DBD TEROR SULUT, PEMERINTAH DIPECUT


Manado, MS

Hawa risau membekap publik di jazirah utara Selebes. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DPD) jadi pemantik. Terornya kian meluas. Sejumlah warga meregang nyawa. Gerak pemerintah pun dipecut.

Seruan untuk segera menuntaskan penyakit bawaan nyamuk aedes aegypti ini begaung nyaring. Nada desakan untuk cepat melakukan proteksi, dilayangkan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Instansi terkait seperti Dinas Kesehatan dipacu agar dapat secepatnya bertindak, sebelum menjadi status Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Kalau yang begini kita sudah ada pengalaman di kabupaten kota. Jangan sampai terjadi KLB. Diharapkan stakeholder terkait supaya cepat tanggap untuk melakukan langkah, mempreventif masalah DBD yang ada di kabupaten masing-masing. Kalau sekarang Minahasa jadi center,” tegas Sekretaris Komisi IV DPRD Sulut, Fanny Legoh, akhir pekan lalu di ruang kerjanya.

Pemerintah kabupaten diharap segera melakukan penindakan sesuai kebutuhan dari masyarakat. Jangan sampai ini menyebar sehingga memperparah keadaan dan berubah menjadi KLB.

“Itu yang dijaga (KLB, red). Kalau sudah KLB sudah berat. Khususnya Dinas Kesehatan jangan sampai RS (rumah sakit, red) full dan terjadi antrian panjang. Akhirnya timbul lagi isu, RS tidak layak lagi,” tuturnya.

Menurutnya, persoalan seperti ini bukan baru sekarang terjadi. Daerah Sulut pernah jadi status KLB di Indonesia. “Makanya instansi terkait perlu melakukan pemantauan setiap saat. Utamanya kejadian yang menjadi titik rawan di Tondano supaya cepat ditangani,” kuncinya.

 

MINAHASA PALING GANAS

Grafik angka korban DBD di sejumlah kabupaten/kota seperti Minahasa, Kota Tomohon, Bitung, Kotamobagu dan Manado, terus bergerak naik. Namun, kasus terparah terjadi di Kabupaten Minahasa.

Data yang dirangkum Media Sulut, kasus DBD di wilayah Minahasa memang mengalami kenaikan tahun ini. Sejak Januari 2018, Dinas Kesehatan mencatat ada 70 kasus DBD yang terjadi. Dari jumlah tersebut, nyawa 6 pasien tak terselamatkan dan berujung kematian.

Kini, penyebaran rawan terjadi di wilayah Tondano dan sekitarnya. Kasus DBD teranyar dilaporkan terjadi di Kelurahan Watulambot Kecamatan Tondano Barat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr Yuliana Kaunang MKes tak menampik kondisi tersebut. Bahkan, kata dia, Minahasa kini berstatus daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit DBD.

"Yang namanya kematian pasti daerahnya akan berstatus KLB. Apalagi korban DBD di Minahasa sudah mencapai 6 orang, terhitung sejak awal tahun ini. Terakhir di bulan Agustus ini ada satu kasus kematian yang terjadi di Watulambot," papar Kaunang.

Disentil soal upaya penanganan dari pemerintah untuk menyetop penyebaran DBD, Kaunang mengaku segala bentuk upaya pencegahan terus dilakukan. Ketika menerima informasi ada kasus DBD, pihaknya bersama Dinkes Provinsi Sulut langsung ke lapangan untuk melakukan pencegahan di lokasi kejadian dengan metode pengasapan atau foging.

"Selama ini setelah kami menerima laporan ada kasus positif DBD maka langkah awal yang kita tempuh adalah antisipasi penyebaran dengan cara pengasapan atau foging. Baru-baru ini kita telah melakukan foging secara serentak bersama Dinkes Provinsi Sulut. Sebelumnya kita memang rutin melakukan foging juga di lokasi-lokasi kasus. Intinya upaya itu dilakukan untuk membunuh nyamuk yang membawa dan menularkan penyakit DBD," katanya lagi.

Pencegahan, lanjut dia, bahkan dilakukan di tiap pelosok daerah. Petugas Puskesmas di tiap kecamatan selalu standby sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) bilamana ditemukan ada kasus DBD.

"Sejauh ini petugas Puskesmas sudah melakukan tugasnya dengan baik sesuai SOP, baik itu upaya pencegahan penyebaran maupun penanganan pasien DBD. Ini yang terus kita lakukan setiap menerima laporan kasus DBD," tandas Kaunang.

 

 

 

BITUNG SUDAH 120 KASUS

Angka kasus DBD yang cukup tinggi tercatat di Kota Bitung. Data yang dikantongi Dinkes Kota Bitung hingga akhir Juni 2018 saja sudah ada 120 kasus. Data mencatat, sudah ada satu korban meninggal dunia.

Kepala Dinkes Bitung, Franky Soriton menjelaskan, tahun 2018 ini, di bulan Januari terdapat 35 kasus. Pada bulan Februari 23 kasus. Di bulan Maret 23 kasus dan pada bulan April tercatat 21 kasus. Di bulan Mei menurun menjadi 3 kasus namun meningkat lagi di Juni dengan 15 kasus.

"Jadi hingga akhir Juni sudah ada 120 kasus. Kasus paling banyak terjadi di wilayah Bitung Barat dan Pateten dan beberapa wilayah lainnya. Pada bulan April lalu, ada satu pasien, bayi berusia 1,5 tahun yang meninggal dunia," jelas Soriton akhir pekan lalu.

Diakui, berbagai upaya terus dilakukan Dinkes Kota Bitung untuk menanggulangi bahkan mencegah penyakit DBD.

 

TOMOHON WASPADA

Teror DBD tak kalah dahsyat di Kota Tomohon. Informasi menyebutkan, puluhan warga telah ‘digoyang’ penyakit mematikan itu.

Data Dinas Kesehatan Daerah (Dinkesda) Kota Tomohon, sebanyak 46 orang dinyatakan positif terinfeksi penyakit DBD. Itu merupakan akumulasi kasus dari Januari hingga 20 Agustus 2018.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tomohon, dr Deesje Liuw MBiomed melalui Sekretaris Dinas (Sekdis) Johny Kereh SKM MKes memaparkan, jumlah tersebut tersebar di 5 kecamatan se-Kota Tomohon dan wilayah 7 Puskesmas.

"Ke-46 warga yang terserang DBD, saat ini sudah sembuh. Di Kota Tomohon sendiri, hingga hari ini (kemarin-red) tidak ada kasus kematian. Yang ada hanya kejadian penyakit DBD," ungkap Kereh didampingi Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Lingkungan Sehat (P3LS), Marthen Manua.

Terkait hal itu, Dinkesda Tomohon intens mengingatkan masyarakat soal kebersihan lingkungan. Apalagi saat memasuki masa peralihan musim panas ke hujan. Untuk itu, lanjut Kereh, pihaknya gencar melakukan langkah preventif. Mulai dari penyuluhan, pemeriksaan epidemologi (penelitian lokasi bertumbuhnya jentik nyamuk) sampai pengasapan.

"Kita juga sudah melakukan pertemuan lintas sektor di beberapa kecamatan. Dalam kegiatan ini, Dinkes melalui Bidang P3LA menginformasikan tentang tren-tren waktu yang memiliki kerawanan munculnya DBD," terangnya.

Namun, menurut Kereh, yang paling utama adalah kesadaran masyarakat tentang lingkungan bersih dan sehat. Sebab, cara paling jitu untuk mencegah DBD atau pun memerangi pertumbuhan nyamuk aedes aegypti adalah menjaga kebersihan lingkungan. Polanya, mengimplementasikan 3M plus di lingkungan rumah.

Pertama, menutup tempat-tempat penampungan air. Kedua, menguras penampungan air agar jentik mati. Ketiga, mengubur barang bekas semisal kaleng, botol plastik atau kaca, gelas air mineral dan benda-benda yang berpotensi jadi tempat bertumbuh nyamuk. Plusnya, memanfaatkan barang bekas menjadi benda yang berguna.

Dinkes pun berharap, masyarakat bisa meningkatkan cara-cara pemberantasan sarang nyamuk dengan 3M plus. Diuraikanya, pengasapan atau foging, bukan satu-satunya cara pemberantasan penyakit DBD. Cara paling utama adalah penerapan pola 3M plus. Sebab, foging itu racun.

"Apa pun manfaatnya, foging tetap beresiko terhadap kesehatan tubuh manusia dan pastinya ada polusi. Jadi, diingatkan lagi kepada masyarakat untuk menjaga lingkungan bersih dengan pola 3M plus. Marilah kita jaga bersama kebersihan lingkungan sehingga Kota Tomohon terbebas dari DBD," pungkas Kereh.

Diketahui, DBD disebabkan virus yang ditularkan nyamuk aedes aegypti ke manusia melalui gigitan. Nyamuk jenis ini bukan bertumbuh di air kotor. Melainkan bertelur di air jernih. (tim ms)

 


Komentar