AIRLANGGA TERANCAM, BAYANG RETAK INTAI GOLKAR


Jakarta, MS

 

Desakan percepat Musyawarah Nasional (Munas) Golkar mengencang. Kursi Ketua Umum (Ketum) digoyang. Kandidat pengganti dielus. Bayang keretakan pun membekap tubuh Beringin.

 

Gelombang besar  dipacu sejumlah kader muda Golkar yang tergabung dalam Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG), meminta partainya mempercepat Munas. Walau hasil Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) tahun 2017, Munas baru digelar pada Desember 2019.

 

Respon pun bermunculan. Ketua DPP Golkar bidang Media dan Penggalangan Opini, Ace Hasan Syadzily, mengatakan jangan terburu-buru. Jika memang ada kader yang ingin maju sebagai Ketum, ditunggu sampai akhir tahun.

 

"Ojo kesusu (Jangan terburu-buru). Jika ada kader Partai Golkar yang mau maju ya silakan saja melalui Munas akhir tahun ini. Kita kan partai yang demokratis," ucap Ace.

 

Terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa Partai Golkar mengalami keterpurukan. Di bawah kepemimpinan Airlangga partai ini telah berhasil mempertahankan posisinya sebagai pemenang kedua dalam Pileg 2019 ini.

 

"Kalau kita lihat kembali hampir semua survei oleh lembaga-lembaga survei yang ternama dan kredibel menyatakan bahwa suara untuk Golkar akan turun besar sampai satu digit, bahkan ada yang menyebut sampai di kisaran 6-9%. Dan hampir semua survei memprediksi Golkar akan menempati urutan ketiga bahkan ada yang menyatakan bisa turun ke urutan lebih bawah lagi," jelas Ace.

 

Banyak pengamat yang menilai partai berlambang pohon beringin ini tak akan berada di papan atas lagi. Namun, jelas hasilnya berbeda.

 

"Selain itu, kita tahu bahwa sepanjang sejarah Partai Golkar pasca reformasi, di tahun 2019 ini Partai Golkar dapat memenangkan Pilpres dimana kita mendukung pasangan Jokowi-Kyai Maruf. Ini tentu patut diapresiasi," tutur Ace.

 

Soal Munas, harus merujuk pada AD/ART. Sebagaimana amanat Munaslub 2017, Partai Golkar akan menggelar Munas akhir tahun ini.

 

"Jadi sebaiknya bersabar saja. Masih ada di depan mata agenda nasional yang harus diselesaikan. Ada sidang MK untuk Pilpres dan Pileg. Penetapan dan pelantikan DPR RI dan DPRD Kabupaten/Kota/Provinsi terpilih. Pelantikan Presiden dan lain-lain," pungkasnya.

 

 

ADA DESAKAN GANTI AIRLANGGA

 

Barisan Pemuda Partai Golkar (BPPG), meminta agar partainya mempercepat Musyawarah Nasional (Munas), ikhwal memilih Ketua Umum yang baru. Pihaknya menilai, Golkar mengalami keterpurukan dan harus segera melakukan evaluasi menyeluruh.

 

Inisiator BPPG Abdul Aziz mengusulkan, Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo atau akrab disapa Bamsoet menjadi pengganti Airlangga Hartarto sebagai Ketua Umum partai berlambang pohon beringin itu. Dia menilai ini sosok yang tepat.

 

Bamsoet bersih dari potensi hukum, dan bisa diterima dan berkomunikasi dengan partai lainnya, lantaran menjabat sebagai Ketua DPR RI.

 

"Benar (mendorong Bamsoet). Sosok yang berdedikasi bagi partai, bersih dari potensi hukum, dan diterima oleh lintas partai, karena beliau adalah Ketua DPR RI," jelas Aziz.

 

Desakan Munas dipercepat, karena kinerja Airlangga di Pemilu 2019 dinilai kurang. Padahal posisi Golkar berada di posisi kedua dari hasil resmi Rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

 

"Ini yang ingin kita luruskan, perolehan suara pemilu kemarin Golkar peringkat 3 di bawah Gerindra. Kehilangan 1,2 juta pemilih dan kehilangan 6 kursi di DPR RI. Terburuk sepanjang sejarah pemilu," klaim Aziz.

 

Keberhasilan harus dinilai dengan data dan fakta. Jangan menggunakan penilaian subyektif.

 

"Tidak boleh dengan penilaian subyektif. Seolah-olah Golkar telah melewati badai. Malah di saat Novanto bermasalah, survei partai Golkar masih di level 15 persen," tandas Wakil Ketua Umum PP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) ini.

 

 

DUKUNGAN KE BAMSOET MENGUAT

 

Gerbong amunisi ‘penguat’ Bambang Soesatyo (Bamsoet) mulai ramai berdatangan.

Wakorbid Bidang Pratama Partai Golkar ini telah menerima aspirasi untuk maju di bursa calon Ketum. Salah satu dukungan itu datang dari Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri (FKPPI).

 

"Baru hari ini saya menerima langsung, kalau kemarin saya belum secara langsung menerima desakan aspirasi untuk saya mencalonkan diri. Pada hari ini saya menerima kawan-kawan untuk saya mencalonkan diri, kemarin kan hanya di media," kata Bamsoet di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/6).

 

Pria yang menjabat sebagai Ketua DPR ini mengatakan, ada waktunya untuk mendeklarasikan diri maju bursa ketua umum partai berlambang pohon beringin itu. Salah satunya jika ia sudah mengantongi restu petinggi partai dan dari organisasi sayap partai.

 

"Ya kan kemarin saya sampaikan. Kalau nanti pada saatnya saya menyatakan maju, itu berarti saya sudah mendapatkan restu dan pandangan dari stakeholder dimana saya aktif, dari pemuda Pancasila, dari FKKPI, teman-teman dari Partai Golkar, SOKSI kan saya bagian dari pengurus harian DPP Partai Golkar," ungkapnya.

 

Bamsoet juga belum berencana melakukan safari untuk menggalang dukungan maju sebagai Ketua Umum Golkar. Dia pun meminta semua pendukungnya untuk tenang terlebih dahulu.

 

Sebelumnya, Bamsoet mengungkapkan dirinya tak punya ambisi untuk maju sebagai kandidat Ketua Umum Golkar. Ia mengaku ingin fokus menjalankan tugasnya sebagai ketua DPR RI.

 

"Sampai saat ini, jujur saya tidak memiliki keinginan apapun kecuali ingin menyelesaikan tugas dan tanggung jawab saya sebagai ketua DPR RI dengan baik," aku Bamsoet lewat keterangannya, Senin (17/6).

 

 

GOLKAR RENTAN

 

Bayang keretakan kian mendekat jelang waktu Munas Golkar. Kisah tragis itu telah menjadi pengalaman.

 

Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Wilayah Jatim 3 DPP Partai Golkar, Zainuddin Amali berharap partainya tak kembali pecah saat momentum Munas. Sebab, forum itu diakui rentan membikin Golkar terbelah.

 

"Itu yang disadari oleh kami sebagai pengurus partai. Kita lelah dengan konflik internal sejak 2014 sampai dengan 2017 akhir kemarin," tutur Zainuddin di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/6).

 

Sudah waktunya menghentikan konflik internal di tubuh partai yang pernah berkuasa selama 32 tahun itu. Tantangan yang dihadapi Golkar ke depan diyakini lebih berat ketimbang berkutat urusan internal partai.

 

"Kita lelah, apalagi ditimpa masalah di sana sini, di tingkat pusat sampai daerah karena kesadaran itu lah maka kami tidak mau lagi ada gesekan di internal partai," katanya.

 

Ketua DPD Golkar Jatim itu mengimbau para kader solid menyongsong mendukung penyelenggaraan munas pada Desember 2019. Capaian partai berlambang pohon beringin pada Pemilu 2019 harus dipertahankan.

 

"Kita tidak dalam kondisi normal, pimpinan partai tidak memimpin utuh lima tahun. Dia (Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto) satu tahun lebih datang, kemudian partai bisa selamat di posisi nomor dua, itu satu hal yang menggembirakan buat kami," ungkapnya.

 

Sejak 2014, Golkar memang banyak diterpa konflik internal. Paling disoroti adalah dualisme kepemimpinan partai, yakni kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono.

 

Golkar juga banyak diterpa masalah ketika dipimpin Setya Novanto. Mantan Ketua DPR itu pun harus menanggalkan jabatannya di pucuk pimpinan Golkar setelah dipastikan masuk dalam pusaran korupsi proyek KTP berbasis elektronik (KTP-el).

 

Posisi Novanto diisi Airlangga Hartarto yang terpilih dalam forum Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Golkar 2017. Jabatan Airlangga ditetapkan hingga Munas Golkar, Desember 2019.(merdeka/liputan6/medcom)


Komentar