UKIT MENYATU


Tombatu, MS

Gejolak dualisme di tubuh Universitas Kristen Indonesia Tomohon (UKIT) memudar. Lonceng rekonsiliasi kini berbunyi nyaring. Sinyal berpadunya dua kutup difasilitasi sederet tokoh Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM), semburkan harapan baru. UKIT kembali menjadi satu.

Gerak penyatuan UKIT terbilang pelik. Beberapa kali menjadi isu sentral di setiap pelaksanaan Sidang Majelis Sinode (SMS), kisruh dualisme UKIT tak kunjung redah. Ego kepemilikan hingga masalah kepengurusan, membayangi sekira 13 tahun ruang perseteruan universitas kebanggaan warga GMIM itu.

Kali ini, semangat persatuan itu kembali menyala. Panggung peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen (PI-PK) ke-188 di Lapangan Tombatu, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), jadi penyulut. Kehadiran dua petinggi yayasan yang ‘bersengketa’, yakni Yayasan Perguruan Tinggi Kristen (YPTK) dan AZR Wenas, jadi titik terang.

Terungkap, jika masalah UKIT saat ini berada di tahap rekonsiliasi. Proses sinkronisasi data universitas pun tengah berlangsung.

Hal itu diakui petinggi YPTK Pdt Dr Richard Siwu dan petinggi AZR Wenas Prof Mezak A Ratag. Memberikan keterangannya kepada sejumlah awak media, Siwu dan Ratag mengaku, kedua belah pihak sementara melakukan rekonsiliasi hingga penyatuan UKIT secara keseluruhan.

"Sedang berproses. Kita tengah melakukan penyatuan UKIT secara keseluruhan," ungkap keduanya usai pelaksanaan ibadah syukur HUT PI-PK ke-188, di kediaman Bupati James Sumendap, Tombatu, Rabu (12/6).

Menurut Prof Ratag, keinginan untuk menyatukan GMIM itu sudah ada dan sudah berlangsung beberapa bulan belakangan ini. "Dan keinginan ketika itu (UKIT, red) disatukan, tidak ada yang ditinggalkan baik itu mahasiswa dan dosen. Semua kembali pada  misi dan visi GMIM. Itu konsep yang dijalankan," jelas Ratag diiyakan Pendeta Siwu.

Mereka menerangkan, proses penyatuan UKIT yang tengah dilakukan yakni menginput data mahasiswa sedari 13 tahun silam. "Satu persatu kita input. Dan itu sudah direkomendasikan pihak kementerian. Artinya, pangkalan data kita sedang disatukan saat ini. Ke depan kita akan sama-sama. Sebab ada sekira 1700-an data yang harus diselesaikan terlebih dahulu," rinci keduanya.

Sedangkan, proses penyatuan yayasan dikatakan keduanya akan terus menimbulkan masalah. Sebaliknya, mereka mengambil langkah mempersatukan terlebih dahulu mahasiswa dan dosen. "Kalau yayasan yang akan disatukan itu akan menimbulkan masalah. Nah, sekarang kita balik, satukan dosen dan mahasiswa terlebih dahulu. Dan harus ada yang mendorong hal ini, karena kita bekerja di bawah yayasan," jelas keduanya.

Namun, mereka yakin hal ini akan selesai dan tinggal menunggu waktunya saja. "Kita tinggal menunggu waktunya saja. Jika penginputan data selesai dan fasilitas oleh pihak kementerian pun selesai, langkah ke depan sudah akan lebih mudah. Sebab seperti baru-baru ini ada pelaksanaan wisuda, tak ada yang dipermasalahkan," tukas mereka.

Mengenai nantinya siapa yang akan memimpin UKIT, keduanya pun langsung saling merendah. "Kalau itu, saya siap memfasilitasi pemilihan rektor," ucap Prof Ratag.

"Saya jadi anggota komisi pemilihan saja," sambung Pendeta Siwu.

Kehangatan untuk menyatukan UKIT cukup digambarkan kedua tokoh yayasan di lingkup GMIM. Saling melempar senyum dan sinkron dalam memberikan pernyataannya.

Sementara itu, salah satu alumnus UKIT sekaligus pengajar di bawah YPTK, Ny Maria Politon-Assa menanggapi permasalahan UKIT kini di tangan para generasi yang ada. Namun sebelumnya sempat merendah ketika diserbu awak media. "Odo, Oma so paya. So tua," celetuknya.

Pun digambarkannya kalau UKIT memanglah hanya satu. "Dari dulu di hati ini UKIT memang cuma satu. Memang cuma satu. Hanya orang-orang tertentu saja yang bekeng pisah. Dan UKIT harus kembali pada porosnya sebab dia (UKIT, red) harus memberitakan yang Tuhan tugaskan yakni untuk pendidikan," ucap Oma Maria yang masih aktif mengajar itu.

Untuk diketahui, upaya penyatuan UKIT ini telah dilakukan beberapa kali. Tahun 2017 silam, penyelesaian masalah UKIT telah dilakukan Gubernur Sulut, Olly Dondokambey. Sepak terjang orang nomor satu di jazirah utara Pulau Selebes ini hingga ke level kementerian terkait.

SUMENDAP ‘PASANG BADAN’            

Dukungan rekonsiliasi dari kalangan Tokoh GMIM mengalir deras. Misi penyatuan UKIT, tetap menjadi target utama.

Seperti digagas Bupati Minahasa Tenggara (Mitra), James Sumendap (JS). Alumnus UKIT itu sukses menginisiasi pertemuan kedua pihak yang bersengketa.  Dia juga menghadirkan sederet pentolan YPTK dan AZR Wenas di Lapangan Tombatu pada peringatan HUT PI-PK ke-188, Rabu (12/6) kemarin.

Menurut JS, persoalan UKIT perlu digumuli bersama. "Saat ini, di sini (Lapangan Tombatu, red), mari kita bertekad menyatukan UKIT. Kalau ada kaum-kaum Farisi (cerita alkitab pada kitab Injil, red) di sini, minggir dulu. Dan saya memintakan kepada oknum-oknum yang merusak maupun akan merusak penyaturan UKIT, anda akan berhadapan dengan saya," tegas JS disambut tepukan para peserta ibadah HUT dari kalangan pelayanan khusus se-GMIM.

Harapan dia, kehadiran kedua petinggi yayasan baik YPTK maupun AZR Wenas akan dapat memberikan harapan besar penyatuan UKIT demi GMIM secara keseluruhan. "Kita semua berharap ini dapat segera bersatu. Disini hadir dua rektor UKIT yakni Pak Pendeta Siwu dan Pak Prof Ratag. Mudah-mudahan saja ini segera terselesaikan, karena semua warga GMIM berharap seperti itu," terang Sumendap.

Dia mengaku prihatin akan  masalah yang mendera UKIT sekira 13 tahun lamanya. "Sekitar 13 tahun UKIT bermasalah. Saya selaku alumnus hanya melihat dari luar saja. Padahal, ada banyak anak-anak kita, adik-adik kita dan saudara-saudara kita yang menimba ilmu di sana. Sudah 13 tahun. Ingat itu. Mereka tak punya status jelas soal pendidikan. Bahkan status kependetaan pun dipermasalahkan," tandas JS.

Di sisi lain, terkait keterlibatan Bupati JS dalam permasalahan UKIT, baik Prof Ratag maupun Pendeta Siwu hingga Ny Politon Assa, memberikan apresiasi. "Kami senang senang ada alumnus yang memang peduli dengan permasalahan UKIT dan tentu kita berharap UKIT akan bersatu melalui proses-proses yang tengah kita lakukan ini," kunci mereka.

SULUT BERDOA UNTUK UKIT

Penyatuan UKIT  di depan mata. Tahap rekonsiliasi, sementara bergulir. Hasrat agar proses ini berjalan dengan baik dan benar, mencuat dari berbagai elemen masyarakat Nyiur Melambai khususnya warga GMIM.

Wakil Komendan Panji Yosua Minahasa Jurico Paendong SPd, mengapresiasi gerak penyatuan UKIT. Persoalan yang mendera perguruan tinggi kebanggaan GMIM itu, menurut dia, harus secepatnya diselesaikan. “Ini menjadi pergumulan GMIM bahkan warga Sulut. Mari kita mendoakan agar proses ini berjalan dengan baik sehingga boleh tuntas,” tandas mantan Ketua Pria Kaum Bapa (P/KB) GMIM Wilayah Tumompaso Satu itu, Rabu (12/6) malam.

Jika persoalan ini selesai, Paendong optimis, UKIT akan menjadi salah satu pilar kemajuan dunia pendidikan di Sulut bahkan Indonesia. “Sebagai perguruan tinggi yang sudah mumpuni dari segi usia, kehadiran UKIT secara utuh sangat dibutuhkan. Saya rasa tokoh-tokoh GMIM sepakat untuk secara bersama-sama membangun UKIT agar lebih besar lagi. Ingat, UKIT adalah bagian dari GMIM. GMIM merupakan salah satu organisasi gereja paling besar di Indonesia. Kita semestinya bangga dengan kehadiran UKIT. Jadi, tinggalkan ego, mari kita bersama-sama membangun UKIT agar lebih besar dan menjadi terang bagi banyak orang,” ungkapnya.

Paendong mengapresiasi pimpinan YPTK dan AZR Wenas yang duduk bersama menyelesaikan persoalan. Bagi Paendong, sikap tersebut menunjukkan kebesaran hati dan keteladanan bagi generasi penerus saat ini. “Kami sangat mengapresiasi itu. Pertemuan di Tombatu yang di fasilitas Bupati Mitra ini, akan menjadi sejarah yang tak akan pernah dilupakan,” kunci mantan Ketua GAMKI Minahasa.(recky korompis)


Komentar