SULUT PERANG LAWAN RADIKALISME


Manado, MS

 

Gaung perang terhadap radikalisme menggema di Tanah Air Indonesia. Aksi penolakan paham berbahaya ini masif terjadi pasca penikaman Menteri Politik Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkopolhukam), Wiranto. Gerakan senada ‘meletup’ di Sulawesi Utara (Sulut). Sejumlah daerah bumi Nyiur Melambai nyatakan perlawanan.

 

Upaya perlawanan terhadap paham ini diderap Wakil Gubernur (Wagub) Sulut, Steven Kandouw. Langkah itu dengan mendorong sikap toleransi di tengah masyarakat. Kerukunan yang terjadi di Sulut harapannya dapat selalu dipelihara.

 

Ajakan Kandouw untuk secara bersama-sama menjadikan daerah Sulut terjauhkan dari paham radikalisme, mencuat ketika dirinya menjadi pembicara dalam Seminar dan Dialog Kemitraan Tentang ‘Isu-Isu Rasisme dan Intoleransi’, di Aula Kantor Sinode GMIM Kota Tomohon, Jumat (11/10). Saat itu dirinya meminta seluruh komponen warga GMIM agar tampil terdepan melawan rasisme, radikalisme dan intoleran.

 

“Radikalisme dan intoleran itu salah satu paling efektif yakni perkuat GMIM, baik kuantitas tapi terutama kualitas. Agar kualitas GMIM menjadi tinggi dan betul-betul menjalankan apa yang Tuhan perintahkan. GMIM justru yang akan menjadi penangkal paling depan intoleransi dan radikalisme,” kunci Kandouw.

 

Menurutnya, sekarang ini rasisme dan intoleransi mulai menampakkan wujudnya di berbagai lini kehidupan. Makanya harus diatasi semua pihak termasuk GMIM.

 

“Rasisme dan intoleran merupakan kejadian yang nyata dan banyak terlihat dalam kehidupan masyarakat. Banyak ujaran-ujaran berbau rasisme yang mengakibatkan pertengkaran dan perpecahan. Rasisme dan intoleransi sendiri juga memakan korban, Oleh sebab itu kita sebagai warga GMIM harus menanamkan sikap toleransi dan antirasisme sejak dini. Kita harus memiliki sikap saling menghormati orang lain tanpa memandang suku, agama maupun ras seseorang,” kata Kandouw.

 

Lanjut Kandouw, perbedaan-perbedaan yang ada berperan sebagai alat pemersatu, bukan pemecah. Rasisme dan intoleran tentunya sangat berlawanan dengan Pancasila.

 

“Dengan melawan rasisme dan intoleran maka kita dapat mewujudkan Indonesia yang sungguh ber Bhineka Tunggal Ika, menerima perbedaan dan menggunakannya sebagai sarana memperkuat persatuan bangsa,” ungkapnya.

 

Dalam kegiatan tersebut nampak hadir, Ketua Sinode GMIM Pdt Hein Arina, Ketua BPMJ, Ketua BPMJ Wilayah se-Rayon Tomohon, Bitung dan Minut serta Manado. Ia mengatakan, meskipun berbeda suku, agama dan ras, seluruh masyarakat di muka bumi adalah sama-sama ciptaan Tuhan sehingga harus saling mengasihi dan menghormati.

 

SANGIHE-MINSEL TINGKATKAN KEWASPADAAN

 

Insiden penyerangan terhadap Menkopolhukam Wiranto, membuat daerah-daerah di Sulut kian waspada. Upaya menangkal masuknya terorisme dilakukan.

 

Kepala Kepolisian (Kapolres) Sangihe, AKBP Sudung F Napitu SIK, mengajak personil Polres Sangihe meningkatkan kewaspadaan. Dikarenakan, insiden yang menimpa Wiranto, mengandung radikalisme. Kapolres mengatakan, ini menjadi keprihatinan terhadap kejadian di daerah Pandeglang. Pada prinsipnya terhadap aliran radikalisme di Sangihe, ada upaya-upaya menyangkut aliran ini dan sudah ada ketentuan yang berlaku. Nantinya ada forum yang memang membahas itu. Sementara peran kepolisian untuk mendeteksi atau memonitor, tetap berharap menggandeng kelompok-kelompok masyarakat yang ada.

"Karena keterbatasan jumlah personil kami, sehingga terkadang aliran radikalisme ini sifatnya terbuka, sehingga mengambil sedikit dari salah satu ajaran agama yang mungkin dipolitisir pada intinya dengan caranya yang dirubah, dan arahnya itu mengarah pada tindakan anarkis, atau radikal, atau mengandung unsur unsur kekerasan," kata Napitu, Jumat (11/10).

Makanya dia menjelaskan, perlu menggandeng juga tokoh-tokoh masyarakat, untuk sama-sama bertanggung jawab mengawasi wilayah Sangihe ini.

"Secara letak geografis memang berbatasan dengan Filipina. Baiknya juga dengan instansi terkait, pihak imigrasi dapat menyambut orang-orang asing yang masuk ke Sangihe menjadi tanggung jawab bersama," ungkap Napitu.

Namun pihaknya tetap berkoordinasi, karena dampak dari situ kan tetap ada di daerah, makanya Polres coba untuk melakukan deteksi. Kemudian kalaupun ditemukan pihak Polres coba memberikan input masukan kepada medianya untuk dicari bagaimana solusinya.

"Artinya solusi sampai dengan apa tindakan-tindakan yang bisa dilakukan oleh daerah-daerah ataupun sampai ke tingkat provinsi," jelas dia.

Menyangkut kejadian Pak Wiranto, tambah Napitu, yang mungkin terlepas dari aliran radikalisme sama terorisme, dari Polres juga akan meningkatan kewaspadaan, karena pada prinsipnya di Sangihe sudah beberapa kali Menteri datang, untuk itu ditekankan kepada anggota untuk meningkatkan kewaspadaan.

"Apabila ada kunjungan ataupun ada kegiatan-kegiatan daerah harus dilakukan gelar pasukan, dirapatkan. Dan pastinya akan melibatkan Satpol PP, TNI. Inilah sebagai bentuk kesiapsiagaan kita, kewaspadaan kita dalam rangka memberikan pelayanan pengamanan," tambahnya.

 

Reaksi serupa digulir jajaran Polres Minahasa Selatan (Minsel). Demi melawan masuknya teorisme, upaya mencegahnya maka dilaksanakan salah satu program di bidang pemeliharaan Kamtibmas yakni ‘Sanjung’ atau Sabtu Berkunjung. Program ‘Sanjung’ ini dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan konsep kegiatan sambang kepada para Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat, serta Tokoh Adat. Hal ini juga dengan mengantisipasi kelompok Radikal atau Terorisme yang hendak masuk di wilayah Minsel dan Mitra.

 

Kapolres Minsel AKBP FX Winardi Prabowo SIK mengungkapkan, program Sanjung ini bertujuan sebagai sarana komunikasi kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan tokoh adat. Itu terkait dengan kondisi kamtibmas di wilayah domisili masing-masing.

“Sanjung atau Sabtu Berkunjung ini merupakan program rutin Polres Minsel dan jajaran dengan rumusan konsep kegiatan yaitu sambang kepada para Toga, Tomas dan Todat. Tujuan Sanjung yaitu sebagai sarana komunikasi juga untuk menyampaikan pesan Kamtibmas,” ungkap Kapolres Minsel saat ditemui, Sabtu (12/10) lalu.

Melalui Program Sanjung, Polres Minsel melibatkan para Toga, Tomas dan Todat untuk menjadi perpanjangan tangan kepolisian dalam mensosialisasikan pesan-pesan ataupun himbauan kamtibmas.

Terpantau para pejabat utama dan perwira serta Kapolsek jajaran Polres Minsel melaksanakan kegiatan berkunjung ke desa-desa dan kelurahan menemui para Tokoh Agama (Toga), Tokoh Masyarakat, serta Tokoh Adat, untuk menyampaikan pesan kamtibmas.

“Disamping itu, program Sanjung ini menjadi wadah penyaluran aspirasi dan informasi dari para Toga, Tomas dan Todat, terkait situasi kamtibmas agar Polisi dapat lebih mudah dalam melakukan pemetaan guna menentukan kebijakan mengantisipasi potensi kerawanan kamtibmas,” tutup Kapolres.

 

Selain itu, suara Polres Minsel pula menggelar kegiatan bertajuk ‘Gerakan Indonesia Damai-Menolak Radikalisme’. Ini disampaikan mengisi rangkaian acara Modoinding Potato Festival 2019. Hajatan akbar Modoinding Potato Festival atau Festival Kentang yang digelar di Kecamatan Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan, Sabtu (12/10) lalu, dihadiri ribuan warga yang datang dari berbagai daerah Propinsi Sulut.

Terpantau, puluhan personel Polres Minsel, selain melaksanakan tugas pengamanan kegiatan Festival kentang ini, juga tampak membagikan bunga kepada jajaran Forkopimda, TNI, serta segenap warga yang menghadiri acara festival kentang ini.

“Pemberian bunga ini sebagai lambang perdamaian dan kebersamaan serta untuk memperkokoh rasa persaudaraan, persatuan dan kesatuan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika,” ungkap Kapolres Minsel AKBP FX. Winardi Prabowo, SIK.

Polres Minsel juga tampak mengikutsertakan kontingennya dalam Pawai Festival dalam bentuk parade kendaraan dinas yang memuat spanduk bertuliskan ‘Gerakan Indonesia Damai – Menolak Radikalisme’.

“Gerakan ini untuk kembali mengingatkan bahwa kita semua bersaudara, kita Indonesia yang berideologi Pancasila. Kami juga menyerukan agar segenap warga khususnya di wilayah Minsel untuk sama-sama menolak radikalisme dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ungkap Kapolres Minsel AKBP FX. Winardi Prabowo SIK.

Adapun kegiatan bagi bunga dalam Gerakan Indonesia Damai ini dipelopori oleh para personel Polisi Wanita (Polwan) Polres Minsel yang digawangi oleh Kabag Ren Kompol Juli Bandangan, SH, dan Kasi Propam Ipda Betsy Lumi.

Event akbar ‘Modoinding Potato Festival 2019’ berlangsung aman, lancar dan tertib serta berakhir dalam situasi kondusif dengan penjagaan dan pengawalan puluhan personel gabungan Polres Minsel.

 

SELURUH ELEMEN DIDORONG CEGAT RADIKALISME

 

Reaksi penolakan terhadap radikalisme pun ikut mengiang dari kalangan aktifis. Gerak perlawanan atas paham ini didorong untuk bisa dilakukan seluruh elemem masyarakat.

 

Problem ini dirasa perlu menjadi perhatian serius. Jangan sampai radikalisme menyebar ke pemikiran-pemikiran manusia. Dengan demikian menjadi pemicu terjadinya aksi terorisme. "Masalah ini perlu diselesaikan bersama. Bukan hanya pihak keamanan atau pemerintah. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat," ungkap aktifis Sulut, Eka Egeten.

 

Upaya menangkalnya juga harus dilakukan tokoh-tokoh agama. Pendidikan yang baik harus ditanamkan dalam kehidupan generasi muda. Perlu menjauhkan akar kebencian terhadap sesama. "Bila paham-paham radikalisme ini cepat diatasi tentu tidak akan ada terorisme terjadi," ujarnya.

 

Keterlibatan komunitas masyarakat sangat perlu. Paling penting di lingkungan,

lembaga pendidikan, keluarga dan lingkungan masyarakat. "Mencegah terorisme menjadi sangat penting, apalagi sudah menyangkut generasi muda," jelas pengamat sosial Sulut, Helena Sulu.

 

Baginya, terorisme mempunyai akar dan jaringan yang kuat. Makanya, penelusuran mengenai paham-paham ini perlu dilakukan. "Hal itu karena terorisme adalah aksi kejahatan yang sangat memecah belah kesatuan bangsa," tutupnya.

 

Diketahui sebelumnya, seruan perlawanan terhadap radikalisme telah dikumandangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seluruh masyarakat diminta melawan bersama-sama, menyusul insiden penusukan Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10).

 

"Kepada seluruh masyarakat, saya mengajak bersama-sama untuk memerangi radikalisme dan terorisme di tanah air kita. Hanya dengan upaya bersama-sama, terorisme dan radikalisme bisa kita selesaikan dan berantas dari negara yang kita cintai," ujar Jokowi usai menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

 

Selanjutnya, Ketua MPR Bambang Soesatyo meminta pihak kepolisian segera membongkar jaringan ISIS yang diduga menyerang Wiranto di Menes, Banten.

 

"Kita minta kepolisian mendalami lagi dugaan tersebut dan membongkar jaringan kalau memang seperti itu," tegas Bamsoet di Kompleks MPR/DPR, Senayan, Jakarta.

 

Lebih lanjut, politikus Partai Golkar itu mengatakan polisi seharusnya bisa mengusut tuntas persoalan penusukan itu dengan cepat. Ia pun berharap jaringan ISIS bisa dibongkar sampai akar-akarnya.

 

"Polisi kalau memungkinkan, kalau ada indikasi pelaku terpapar ya dibongkar sampai ke akar-akarnya," pintanya.

 

Bamsoet berencana melakukan sosialisasi nilai-nilai Pancasila di wilayah rawan penyebaran paham ISIS. Ia mengaku akan bekerja sama dengan kepolisian untuk memetakan wilayah yang rawan tersebut.

 

"Kemarin Menko Polhukam pernah menyampaikan hal tersebut dan harus ditindaklanjuti," tambah Bamsoet.

 

Tak hanya itu, Bamsoet juga meminta kepada para pejabat lain agar lebih berhati-hati menjaga situasi keamanan. Sebab, para pejabat harus mengantisipasi peristiwa yang tak terduga-duga bisa terjadi dan kapanpun.

 

Di tempat terpisah, Wakil Ketua MPR Ahmad Muzani menyatakan prihatin dengan peristiwa penyerangan yang menimpa Wiranto. Menurutnya, peristiwa itu harus menjadi perhatian serius bagi aparat dalam menjaga keamanan pejabat negara.

 

"Saya kira ini harus menjadi perhatian yang sangat serius bagi aparat keamanan untuk menjaga keselamatan bagi para pemimpin dan para pejabat negara," ujar Muzani di kediaman Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri, Jakarta.

 

Muzani menuturkan, aparat keamanan harus meningkatkan pengamanan bagi pimpinan atau pejabat negara ke depan agar peristiwa serupa tidak terulang. Sebab, ia menilai serangan secara membabi buta terhadap Wiranto dapat mengancam nyawa.

 

Lebih lanjut, politisi Gerindra ini berharap Wiranto segera sehat dan bisa menjalankan aktivitas kembali sebagai Menko Polhukam.

 

"Kami sangat prihatin dan berdoa mudah-mudahan Pak Wiranto bisa segera sehat kembali untuk menjalankan tugas-tugas berikutnya," kuncinya. (sonny dinar/servi maradia/ haman palandung)


Komentar