SANGIHE KLB RABIES, Vaksinator dan Vaksin Terbatas, Pemerintah Kelabakan


Laporan: Rindu MAKIKUI

AWAN resah kini menyelimuti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Sangihe. Teror virus rabies kian menggila. Enam warga terkonfirmasi meninggal dunia imbas penyakit zoonotik itu. Status Kejadian Luar Biasa (KLB) resmi diterapkan.

Kondisi tersebut mendapat perhatian serius Pemkab Kepulauan Sangihe. Kegiatan vaksinasi intens dilakukan di sejumlah wilayah. Sayangnya, sederet persoalan kini menghadang langkah taktis instansi terkait. Contohnya, terbatasnya petugas vaksinator hingga kurangnya vaksin anti rabies.

Hal itu diakui Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dinas Pertanian Pemkab Kepulauan Sangihe, Yatris Tiala, Senin (17/6). Terkait penanganan kasus rabies selama ini, pihaknya terus melakukan vaksinasi. “Itu karena di Sangihe sudah masuk KLB. Kasus rabies ini telah mengakibatkan 6 orang meninggal dunia,” aku Tiala.

Sebelum status KLB diterapkan, pihaknya sudah turun ke lapangan melakukan vaksin terhadap hewan peliharaan seperti anjing di seputaran daerah yang terjadi kasus. "Hanya saja yang menjadi kendala, kami kekurangan tenaga vaksinator dan itu sebanyak 5 orang, sementara populasi hewan itu sebanyak 10 ribu sekian. Sekarang yang sudah tervaksin sebanyak dua ribu lebih dari bulan Januari di daerah yang terkena kasus rabies. Misalnya, di Kaluwatu, Dangho, Laine, Pindang Kecamatan Mangsel, baru di Binala, Pokol, Balane Kecamatan Tamako, selanjutnya di Kuma, Kuma 1 dan Biru Kecamatan Banteng," urai Tiala.

Demikian juga, menurut dia, soal ketersediaan vaksin. Beruntung pihaknya menerima bantuan vaksin dari pemerintah provinsi. Sehingga, aktifitas turun ke lapangan untuk melakukan vaksinasi, terus berlanjut.

"Untuk solusinya, kami mengusulkan ke pemkab agar melakukan pelatihan bagi vaksinator. Program ini sudah ada dirancangan kami untuk masing-masing desa ada satu orang vaksinator untuk dilatih. Tetapi karena keterbatasan anggaran, pelatihan belum juga dilaksanakan. Tapi,  Pemkab tetap berusaha untuk melakukan itu dan kini sudah dirapatkan beberapa kali," ujarnya.

Ditambahkannya, Bidang Peternakan sudah menyampaikan Surat Keputusan (SK) KLB kepada Dinas Kesehatan (Dinkes). "Kami juga menurunkan SK KLB ke Dinkes, agar semua hewan peliharaan itu agar dapat dilakukan vaksin. Bila ada hewan liar dalam arti hewan tidak dikenal kemudian identitasnya tidak jelas, harus segera dimusnahkan," bebernya.

Terpisah, dijelaskan Sekretaris Dinkes Tommy Fredrik, menyikapi KLB ini, bila ada kasus gigitan anjing rabies pihaknya akan segera melakukan vaksin. "Jadi kami (Dinkes) sendiri akan menangani korban rabies dari gigitan hewan anjing dan juga melakukan penyuntikan vaksin," kunci dia.(**)


Komentar