Polisi Akan Usut Kematian Siswa SMP di Manado


AWAN hitam membungkus dunia pendidikan Sulawesi Utara (Sulut) khususnya Kota Manado. Meninggalnya Fanli (14), siswa Sekolah Menengah Pertama Kristen 46 Mapanget Barat, Kota Manado pada Selasa (1/10), jadi pemicu.

Ihwal kejadian, Fanli dihukum lari bersama 5 siswa lainnya yang datang terlambat ke sekolah. Mereka mengelilingi halaman sekolah. Diketahui, saat itu Fanli tiba di sekolah pukul 07.15 WITA.

Karena terlambat, Fanli dan sejumlah temannya dijemur di halaman sekolah selama 15 menit. Setelah itu, para siswa diminta guru berlari mengelilingi halaman sekolah sebanyak 20 kali.

"Siswa tersebut diberikan tindakan fisik berupa lari mengitari lapangan sebanyak 20 kali putaran. Namun baru 4 kali putaran, korban jatuh tersungkur. Sejumlah rekannya juga diberikan tindakan hukuman karena terlambat datang ke sekolah," terang Kapolsek Mapanget, Muhlis Suhani, Rabu (2/10).

Kepolisian belum bisa melaksanakan pemeriksaan terhadap oknum guru lantaran sedang dirawat di Rumah Sakit (RS) AURI. Dia pula tak bisa mengambil resiko untuk melakukan pemeriksaan. Pihaknya saat ini sedang mengumpulkan bahan keterangan untuk proses penyelidikan.

Kejadian itu dibenarkan Kapolresta Manado Kombes Benny Bawensel. "Ada 6 orang terlambat kemudian oleh guru mereka dijemur kurang-lebih 15 menit. Kemudian mereka diperintahkan lari di lapangan," terang Bawensel, kemarin.

"Namun yang bersangkutan saat memasuki putaran keempat jatuh tersungkur," sambung dia.

Korban langsung dibawa ke RS AURI, lalu dirujuk ke RS Malalayang. Korban dinyatakan tim dokter sudah meninggal dunia saat tiba di rumah sakit. "Namun sampai di rumah sakit yang bersangkutan meninggal dunia," lugas Bawensel.

"Sejak kejadian, gurunya masuk rumah sakit, syok, dan sekarang masih di rumah sakit. Tensinya sempat naik," ujar Bawensel seperti dilansir detik.com.

"Kita melakukan penyelidikan. Kita akan melihat apa ada unsur kelalaian."

Selain mendalami keterangan para saksi dari pihak sekolah, siswa teman korban, dan keluarga, polisi menunggu hasil autopsi. Jenazah Fanli diautopsi di RS Bhayangkara. "Untuk mengetahui penyebab kematian korban, kita masih menunggu hasil autopsi dari RS Bhayangkara," kuncinya.

Terpisah, Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan Daerah (Dikbuda) Kota Manado Drs Daglan M Walangitan MPd mengakui sangat menyesal hal itu terjadi. Kekecewaan Daglan, karena saat ini Pemerintah Kota (Pemkot) Manado sedang mengupayakan layanan pendidikan yang berkualitas. "Kita belum bisa banyak memberi komentar tentang hal ini. Kejadian ini sedang ditangani pihak berwajib," tutur Walangitan kepada wartawan di rumah duka, Perumahan Tamara, Kelurahan Mapanget Barat, Lingkungan VIII, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, Rabu (2/10).

Dia mengaku akan tetap berkoordinasi dengan pihak yayasan. Sebab, SMP tersebut sekolah yayasan, walaupun oknum guru tersebut sebagai pegawai negeri di Dinas Dikbud Kota Manado. Selanjutnya, menunggu terkait proses-proses yang sedang dijalankan. "Kami sudah berkomunikasi dengan Bagian Hukum Pemerintah Kota Manado, seperti apa yang akan kita lakukan nanti. Untuk penanganan dan sanksi administratif, kita akan lanksanakan secara objektif," kunci Walangitan seperti dilansir mangunipost.com.

Kabar meninggalnya Fanli langsung viral. Reaksi beragam terlontar dari masyarakat. “Iya, ini kejadian yang sangat memiluhkan bagi kita semua. Dunia pendidikan Sulut bisa tercoreng karena peristiwa ini. Tapi kami berharap, peristiwa dapat diseriusi aparat penegak hukum agar kebenarannya segera terungkap,” ujar Rolly Toreh SH, pengamat hukum Sulut, kemarin.(hendra mokorowu)


Komentar