DIDUKUNG OLLY, MEGAWATI DI ATAS ANGIN


Jakarta, MS

Posisi Megawati Soekarnoputri sebagai Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bakal langgeng. Arus dukungan bagi putri presiden pertama Indonesia jelang Kongres ke-5 di Bali, mengalir deras. Bendahara Umum (Bendum) PDIP Olly Dondokambey, disebut-sebut jadi salah satu ‘penggerak’.

Dukungan Olly kepada Megawati dibuktikan lewat hasil pemilihan umum (pemilu) di Sulawesi Utara (Sulut), baru-baru ini. Olly yang dianggap ‘anak emas’ Megawati, sukses membawa armada PDIP menaklukkan mayoritas daerah di Nyiur Melambai. Perolehan suara signifikan jadi referensi. Merujuk rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat, PDIP menempati urutan pertama dengan perolehan suara 564.703 di Sulut. Selain itu, Ketua DPD PDIP Sulut ini  mampu mengeksekusi ‘amanat’ Megawati untuk memenangkan calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan calon wakil presiden Ma’ruf Amin dengan perolehan suara fantastis. Sekira 1.220.524 suara rakyat Sulut digondol.

Mempertegas itu, mayoritas pengurus di level Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) se-Sulut, tetap menjagokan Presiden Indonesia ke-5 ini, untuk melanjutkan kepemimpinannya di level DPP. “Yang pasti, hingga saat ini PDIP Sulut tetap solid mendukung Megawati,” tandas pimpinan DPD PDIP Sulut, Lucky Senduk, belum lama.

Dia bahkan menepis anggapan jika Megawati akan mundur. PDIP Sulut menilai, isu itu sarat aroma politis. Rumor ini dipandang sengaja digaungkan untuk untuk melemahkan soliditas Banteng Moncong Putih.

"Ah, soal itu (Megawati mundur, red) hanya kabar burung saja. Tujuannya tak lain untuk melemahkan PDIP. Tapi perlu kami tegaskan, PDIP khususnya di Sulut sampai saat ini masih solid mendukung ibu Mega," ujar Senduk.

Hal senada digaungkan DPD PDIP Sumatera Selatan (Sumsel). Megawati tetap menjadi pilihan untuk menjadi ketua umum partai itu pada Kongres V pada bulan Agustus mendatang di Bali. "Ya, masih ibu Megawati (sebagai Ketum PDIP)," ungkap Ketua DPD PDIP Sumsel Giri Ramanda Kiemas, Rabu (19/6).

Giri menilai Megawati diusung tanpa alasan. Megawati dianggap berhasil mempertahankan ideologi partai dan membawa partainya menjadi pemenang pada Pemilu 2019. "Tidak ada alasan apapun, hanya ibu Megawati, itu saja," ujar dia.

Demikian juga disampaikan Ketua DPC PDIP Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. PDIP Solo tetap akan mendukung Megawati. Menurut Walikota Solo itu, Megawati masih layak memimpin partai. Apalagi selama memimpin, dia memiliki prestasi yang luar biasa. "Menurut saya mbak Mega masih layak menjadi pemersatu partai maupun pemersatu bangsa Indonesia, meskipun di organisasi partai," ungkap Rudyatmo, Rabu (19/6).

Kata dia, selama menjadi ketua partai Megawati mempunyai prestasi yang luar biasa. Bahkan selalu menjadi pemenang pemilu sejak tahun 1999, kecuali tahun 2004, dimana perolehan suara PDIP menurun. "Tahun 2009 naik menjadi pemenang pemilu, 2014 dan 2019 juga menjadi pemenang pemilu. Menang 3 kali berturut-turut ini kan prestasi luar biasa. Jadi saya tetap dukung mbak Mega, untuk antisipasi 2024 (pemilu 2024)," tuturnya.

Pertimbangan lain, lantaran selama kepemimpinan Megawati, PDIP menjadi salah satu partai yang berideologi Pancasila. Untuk itu pihaknya tetap akan memilih Megawati menjadi ketum partai.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PDIP Hasto Kristiyanto menjelaskan, sebelum Kongres V PDIP digelar, bakal diadakan konferensi cabang dan daerah tingkat kabupaten, kota dan provinsi. Konferensi cabang itu dimaksudkan untuk menyerap aspirasi nama calon ketua umum yang bakal disampaikan dalam Kongres V.

"Sebelum Kongres, akan ada konferensi cabang di tingkat kabupaten kota dan konferensi daerah di tingkat provinsi, itu adalah menyerap proses aspirasi peserta," jelas Hasto di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/6).

Dalam konferensi cabang itu utusan pengurus anak cabang bakal berembuk. Ketua, sekretaris dan bendahara tingkat daerah yang bakal memimpin konferensi. Adapun konferensi itu dilakukan setelah Rakernas IV yang digelar Rabu (19/6) ini. "Bayangkan jumlah kecamatan di Indonesia semua akan memberikan aspirasinya melalui konferensi cabang tersebut," kata Hasto.

Hasto meyakini, arah aspirasi kader dari arus bawah tetap mendukung Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum. Kata dia, para ketua DPD bakal memohon kesediaan putri proklamator Soekarno itu memimpin kembali PDIP. "Ada juga aspirasi dari seluruh ketua DPD PDIP yang mohon kesediaan ibu ketua umum untuk berkenan memimpin kembali PDIP itu suara arus bawah," ucap dia.

 

Menurut Hasto, alasan Megawati pantas memimpin kembali partai moncong putih itu karena keberhasilan selama ini. Namun, dia tetap menerima pendapat secara objektif pada kader. "Kalau suara arus bawah seperti itu, tapi partai membuka seluruh panca indera politik kami karena kami meyakini kepemimpinan bu Mega objektif," kunci Hasto.

SOAL KETUM, TUNGGU MEGAWATI DAN ISYARAT LANGIT

Megawati Soekarnoputri di atas angin. Support penuh mayoritas pengurus daerah agar kembali menakhodai PDIP, kian menggurita. Sikap resmi Megawati ditunggu.

Sayangnya, gelaran Rakernas IV PDIP di kantor DPP PDIP, Rabu (19/6) belum menunjukkan titik terang terkait posisi ketum. Itu karena agenda rakernas utamanya membahas Kongres V di Bali, Agustus mendatang, yang akan membicarakan kursi ketua umum partai.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengaku, Rakernas IV ini tidak ada pembicaraan terkait kriteria calon ketum. "Kami belum lagi berbicara tentang hal tersebut, tetapi perubahan itu harus berbasiskan pada nilai-nilai ideologi," terang Hasto di kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/6).

Hasto menegaskan, syarat Ketum PDIP tidak akan pernah berubah. Yaitu, harus memiliki nilai utama (core value) partai yakni setia ideologi Pancasila. "Core values dari PDIP tidak akan pernah berubah karena kami setia pada ideologi Pancasila itu, demokrasi akan dibangun adalah demokrasi musyawarah mufakat demokrasi Pancasila demokrasi dengan cara gotong-royong," jelasnya.

Hasto sendiri masih berkeyakinan semua kader partai dari semua tingkatan mendorong Megawati Soekarnoputri menjadi ketua umum. Kendati, aspirasi nama calon ketum bakal juga dibahas melalui mekanisme Konferensi partai tingkat daerah. "Kepemimpinan dalam kesadaran PDIP itu adalah tidak semata-mata kepemimpinan yang mendapat legitimasi kuat dari arus bawah, memiliki pengalaman panjang, kokoh dalam ideologi, tetapi juga isyarat langit itu juga penting, jadi kita tunggu dari Bu Megawati Soekarnoputri nanti," lugas Hasto.

RAKERNAS BAHAS PERSIAPAN KONGRES

Persiapan Kongres ke-5 PDIP di Bali, terus dimatangkan. Arena Rakernas yang ke IV di kantor DPP, Jakarta, Rabu (19/6), jadi ajang pembahasan.

"Dalam Rakernas IV memang secara khusus untuk mempersiapkan pelaksanaan. Partai secara khusus sebagai untuk mempersiapkan konsolidasi Partai dalam Rangka Pelaksanaan Kongres V yang akan dilaksanakan pada tanggal 8 Agustus 2019 di Bali," jelas Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Rabu (19/6).

Selain itu, menurut Hasto, Rakernas IV juga merumuskan seluruh tanggung jawab partai, didalam mewujudkan harapan rakyat yang telah memercayakan PDIP dan Jokowi-Maruf Amin dalam Pemilu 2019. "Kami tidak menanggapi kemenangan dengan euforia. Kami bersyukur, dipercaya kembali oleh rakyat. Kami bertanggung jawab untuk menggunakan besarnya dukungan rakyat tersebut di dalam membangun masa depan bangsa secara bersama-sama dengan cara gotong royong dengan seluruh komponen bangsa," jelas dia.

Untuk diketahui, gelaran rakernas itu dilaksanakan secara tertutup.

"Mohon maaf kepada teman-teman pers, mengingat Rakernas IV lebih banyak membahas agenda internal Partai, maka Rakernas Bersifat Tertutup. Sama halnya ketika Ibu Ketua Umum dalam Rakernas III di Bali mengambil keputusan untuk mencalonkan kembali Pak Jokowi, maka Rakernas IV kali ini pun dilaksanakan secara tertutup," ucap Hasto.

Partainya menyadari, masih kata dia, bahwa politik memerlukan ruang kontemplasi agar mengalirlah gagasan jernih dan semakin berdedikasi bagi rakyat, bangsa, dan negara Indonesia. "Partai menyadari bahwa keheningan dalam politik penting dalam kontemplasi politik. Terlebih ketika PDI Perjuangan memerlukan suasana khusus, memerlukan kejernihan alam pikir guna merumuskan agenda strategis internal Partai ke depan," kuncinya.

TAK BAHAS STRUKTUR PARTAI DAN PERUBAHAN AD/ART

Ketum Megawati Soekarnoputri terlihat meninggalkan gedung DPP PDIP. Dia pun tampak tersenyum saat beranjak keluar dari lift.

Presiden kelima RI itu ditemani oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Eriko Sotarduga, Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey, serta putranya yang juga Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif, Prananda Prabowo.

Tak terlihat Ketua DPP PDIP Bidang Politik dan Keamanan nonaktif Puan Maharani. Berdasarkan akun Twitter partai berlambang banteng bermoncong putih itu @PDIP_Perjuangan, sudah diunggah foto rapat Rakernas. Hanya terlihat Presiden Joko Widodo yang duduk di tengah diapit oleh Megawati dan Prananda, serta semua pengurus DPP.

Awak media sempat meminta keterangan dari Megawati, namun dia hanya memberikan senyumannya. Sesaat, sebelum masuk ke dalam mobilnya, putri Presiden pertama Soekarno itu sempat berbincang sedikit dengan Prananda, sembari disimak pengurus DPP lainnya.

Megawati pun langsung beranjak pergi usai berbincang kecil dengan Prananda. Saat dimintai keterangannya, pria yang akrab disapa Mas Nanan itu kembali masuk ke dalam lift ditemani oleh para pengurus DPP.

"Jadi kami belum bicara struktur. Jadi segala sesuatu itu melalui juru bicara partai, dimana saya sebagai Sekjen sekaligus ditugaskan untuk itu," kata Hasto di lokasi.

Dia menekankan, pembahasan struktur baru akan disinggung di Kongres PDIP kelima yang rencananya akan dilaksanakan 8 Agustus 2019 di Bali

"Jadi kami masih melakukan pembahasan terhadap agenda-agenda internal. Kami tidak berbicara terkait dengan struktur. Karena itu akan dibahas dalam Kongres," jelas Hasto.

Adapun diketahui, senior PDIP yang juga mantan Sekjen PDIP, Pramono Anung membenarkan bahwa nantinya akan ada jabatan baru di PDIP yakni Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum. Pembahas posisi itu akan dilakukan dalam Kongres V nanti. "Nah yang kedua memang ada wacana apakah nanti ada Ketua Harian maupun Wakil Ketua Umum, mekanisme ini diserahkan sepenuhnya ke dalam kongres," ungkapnya.

Tambahnya, untuk membuat dua jabatan itu diperlukan adanya perubahan dalam AD dan ART partai. Pembahasan AD ART akan dimulai saat kongres berlangsung. "Kan AD/ART akan diputuskan di dalam kongres partai. Dan itu hanya keputusan kecil kalau mau ada Ketua Harian maupun Wakil Ketua Umum," ucapnya.

Pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Kabinet ini pun enggan mengungkap siapa calon kuat penjabat Ketua Harian dan Wakil Ketua Umum PDIP. Pramono haya menegaskan sudah ada beberapa nama calon kuat. "Ya ada beberapa nama," tandasnya.

Sejauh ini, politisi muda dan juga memiliki trah Sukarno yang sudah diprediksi mendapatkan tempat adalah Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI periode 2019-2024. Sedangkan nama-nama seperti Prananda Prabowo, sejauh ini masih berada sebagai pengurus DPP PDIP dan selalu berada di balik layar. Sedangkan macam Puti Sukarno, kalah dalam pertarungannya di Pilkada Jawa Timur 2019, tetapi berhasil sebagai Caleg 2019 dari dapil Jatim.

Sebelumnya, Hasto mengatakan, dalam Rapat Kerja Nasional IV yang diadakan hari ini, tidak ada pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Karenanya, tidak ada pembahasan perubahan atas AD/ART tersebut.

JOKOWI HADIR

Presiden Jokowi menghadiri acara Rakernas IV PDIP pada Rabu (19/6). Selama tiga jam, dia mengikuti rapat yang membahas Kongres V yang rencananya akan diselenggarakan pada Agustus mendatang.

Jokowi terlihat menaiki kendaraan kepresidenan berpelat RI 1. Mengikuti di belakangnya mobil R1 20 yang dimiliki Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang juga kader PDIP.

Meski begitu, mantan Gubernur DKI Jakarta itu tidak menyempatkan diri untuk memberikan keterangan kepada awak media. Dia langsung tancap gas. Rapat tersebut dilaksanakan secara tertutup.(mdk/tim ms)


Komentar