ISPA Tembus 23.679 Kasus di Minahasa


Tondano, MS

Teror penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) di Kabupaten Minahasa meninggi. Jumlah warga yang terpapar dilaporkan terus mengalami peningkatan. Sejak Januari hingga Agustus 2019, total ada 23.679 kasus ISPA terjadi.

Musim kemarau yang berlangsung sebulan terakhir disinyalir jadi faktor utama yang memicu peningkatan jumlah penderita ISPA. Selain itu, kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi akhir-akhir inirr ikut menyebabkan polusi udara.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr Maya Rambitan MKes merincikan, dari total 23.679 kasus ISPA sepanjang 2019, penderitanya didominasi warga usia 5 tahun ke atas.

"Penderita ISPA dengan usia kurang dari 5 tahun berjumlah 5.588 orang, mencakup 77 penderita pneumoni dan sisanya 5.511 bukan pneumoni. Kalau penderita berusia diatas lima tahun ada 18.091 orang, dimana 50 dinyatakan pneumoni dan sisanya 18.041 bukan pneumoni," urai Rambitan dalam wawancara, Selasa (3/9) kemarin.

Dia menjelaskan, ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia tergolong berbahaya. Kata dia, lnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli).

"Biasanya pneumonia yang terjadi pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia. Infeksi akut ini berlangsung sampai dengan 14 hari, batas 14 hari di ambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA berlangsung lebih dari 14 hari," jelas Rambitan.

Gejalanya bervariasi, mulai dari demam, nyeri tenggorokan, pilek dan hidung mampet, batuk kering dan gatal, batuk berdahak, dan bahkan bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia (radang paru) dengan gejala sesak napas.

Untuk mengantisipasinya, masyarakat diminta lakukan pencegahan, salah satunya dengan menggunakan masker saat berkendara atau beraktifitas di lingkungan berdebu "Masker itu gunanya untuk mengantisipasi terjadinya berbagai penyakit akibat minimnya intensitas curah yang berdampak pada tingginya hempasan debu. Karena kondisi ini potensinya tinggi untuk mempengaruhi tingkat kesehatan manusia saat beraktifitas," jelasnya.

"Memang sering kali masyarakat menganggap remeh, padahal kasus tersebut sangat berpengaruh dan dampaknya bisa berbahaya apalagi pada anak-anak," bebernya.

Sebagai upaya meminimalisir tingginya dampak penderita ISPA di daerah ini, lanjut dia, pihaknya berencana melakukan pembagian masker kepada masyarakat. "Kondisi cuaca yang cukup panas ini mengalami perubahan kesehatan, sehingga tubuh akan melakukan penyesuaian. Pada saat itulah tubuh rentan terserang penyakit," ujarnya.

Rambitan menghimbau, masyarakat dapat segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat, jika terjadi gangguan pernafasan atau masalah kesehatan lainnya.

"Kami juga melaksanakan upaya komunikasi resiko kepada seluruh masyarakat melalui team promkes (promosi kesehatan) di puskesmas yang tugasnya mensosialisasikan dan mempromosikan kesehatan bagi masyarakat," pungkasnya.(jackson kewas)


Komentar