AIRLANGGA ‘DIGOYANG’, GOLKAR SULUT PASANG BADAN


Jakarta, MS

Tubuh Partai Golongan Karya (Golkar) kembali bergejolak. Desakan Musyawarah Nasional (Munas) pergantian ketua umum (ketum) membahana. Kinerja Airlangga Hartarto di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dinilai kurang. Itu berbuntut pada keterpurukan partai berlambang pohon beringin.

Gelombang kritik yang ‘menyerang’ Airlangga dihentar Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) yang diinisiasi Abdul Aziz. BPPG menilai, Golkar mengalami keterpurukan dan harus segera melakukan evaluasi menyeluruh. "Ini yang ingin kita luruskan, perolehan suara pemilu kemarin Golkar peringkat 3 di bawah Gerindra. Kehilangan 1,2 juta pemilih dan kehilangan 6 kursi di DPR RI. Terburuk sepanjang sejarah pemilu," tandas Aziz.

Dia menuturkan, keberhasilan harus dinilai dengan data dan fakta. Jangan menggunakan penilaian subyektif. "Tidak boleh dengan penilaian subyektif. Seolah-olah Golkar telah melewati badai. Malah disaat Novanto bermasalah, survei partai Golkar masih di level 15 persen," pungkas Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) ini.

Untuk itu, Aziz mendesak Munas dipercepat, karena kinerja Airlangga di Pemilu 2019 dinilai kurang. Padahal posisi Golkar berada di posisi kedua dari hasil resmi Rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Selanjutnya, inisiator BPPG mengusulkan, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) Bambang Soesatyo atau Bamsoet sebagai pengganti Airlangga sebagai Ketum Partai Golkar.

Menurutnya, Bamsoet bersih dari potensi hukum dan bisa diterima dan berkomunikasi antar partai lainnya, lantaran menjabat sebagai Ketua DPR RI. "Benar (mendorong Bamsoet). Sosok yang berdedikasi bagi partai, bersih dari potensi hukum, dan diterima oleh lintas partai, karena beliau adalah Ketua DPR RI," jelas Aziz.

Di sisi lain, desakan BPPG itu dianggap terburu-buru. Merujuk hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) tahun 2017 lalu, Munas baru digelar pada Desember 2019. "Ojo kesusu (Jangan terburu-buru). Jika ada kader Partai Golkar yang mau maju ya silakan saja melalui Munas akhir tahun ini. Kita kan partai yang demokratis," ucap Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar Bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily, Minggu (16/6).

Dia menuturkan, terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Partai Golkar mengalami keterpurukan. Menurutnya, di bawah kepemimpinan Airlangga partainya telah berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemenang kedua dalam Pileg 2019 ini. "Kalau kita lihat kembali hampir semua survei oleh lembaga-lembaga survei yang ternama dan kredibel menyatakan bahwa suara untuk Golkar akan turun besar sampai satu digit, bahkan ada yang menyebut sampai dikisaran 6-9 persen. Dan hampir semua survei memprediksi Golkar akan menempati urutan ketiga bahkan ada yang menyatakan bisa turun ke urutan lebih bawah lagi," jelas Ace

Ia mengatakan, banyak pengamat yang menilai partai berlambang pohon beringin ini tak akan berada di papan atas lagi. Namun, jelas hasilnya berbeda. "Selain itu, kita tahu bahwa sepanjang sejarah Partai Golkar pasca reformasi, di tahun 2019 ini Partai Golkar dapat memenangkan Pilpres dimana kita mendukung pasangan Jokowi-Kyai Maruf. Ini tentu patut diapresiasi," tutur Ace.

Soal Munas, kata dia, pihaknya harus merujuk pada AD/ART. Sebagaimana amanat Munaslub 2017, Partai Golkar akan menggelar Munas akhir tahun ini. "Jadi sebaiknya bersabar saja. Masih ada di depan mata agenda nasional yang harus diselesaikan. Ada sidang MK untuk Pilpres dan Pileg. Penetapan dan pelantikan DPR RI dan DPRD Kabupaten/Kota/Provinsi terpilih. Pelantikan Presiden dan lain-lain," pungkasnya.

BERINGIN SULUT SOLID

Polemik Munas dipercepat hingga Munaslub akhir-akhir ini, kerap membungkus Golkar.Meski begitu, desas desus itu langsung dimentahkan mayoritas pimpinan Beringin dari berbagai provinsi di Indonesia.

Salah satunya datang dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Partai Golkar Sulut, Christiany Eugenia Paruntu (CEP). Menurut Tetty, sapaan akrab Bupati Minahasa Selatan (Minsel), Golkar Sulut solid mendukung kepemimpinan Ketum Airlangga Hartarto dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Lodewijk Freidreich Paulus.

Itu menyusul kesuksesan Partai Golkar meraih jumlah kursi terbanyak kedua di DPR RI dalam Pileg 2019. “Golkar Sulut, solid mendukung kepengurusan DPP dibawah kepemimpinan Ketum, Pak Airlangga Hartarto,” lugas Tetty akhir Mei lalu.

Keberhasilan Golkar di Pileg telah mementahkan hasil beberapa lembaga survei sebelum pemilu yang merilis Golkar bakal terhempas dari posisi 5 besar suara nasional. “Itu semua karena strategi dan kerja keras dari partai dibawah nahkoda Pak Ketum dan jajaran DPP. Itu tentu sangat kami apresiasi,” papar orang nomor satu di kabupaten berjulukan Teguh Bersinar ini.

“Semua program partai menyentuh kepentingan publik. Selain itu, DPP juga intens melakukan konsolidasi ke DPD I hingga ke akar rumput. Itu yang membawa Golkar banyak mendulang simpati dari masyarakat,” sambung CEP.

Politisi berparas cantik itu pun menampik isu Munaslub yang coba diembuskan sejumlah kalangan yang tak senang dengan kepengurusan DPP. Rumor  itu  dinilai hanya isapan jempol belaka. “Itu tak benar (Wacana Munaslub, red). Saya baru dari Jakarta ikut kegiatan Golkar. Semua (Pengurus Golkar, red) senang dan kompak mendukung dan mengawal Pak Airlangga,” tegasnya.

“Tidak perlu ada munaslub. Sebab apa sudah dilakukan Pak Ketum dengan jajaran DPP sudah sangat maksimal. Itu perlu kita dukung dan kawal bersama,” tandas CEP seraya mengajak  seluruh kader Golkar se-Indonesia agar terus menopang kepengurusan DPP.

Dalam rekapitulasi hasil penghitungan dan perolehan suara tingkat nasional di pileg 2019, Golkar berhasil mendapatkan Golkar 17.229.789 (12,31 persen) atau menempati urutan ketiga. Ditempat pertama PDIP dengan capaian 27.053.961 (19,33 persen) dan kedua Gerindra dengan perolehan Gerindra: 17.594.839 (12,57 persen). Namun untuk pembagian kursi di DPR Golkar menempati urutan kedua dengan 85 kursi. Urutan pertama PDIP dengan 129 kursi dan tempat ketiga Gerindra dengan 78 kursi.

GOLKAR (MASIH) PERKASA

Anggapan terkait pencapaian Golkar pada Pemilu 2019 yang dinilai tidak memuaskan, dibantah. Perolehan kursi yang cukup signifikan di Pemilu 2019, jadi ukuran.

Demikian Peneliti Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojudin Abbas. "Kita harus melihat bahwa Golkar punya kekenyalan, punya daya tahan untuk bisa menjaga posisi politiknya di tengah masyarakat. Jadi meskipun peristiwa yang cukup serius, pecah kepemimpinan, ketumnya ditangkap, sebelum pencoblosan ketahuan ada money politik. Tapi perolehan Golkar itu masih cukup baik terus sampai saat ini, tergantung melihatnya kalau jumlah perolehan suara agak menurun, tapi perolehan kursi tidak terlalu juga," terang Abbas, Minggu (16/4).

Menurut Abbas, Golkar masih berada di barisan partai-partai peringkat teratas. Hal itu dikarenakan Golkar memiliki insfrastruktur politik yang mampu menjaga partai agar tetap berada di peringkat teratas. "Dalam situasi yang sulit selama 5 tahun ini tapi Golkar masih punya kemampuan insfrastruktur politik yang sangat baik untuk menjaga partai secara keseluruhan agar tidak jatuh pada level yang lebih rendah," ujarnya.

Abbas lalu membandingkan perolehan Golkar dengan Demokrat yang peringkatnya jaruh pada Pemilu 2009 ke 2014. Menurutnya, Golkar tak mengalami kejatuhan yang serupa seperti dialami Demokrat. Untuk itu, ia tak sepakat bila perolehan Golkar dianggap terpuruk.

"Sekarang bandingkan dengan Demokrat yang jatuh 2009, jatuh di 2014, jatuh lagi di 2019 itu tidak terjadi pada Golkar, kenapa bagitu? Golkar punya pengalaman dan infrastruktur politiknya baik. Itu membuat dia untuk tidak mengalami untuk kehilangan kepecayaan secara menyeluruh yang dialami. Golkar tidak bisa diremehkan dari sisi kemampuan dari sisi insfrastruktur politik dan politisi yang dimilikinya," kata dia.

"Tidak sepakat (Golkar terpuruk di Pemilu 2019)," imbuhnya.

Selain itu, Abbas juga memiliki pendapat terkait adanya desakan dari BPPG agar Golkar segera melakukan musyawarah nasional untuk pengantian ketua umum. Ia menilai pemilihan ketum itu harusnya didasari apa yang dibutuhkan partai untuk lima tahun ke depan.

"Soal kebutuhaan ganti ketum tergantung prioritas Partai Golkar itu seperti apa. Ganti ketum itu ditentukan oleh strategi yang ditentukan oleh kebutuhan lima tahun ke depan mau seperti apa, target politik seperti apa, itu yang dilhat kebutuhan ketum seperti apa yang dibutuhkan untuk mencapai target-targetnya itu," sebutnya.

SOLID DUKUNG AIRLANGGA, AZIZ DISERANG

Tensi politik Partai Golkar meninggi. Pernyataan pihak BPPG yang dinilai menyudutkan Ketum Airlangga, langsung menuai perlawanan. Tokoh-tokoh Golkar bersuara lantang.

Kali ini datang dari tiga ormas pendiri Golkar. Mereka membuat pernyataan menegasikan manuver Aziz dan membela sang ketum.

Ketua Umum Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) Ali Wongso Sinaga mendorong agar Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto kembali menjabat di periode mendatang. Menurutnya, Airlangga yang saat ini juga merupakan Menteri Perindustrian, sangat cocok terhadap visi dan misi Golkar.

Ali Wongso menilai sosok Airlangga telah teruji. Airlangga, lanjut dia, juga memiliki chemistry dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selama menjalankan tugas sebagai menteri.

"Golkar dengan kepemimpinan Airlangga memasuki Pemilu 2019 lalu telah menghadapi tantangan besar dan berat, tetapi Golkar masih bisa berhasil meraih 85 kursi serta menempatkan Golkar sebagai partai besar nomor dua di DPR RI," kata Ali Wongso.

Selain SOKSI, Kosgoro 1957 juga bereaksi memberikan dukungan ke Airlangga. Kosgoro 1957 menegaskan setia kepada petahana. "Kosgoro 1957 tidak akan keluar dari kebijakan Ketua Umum Agung Laksono. Orang yang pertama mendukung Pak Airlangga sebagai Ketum Golkar adalah Agung Laksono," kata Sekretaris Jenderal Kosgoro 1957 Sabil Rachman kepada wartawan, Minggu (16/6).

Para pendukung Bamsoet menilai Golkar tengah terpuruk di bawah kepemimpinan Airlangga. Namun, Kosogoro 1957 tidak sepakat. Justru Golkar tetap berjaya di bawah kepemimpinan Airlangga.

"Seorang Ketum Golkar yang dipilih oleh Munaslub, bekerja 15 bulan, bisa berhasil dalam dua peristiwa politik penting, yakni Pilpres yang telah berhasil memenangkan Pak Jokowi, dan Pileg yang menempatkan Golkar dengan raihan kursi terbanyak kedua setelah PDIP. Itu capaian yang tidak mudah. Pak Airlangga perlu kita apresiasi," kata Sabil yang juga Ketua DPP Bidang Ormas Golkar ini.

Ormas Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR) juga menegaskan dukungannya kepada Airlangga. Sekjen MKGR Adies Kadier mengatakan mereka tidak ikut-ikutan dalam Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG) yang mendesak Golkar mempercepat musyawarah nasional untuk pergantian ketua umum.  "Tidak ada kader Ormas MKGR yang ikut-ikutan dalam dukung-mendukung calon ketum Partai Golkar seperti yang diklaim oleh organisasi BPPG. Ormas MKGR sudah jelas mendukung kepemimpinan Bapak Airlangga untuk memimpin kembali Partai Golkar periode 2019-2024," kata Adies Kadir dalam keterangan tertulis, Minggu (16/6).

Dia mengatakan MKGR mengapresiasi kinerja Airlangga yang mampu mempertahankan capaian Golkar di parlemen. Padahal, kata Adies Kadir, Golkar sempat diterpa isu berat. "Kita ketahui bersama keberhasilan ini diraih bukan hanya dengan omong-omong saja, tapi melalui kerja keras Bapak Airlangga dan jajaran pengurus Partai Golkar selama kurun waktu setahun," tuturnya.

"Di tengah dinamika dan turbulensi partai yang sangat berat, Bapak Airlangga berhasil membawa partai ini ke posisi yang sangat luar biasa, mempertahankan posisi partai Golkar peringkat dua di DPR RI," lanjut Adies Kadir.

AZIZ CS TERANCAM

Manuver anggota AMPG Abdul Aziz mendeklarasikan dukungan kepada Bambang Soesatyo sebagai calon Ketum Golkar, disorot ormas yang menaunginya. Abdul Aziz kans disidang oleh AMPG.

"Tindakan indisipliner dan insubordinasi tidaklah dibenarkan dalam AMPG. AMPG adalah organisasi sayap Partai Golkar yang bertugas menjaga setiap kebijakan Partai Golkar," ungkap Ketum AMPG Ilham Permana kepada wartawan, Minggu (16/6).

Ilham mengatakan AMPG sudah melarang anggotanya membuat kebijakan berbeda dengan mengatasnamakan AMPG. Saat mendeklarasikan dukungan ke Bambang Soesatyo, Abdul Aziz memang mengenakan seragam AMPG. Ilham mengatakan Aziz akan ditindak.

"Kami akan tindak sesuai dengan aturan organisasi, siapa pun kader AMPG yang tidak satu garis dengan kebijakan Partai Golkar. Pernyataan Abdul Aziz adalah pernyataan pribadi bukan mewakili sikap AMPG," ujarnya.

"AMPG hari Rabu besok akan melaksanakan rapat pleno dan akan menindak tegas kader yang tidak taat aturan," imbuh Ilham.

Untuk diketahui, Abdul Aziz adalah salah seorang inisiator BPPG. Aziz mengatakan di dalam BPPG terdapat perwakilan dari ormas-ormas Partai Golkar, yaitu perwakilan Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG), Majelis Dakwah Islamiyah (MDI) Golkar, Gema Kosgoro, Gema MKGR, Baladika Karya Soksi, dan perwakilan dari Kosgoro.

BPPG memandang hasil Pemilu 2019 merupakan titik terendah Partai Golkar. Salah satu yang disorot adalah nihilnya perolehan kursi Golkar di DKI. BPPG menilai perlu pergantian kepemimpinan untuk membangkitkan Partai Golkar. BPPG hari ini mendeklarasikan dukungan kepada Bamsoet.(dtc/mdk/tim ms)


Komentar