TIFF Picu Pertumbuhan Ekonomi Daerah

‘Commercial Value’ TIFF 2018 Capai Rp15 Miliar


Tomohon, MS

Rasa penasaran masyarakat terhadap dampak dari pelaksanaan Tomohon International Flower Festival (TIFF), mulai terjawab. Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Tomohon secara detail telah menyusun Commercial Value atau nilai komersial dari pelaksanaan iven internasional tersebut.

Data yang diperoleh dari pihak Dispar, penyusunan Commercial Value iven ini, sejalan dengan penerapan sistem yang digunakan yakni ‘Tourism Based Community’ atau pariwisata berbasis masyarakat lokal.

Dijelaskan Kepala Dispar Masna Pioh SSos melalui Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Destinasi Pariwisata, Chrisnaldus Roring, secara matematis commercial value dapat dihitung.

Pertama, menurut dia, efek menguntungkan bagi petani bunga. Melalui iven ini, petani melalui kelompok tani yang dibentuk dan bermitra dengan perangkat daerah terkait, akan mendapat keuntungan dengan dibelinya produksi bunga yang ditanam. Pembelian akan dilakukan oleh para dekorator Tournament Of Flower (TOF). “Misalnya konsumsi bunga pada TOF di tahun 2018 mencapai 268 ribu tangkai. Jika dikalikan 3500 ribu rupiah, maka uang yang beredar di petani mencapai 947 juta rupiah lebih,” ungkap Roring.

Kedua, menurut Roring, pemanfaatan tenaga kerja lokal. Untuk pembuatan sekira 28 float, jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan sekira 320 orang. Artinya, jika dikalikan Rp150 ribu perhari dengan durasi pengerjaan 12 hari, ada peredaran uang sekira Rp576 juta. “Begitu juga dengan sewa kendaraan. Misalnya, digunakan 32 kendaraan selama 12 hari. Jika dikalikan 350 ribu rupiah, maka total uang yang diperoleh pengusaha kendaraan di Tomohon mencapai 134 juta rupiah. Sopir pun akan terkena imbasnya,” aku Roring.

Keempat, biaya material float. Setiap float diperkirakan menghabiskan anggaran Rp15 juta. Jika terdapat 32 float, artinya ada sekira Rp480 juta yang tersebar di toko-toko yang ada di Kota Tangguh.

“Kemudian kalkulasi kunjungan wisatawan asing dan lokal saat TIFF 2018. Data yang kami dapat, ada sekira 236.420 wisatawan lokal dan mancanegara yang datang menyaksikan TIFF. Mereka diperkirakan menghabiskan uang makan dan minum sekitar 50 ribu rupiah. Jika dikalikan dengan jumlah kunjungan, maka perputaran uang di Kota Tomohon khususnya warung, rumah makan dan lain-lain saat TIFF berlangsung mencapai 11 miliar lebih,” urainya.

Masih Roring, sektor strategis lainnya yang cukup berpengaruh saat TIFF, yakni usaha hotel, penginapan dan conttage di Kota Sejuk. “Jumlah kamar yang digunakan saat TIFF 2018 mencapai 200 kamar. Jika rata-rata biaya yang dikeluarkan mencapai 400 ribu rupiah, maka dikalikan 200 kamar ada sekitar 800 juta rupiah yang diperoleh pihak pengusaha akomodasi tersebut,” tuturnya.

Commercial Value juga mempehitungkan kunjungan wisatawan dan masyarakat saat pelaksanaan pemeran, panggung hiburan maupun lomba paduan suara. “Semuanya sudah dihitung. Nilainya sangat besar. Nah, data-data ini yang kami masukkan ke pihak Kemenpar. Mengapa, karena pihak Kemenpar juga berharap setiap pelaksanaan TIFF memberikan efek positif bagi masyarakat serta pertumbuhan ekonomi di daerah. Makanya, TIFF oleh Kemenpar kembali dinyatakan masuk dalam 100 Wonderful Events Indonesia,” kunci dia.

Ditambahkan Kepala Dispar Masna Pioh SSos, pihaknya menargetkan TIFF akan masuk dalam 10 Wonderful Events Indonesia. “Itu menjadi target kami. Apalagi merujuk commercial value, TIFF telah memberikan dampak besar bagi masyarakat. Itu juga yang diharapkan Pak Walikota dan jajaran pemerintah saat melaksanakan agenda ini,” kunci Pioh.(victor rempas)


Komentar