Watulambot Epicenter DBD di Minahasa

Metode PSN Yang Tak Optimal Disinyalir Jadi Penyebab


Laporan : Sonny DINAR

Publik Tanah Malesung digemparkan dengan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang terus menelan korban jiwa. Tondano yang notabene merupakan jantung pemerintahan Kabupaten Minahasa kini jadi wilayah rawan penyebaran DBD. Terungkap pula, Kelurahan Watulambot di Kecamatan Tondano Barat yang jadi wilayah terjadinya kasus kematian terakhir akibat DBD merupakan epicenter perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegepty, penghentar penyakit mematikan itu.

 

Fakta mengejutkan ini diungkap Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut), dr Debbie Kalalo, saat dikonfirmasi melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr Steven Dandel. "Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa ternyata daerah sekitar Watulambot ini menjadi epicenter perkembangan DBD di Kabupaten Minahasa, khususnya di wilayah Tondano selama tiga bulan terakhir ini," ungkap Dandel dalam wawancara bersama Media Sulut, Selasa (28/8) kemarin.

Dandel mengaku, pihaknya sudah tiga kali melakukan pengasapan atau fogging di lokasi yang dimaksud untuk membantu Dinkes Kabupaten Minahasa dalam upaya penanganan penyebaran DBD. "Perlu ditekankan pada kata membantu, karena otoritas kewilayahan dan tanggung jawab penanggulangan KLB (Kejadian Luar Biasa) ada di Dinas Kesehatan Minahasa," ujarnya.

"Jadi dari hasil Penyelidikian Epidemiologis di lapangan memang sangat mengkhawatirkan karena banyak sekali ditemukan jentik nyamuk di tempat penampungan air warga, yang belum bisa dimusnahkan sepenuhnya karena kegiatan PSN atau pemberantasan sarang nyamuk tidak berjalan optimal," katanya lagi.

Giat PSN sendiri merupakan kegiatan swadaya masyarakat untuk memusnahkan tempat perindukan nyamuk. Caranya dengan menerapkan pola 3M, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air dan menimbun wadah-wadah genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

"Kemarin (Senin, red), tim Dinkes Provinsi kembali melakukan fogging. Ini bukan yang pertama kalinya karena bulan lalu kami sudah pernah melakukan fogging di desa Watulambot dan Sendangan Kakas," kata Dandel.

"Tapi perlu kami luruskan karena ada kekeliruan pemahaman yang terjadi baik dari instansi teknis maupun masyarakat terkait fogging. Jadi metode pengasapan ini sering dipahami sebagai kegiatan pencegahan DBD, padahal bukan. Kegiatan fogging itu adalah kegiatan penanggulangan DBD. Sementara untuk mencegah DBD adalah dengan PSN atau pola 3M itu," kuncinya.

Berdasarkan data yang dirangkum, total kasus DBD yang terjadi di Kabupaten Minahasa sejak bulan Januari sampai Agustus 2018 ada sebanyak 70 kasus, dimana 6 pasien DBD dinyatakan meninggal dunia. (***)


Komentar