandasnya.

Sekjen PDIP Hasto Kristyanto, juga tak menampik belum dicantumkannya nama ketua dalam struktur TKN Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang diserahkan pada KPU.  "Untuk susunan tim kampanye yang kami serahkan hari ini belum memasukkan posisi ketua tim kampanye," ungkap Hasto Kristyanto, di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Senin (20/8) kemarin.

Sekretaris TKN Jokowi-Ma’ruf mengaku telah mengkonsultasikan nama ketua tim kampanye, ke Jokowi namun capres petahan itu disebut masih konsentrasi pada Asian Games dan gempa bumi di Nusa Tenggara Barat.

"Kami berkonsultasi dengan beliau dan bapak Jokowi saat ini berkonsentrasi dalam tugas negara, tugas bangsa untuk mensukseskan Asian Games," kata Hasto.

"Dan juga gempa bumi di NTB di mana memerlukan perhatian yang sangat serius dari pemerintah pusat. Oleh karena itu beliau menjalankan tugas bangsa dan negara," sambungnya.

Ia mengatakan terkait tugas dan wewenang ketua tim kampanye saat ini akan diwakili oleh wakil ketua tim kampanye. Sehingga menurutnya, saat ini tim kampanye tetap dapat berjalan.

"Untuk bertindak keluar dan ke dalam mewakili tim kampanye sesuai dengan surat keputusan tersebut diwakili oleh salah satu wakil ketua dan sekretaris, dengan demikian tim kampanye bisa bertindak," kata Hasto.

Menurutnya, belum lengkapnya susunan tim kampanye ini tidak melanggar aturan yang ada. Hal ini dikarenakan proses penyerahan susunan tim kampanye dapat dilakukan hingga satu hari sebelum masa kampanye dimulai.

"Hal ini juga sesuai dengan keputusan KPU bahwa seluruh tim kampanye dan jurkam bisa dilakukan revisi satu hari menjelang pelaksanaan kampanye itu sendiri," tandasnya.

ALASAN MAHFUD TOLAK JADI KETUA TIMSES

Sikap penolakan untuk menjadi ketua tim sukses capres dan cawapres yang akan tarung di pilpres 2019, akhirnya diungkap secara terbuka oleh Mahfud Md.

"Saya tak bisa jadi ketua timses atau tim pemenangan karena saya berada di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)," beber Mahfud di pembekalan  bakal calon anggota legislatif (bacaleg) Partai Serikat Indonesia (PSI) di Balai Sarbini, Jalan Sudirman, Jakarta Selatan, Senin (20/8) kemarin.

Mahfud mengatakan BPIP erat kaitannya dengan urusan ideologi bangsa. BPIP sebagai penyelenggara negara harus netral. "Itu ditugaskan oleh Presiden oleh Pak Jokowi untuk menata ideologi, termasuk di dalamnya gimana netralitas penyelenggara negara, karena BPIP kan penyelenggara juga," tuturnya.

Ia menyebut dirinya akan netral. "Jadi kalau saya masuk ke tim sukses yang manapun, itu berarti saya tak netral. Itu saja, jadi tim sukses kan gitu," kata Mahfud.

Testimoni mantan Ketua MK itu sekaligus menepiskan rumor, ia akan kembali menjadi ketua timses Prabowo, pasca penasihat Prabowo yang juga caleg Gerindra, Sudirman Said mengunjunginya Sabtu (18/8) akhir pekan lalu.

Bahkan isu yang menyebut dirinya telah ditawari menjadi timses Prabowo-Sandiaga juga ditampiknya. "Nggak ada tawaran itu, nggak ada," lugas Mahfud.

Dia mengatakan pertemuan dengan Sudirman hanya silaturahmi biasa tanpa ada pembahasan politik.

"Sudirman Said itu teman saya untuk curhat.  Saya sering diskusi tanpa pemihakan politik kepada siapa pun, saya sering diskusi saja soal korupsi, soal informasi-informasi yang tertutup, dan gimana caranya menyelesaikan itu secara kenegaraan, ketemu ya sering," timpalnya.

Menariknya saat berbicara soal kepemimpinan negara di hadapan 750 bakal bacaleg PSI, Mahfud sempat mengimbau seluruh warga yang sudah memiliki hak pilih untuk berpartisipasi di Pilpres 2019 agar negara terhindar dari orang jahat sebagai pemimpin.  "Kita memilih ini bukan untuk memilih yang bagus betul, tapi menghindari orang jahat untuk pimpin negara," sebutnya.

Kicauan Mahfud itu sempat menimbulkan beragam persepsi serta spekulasi dari kubu Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga.

 

 

LIMA MENTERI MASUK TIMSES JOKOWI

 

Formasi tim sukses Jokowi-Ma’ruf telah terbentuk, meski belum memuat nama ketua timses. Daftar itu memuat susunan serta nama-nama pengisi struktur timses yang disebut Tim Kampanye Nasional (TKN).

Formasi itu di antaranya ada ketua, wakil, sekretaris, bendahara, koordinator pemenangan partai, pengarah teritorial, jubir, direktur-direktur, dan tim penugasan khusus. Di dalam TKN Jokowi-Ma’ruf, nama Wakil Presiden Jusuf Kalla, tercantum.

Politikus senior Golkar itu ditunjuk sebagai Ketua Dewan Pengarah. Posisi Dewan Pengarah juga diisi oleh sederet politikus senior. Menariknya, beberapa menteri dan pejabat setingkat menteriJokowi juga ikut di dalamnya.

Seperti  Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, Menteri Keuangan, Sri Mulyani, Sekretaris Kabinet, Pramono Anung dan Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko. Umumnya masuk di posisi dewan pengarah.

Nada sumbang dari rival politik pun mulai bersahut-sahutan. Keterlibatan menteri dinilai dalam mengganggu roda pemerintahan. Namun, kritikan itu ditepis Sekretaris Kabinet Pramono Anung. Ia  menegaskan masuknya para menteri itu tidak akan mengganggu kinerja pemerintahan.

"Yang jelas pasti pemerintahan tidak akan terganggu, karena sebagai Presiden incumbent, beliau (Jokowi) menitikberatkan pada kerja yang sudah dilakukan selama ini. Sehingga dengan demikian beliau akan ambil posisi pada kerja seperti biasa, kecuali ya memang debat-debat dan sebagainya," kata Pramono Anung di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (20/8).

Pramono mengatakan gaya kampanye yang akan dilakukan Jokowi juga berbeda dari sebelumnya. Jokowi tetap akan menitikberatkan perhatian pada kerjanya sebagai Presiden RI.

"Jadi kalau untuk kampanye seperti dulu rasanya sudah nggak zamannya lagi. Pertama, menguras tenaga terlalu berlebihan sehingga beliau akan concern untuk tetap bekerja memprioritaskan apa yang menjadi target dan rencana dari Presiden," katanya.

Pramono menjelaskan masuknya para menteri itu di Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin sudah dikomunikasikan antar kedua belah pihak. Dikatakan Pramono, para menteri itu kerjanya nanti lebih sebagai pengarah.

"Pengarah itu kan mengarahkan tidak seperti yang di bawahnya ya direktur, tim teknis, dan sebagainya, sehingga konsentrasi di kementeriannya tidak akan terganggu. Seperti yang saya sampaikan tadi, Presiden akan lebih fokus pada bekerja, jadi walaupun setelah tanggal 22 September ditetapkan dan masuk masa kampanye, Presiden akan bekerja seperti biasa," terangnya.

Ditegaskan Pramono, para menteri itu juga nantinya tidak akan turun ke lapangan dan berorasi mengkampanyekan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. "Enggak ada, enggak ada orasi-orasian, menteri kerja aja," katanya.

"Ya karena memang itu yang jadi hal utama dari Presiden. Beliau akan mengutamakan kerja karena beliau merasa waktu 5 tahun nggak banyak, sehingga satu tahun terakhir difokuskan bekerja," tandas politikus PDIP ini.

TIMSES PRABOWO-SANDIAGA BELUM FINAL

Sementara di kubu paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diisukan masih terjadi tarik-menarik soal struktur tim sukses. Itu menyusul keputusan Prabowo yang telah menunjuk anggota Dewan Pembina Partai Gerindra Djoko Santoso, sebagai ketua timses.

Sejumlah elit partai pengusung Prabowo-Sandiaga dikabarkan keberatan. Mengingat, sang capres dan cawapres juga berasal dari Partai Gerindra. Tak hanya itu, di internal Gerindra juga belum menghasilkan kesepakatan soal struktur tim pemenangan Prabowo-Sandiaga.

Partai berlambang Kepala Burung Garuda itu pun akan bertemu dengan parpol koalisi untuk membahas terkait kepastian hal tersebut. Selambatnya penetapan timses akan dilakukan 4 September 2018 mendatang. "Tanggal 4 (September). Kita terus update terus ya, dan itu kita harapkan merupakan mufakat dari seluruh partai koalisi. Ya melanjutkan, kan ini belum selesai," ungkap Djoko Santoso di kantor DPP Gerindra, Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Senin (20/8) kemarin.

Dalam rapat internal Gerindra diakui Djoko lebih membahas tentang rencana yang akan dilakukan oleh tim pemenangan. Rapat juga menginventarisir nama-nama yang akan bergabung di tim tersebut.

"Ya kita dapat kerjaan, kita pelajari kita bikin planing artinya mengatur waktu yang tentunya yang pertama apa yang harus kita kerjakan, bikin struktur organisasi, kita inventarisir orang orang yang bersedia bergabung," ujar dia.

Namun Djoko enggan membeberkan nama-nama yang saat ini telah masuk dalam tim pemenangan Prabowo-Sandiaga. Menurut dia, informasi lengkap mengenai timses akan disampaikan setelah mendapatkan persetujuan dari pimpinan parpol koalisi mulai dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Presiden PKS Sohibul Iman, dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto.

"Nanti kalau ada keputusan kita umumkan, kalau diumumkan sekarang terus nggak sesuai permintaannya kan nggak baik," ujarnya. "Keputusan itu bukan saya sendiri, paling saya ngonsep, minta persetujuan Pak Prabowo, persetujuan Pak SBY, Pak Zulhas," imbuhnya.

Djoko kemudian menanggapi soal tim pemenangan dari kubu Jokowi-Ma’ruf yang telah dilaporkan ke KPU. Dia mengatakan pihaknya sangat berpegang pada prinsip kehati-hatian. "Ya jelas, kita kerjakan tapi kita nggak terburuk-buru masih lama kok. Ini belum kok, kan kita harus langkah per langkah, nggak bisa ujug-ujug. Wah di sana ngelaporin, kita ngelaporin," timpalnya.

Sebelumnya, Mantan Panglima TNI telah menyebut dirinya sudah hampir dipastikan akan memimpin tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno di Pilpres 2019.

"Kalau nama sudah jelas saya. Insyaallah jelas saya ya. Yang struktur organisasinya diisi. Nanti diumumkan. Saya dan partai koalisi sudah menyusun bersama,"

Meski sudah yakin akan menjadi ketum timses, namun Djoko tak menepis kemungkinan ada dari partai koalisi yang tidak setuju dengan penunjukannya. "Kalau ada yang nggak setuju bisa juga. Ini tugas kok," timpalnya.

Keyakinan Djoko diperkuat Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo. Ia memastikan posisi ketua tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno akan diisi Djoko Santoso. Hashim mengklaim parpol koalisi telah menyetujuinya.

"Fix (Djoko Santoso sebagai ketua tim pemenangan). Partai lain saya kira demikian," singkat Hashim di kantor DPP Gerindra, Jalan RM Harsono, Jaksel, Senin kemarin.(dtc)

 


Komentar