MINAHASA DARURAT DBD


Editor: Jackson KEWAS

Tondano, MS

 

Tanah Malesung dilanda gulana. Teror penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang kian meluas jadi penyebab. Angka korban meninggal yang terus bertambah memicu kepanikan warga. Pemerintah dan lembaga terkait dituntut bertindak cepat.

Data yang dirangkum Media Sulut, kasus DBD di wilayah Minahasa memang mengalami kenaikan tahun ini. Sejak Januari 2018, Dinas Kesehatan mencatat ada 70 kasus DBD yang terjadi. Dari jumlah tersebut, nyawa 6 pasien DBD tak terselamatkan dan berujung kematian.

Belakangan ini, penyebaran DBD rawan terjadi di wilayah Tondano dan sekitarnya. Kasus DBD teranyar dilaporkan terjadi di Kelurahan Watulambot Kecamatan Tondano Barat, baru-baru ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr Yuliana Kaunang MKes tak menampik kondisi tersebut. Bahkan, kata dia, Minahasa kini berstatus daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit DBD.

"Yang namanya kematian pasti daerahnya akan berstatus KLB. Apalagi korban DBD di Minahasa sudah mencapai 6 orang terhitung sejak awal tahun ini. Terakhir di bulan Agustus ini ada satu kasus kematian yang terjadi di Watulambot," papar Kaunang dalam wawancara, Senin (27/8) kemarin.

Disentil soal upaya penanganan dari pemerintah untuk menyetop penyebaran DBD, Kaunang mengaku segala bentuk upaya pencegahan terus dilakukan. Ketika menerima informasi ada kasus DBD, pihaknya bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) langsung ke lapangan untuk melakukan pencegahan di lokasi kejadian dengan metode pengasapan atau foging.

"Selama ini setelah kami menerima laporan ada kasus positif DBD maka langkah awal yang kita tempuh adalah antisipasi penyebaran dengan cara pengasapan atau foging. Baru-baru ini kita telah melakukan foging secara serentak bersama Dinkes provinsi. Sebelumnya kita memang rutin melakukan foging juga di lokasi-lokasi kasus. Intinya upaya itu dilakukan untuk membunuh nyamuk yang membawa dan menularkan penyakit DBD," katanya lagi.

Pencegahan, lanjut dia, bahkan dilakukan di tiap pelosok daerah. Petugas Puskesmas di tiap kecamatan selalu standby sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) bilamana ditemukan ada kasus DBD.

"Sejauh ini petugas Puskesmas sudah melakukan tugasnya dengan baik sesuai SOP, baik itu upaya pencegahan penyebaran maupun penanganan pasien DBD. Ini yang terus kita lakukan setiap menerima laporan kasus DBD," tandas Kaunang.

BALITA RENTAN

Penyebaran DBD di wilayah Minahasa jadi tanda awas bagi orang tua. Penyakit yang dihentar nyamuk Aedes Aegepty ini cenderung menyerang anak-anak dibanding orang dewasa. Alasannya, sistem imun anak kecil yang dalam masa pertumbuhan belum cukup kuat untuk melawan virus dan penyakit.

Hasil penelusuran Media Sulut, 6 korban meninggal di Minahasa memang didominasi anak dibawah usia lima tahun (Balita). Kaunang memaparkan sejumlah tinjauan medis mengapa anak-anak lebih rentan terserang DBD. "Jasi dari sisi medis DBD memang sering menyerang anak-anak lantaran sistem imunnya berbeda dengan orang dewasa. Bukan hanya DBD saja tapi penyakit-penyakit lain juga. Selain itu, pembuluh darah anak kecil juga lebih rapuh ketimbang orang dewasa," ujarnya.

Kasus DBD yang diderita anak kecil berujung pada kematian disebabkan terjadinya komplikasi yang lebih parah. "Virus bekerja lebih optimal akibat sistem imun anak belum terbentuk secara kuat seperti orang dewasa. Nah saat pembuluh darah bekerja tidak stabil akibat ada virus yang masuk, maka organ-organ vital lainnya akan ikut terganggu. Sehingga kondisi itu umumnya menjadi penyebab kematian pada anak," papar Kaunang.

Untuk penanganan jika anak mengalami gejala DBD, dia menganjurkan pemberian obat-obatan yang tepat sesuai anjuran dokter. "Jangan pernah remehkan demam pada anak, meski tak semua demam itu berarti DBD. Tapi pada prinsipnya jika orang tua melihat ada gejala terhadap anak mak segera bawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Selain itu perbanyak cairan dan istirahat yang cukup. Intinya orang tua harus lebih peka melihat kondisi anaknya," tandasnya.

BUTUH KESADARAN BERSAMA

Kasus DBD yang menyebar di wilayah Minahasa memantik respon pemerintah dalam mencegah dan menanggulanginya. Hanya saja, upaya pengasapan atau foging, kata Kaunang, tidak untuk membunuh jentik-jentik nyamuk yang dapat berkembangbiak.

Gerakan sadar lingkungan dianggap sebagai salah satu cara jitu mencegah munculnya penyakit DBD. "Yang namanya penyakit tentu dibutuhkan kesadaran dari semua pihak, bukan hanya pemerintah saja. Justru yang paling penting yaitu pencegahan harus dimulai dari lingkungan tempat tinggal masing-masing," tandasnya.

Seluruh elemen baik pemerintah desa, kelurahan, tokoh agama dan tokoh masyarakat juga diminta memperhatikan persoalan ini dengan serius. Caranya dengan giat membangkitkan gerakan sadar lingkungan di tiap wilayah tempat tinggal.

"Intinya butuh kesadaran bersama dari semua pihak agar sama-sama kita dapat mencegah munculnya berbagai penyakit. Jadi alangkah baiknya sebelum penyakit datang langkag yang paling tepat yaitu harus dicegah terlebih dahulu dengan hidup bersih dan sehat," ujarnya,

Upaya preventif harus dilakukan warga dengan menerapkan pola hidup bersih dan 3 M yaitu menguras, mengubur dan menutup media penampungan air.

"Nyamuk Aedes Aegepty selaku mediator virus DBD berkembangbiak dilingkungan sekitar rumah, khususnya ditempat-tempat yang tergenang air. Makanya perlu ada upaya pencegahan melalui pola 3 M untuk menghentikan pengembangbiakan jentik nyamuk," urainya.

Kaunang menyebutkan, Dinkes hanya bisa melakukan penindakan, seperti Fogging, namun untuk pencegahan itu datangnya dari masyarakat, yang secara bersama-sama rajin membersihkan lingkungan dan menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembang biak jentik nyamuk.

“Kami sudah melakukan fogging di semua wilayah yang melaporkan adanya kasus. Namun, fogging hanya membunuh nyamuk yang sudah beterbangan, sedangkan untuk membasmi jentik nyamuknya, itu harus peran dari seluruh masyarakat, bukan hanya satu atau orang saja, yang proaktif membersihkan lingkungan, menimbun barang bekas yang dapat menyebabkan nyamuk berkembang biak nyamuk, serta menaburkan bubuk Abate kedalam genangan air yang menjadi tempat berkembang biak jentik nyamuk,” himbaunya.

Penanggulangan penyakit DBD butuh kerjasama dari masyarakat dan pihak-pihak yang peduli pada persoalan kesehatan. Adapun tanda-tanda penyakit DBD, adalah panas tubuh yang berkepanjangan lebih dari tiga hari, timbulnya bintik-bintik merah di tubuh dan tanda-tanda lainnya.

“Warga harus secepat mungkin membawa ke dokter jika tanda-tanda tersebut di alami dan di rasakan, agar secepat mungkin di berikan pertolongan medis,” tukas Kaunang.

Kondisi cuaca yang tak menentu juga diakuinya jadi pemicu utama meningkatnya kasus DBD. "Musim yang tak menentu yaitu kadang panas kadang hujan membuat penyebaran DBD cepat meluas. Masyarakat harus berhati-hati terhadap DBD ini karena sangat berbahaya," pungkas Kaunang.

PEMBENAHAN FASILITAS KESEHATAN

Meluasnya penyebaran DBD di wilayah Minahasa memicu respon kritis dari sejumlah kalangan. Bola panas kembali menyasar pihak pemerintah. Lembaga eksekutif diminta responsif dengan membenahi fasilitas-fasiltas kesehatan secara merata di semua tempat.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa, Edwin Lumi, memandang sejauh ini masih banyak fasilitas kesehatan yang lebih memadai. Apalagi di daerah-daerah pelosok.

"Soal kasus DBD ini tentunya tanggungjawab kita bersama, baik eksekutif, legislatif, sampai masyarakat itu sendiri. Tapi tanggungjawab untuk menyediakan fasilitas kesehatan yang memadai bagi masyarakat itu jelas harus membutuhkan perhatian yang sangat serius dari pemerintah," lugas politisi Partai Keadilan dan Persatuan Indinesia itu.

Sebab dari hasil reses yang sering dilakukan pihaknya selama ini, banyak masyarakat khususnya di daerah pelosok yang mengeluhkan fasilitas kesehatan yang belum memadai. "Buktinya ada Puskesmas atau Poskesdes di daerah-daerah tertentu yang minim tenaga medisnya. Bahkan pernah ada warga yang datang ke Poskesdes dan Puskesmas membawa pasien tapi disana kosong, tak ada orang. Ini jelas memprihatinkan dan butuh pembenahan dengan segera. Pemerataan tenaga medis harus merata baik di daerah perkotaan tetapi juga ke pelosok pedesaan," lugasnya.

Tak hanya persoalan tenaga medis yang belum memadai, dirinya meminta ada pembenanahan fasilitas kesehatan baik di Rumah Sakit yang dikelola pemerintah maupun Puskemas dan Poskesdes yang tersebar di seluruh wilayah Minahasa. "Intinya harus ada perimbangan, kan percuma ada dokter ahli tapi peralatan medisnya tidak ada," kata Lumi.

"Jadi yang jadi kendala selama ini saat warga terkena jenis penyakit berbahaya adalah pertolongan pertama yang seharusnya didapatkan di fasilitas kesehatan terdekat belum optimal. Entah itu DBD, malaria rabies dan sebagainya. Makanya pemerintah harus melihat sektor kesehatan dengan lebih serius. Jadi diharapkan kedepan ada pemerataan pelayanan baik yang di kota maupun di daerah pedalaman," tandasnya.(**)


Komentar