Selamatkan ‘Pohon Raksasa’ di Pantai Alar

Warga Minta Dinas PU Tidak Gegabah


Laporan: Rul Mantik

Amurang, MS

Proyek reklamasi Pantai Alar, dilanjutkan. Ribuan kubik tanah dan batu, ditimbun di pantai yang penuh kenangan itu. Belasan pohon berusia ratusan tahun? digeruduk. Riuh cuit burung yang biasa terdengar, lenyap.

Terkini, penimbunan sudah mendekati rumah dinas Bupati Minahasa Selatan (Minsel). Ratusan pohon besar di sepanjang Pantai Alar, kembali terancam. Kendati sudah beberapa pohon yang ditumbangkan, warga Kelurahan Pondang masih berharap aksi itu tidak dilakukan secara terus menerus. "Kami berharap sisa pohon Bitung yang masih berdiri, tidak dirobohkan. Sebab, pohon yang berusia ratusan tahun seperti itu sudah sangat langka," kata Tommy Suoth, mantan Lurah Pondang, Kecamatan Amurang Timur, Rabu (19/9) kemarin.

Dijelaskan Suoth, rencana untuk menanam pengganti pohon yang ditumbangkan dengan pohon baru, tidak menjadi jawaban yang tepat. "Harus menunggu 100 sampai 400 tahun datang, baru pohon pengganti itu akan sama. Rugi kan?" semburnya.

Dahulu, kata Suoth, pohon Bitung raksasa di sepanjang Pantai Alar, dijadikan tempat berlindung oleh para nelayan. "Sejak saya masih kecil, pohon itu memang sudah besar. Nelayan sering menjadikan pohon-pohon itu sebagai tempat berlindung," ungkap Suoth.

Hal yang sama, juga disuarakan pengunjung Pantai Alar. Menurut mereka, sebaiknya pohon-pohon besar di pesisir Pantai Alar, tidal dirobohkan. "Nilai historis dari pohon-pohon besar ini sangat besar. Bayangkan saja, sejak ratusan tahun, pohon ini menjadi tempat berteduh nelayan setempat," ujar Stenly Tambaani.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Minsel, Ruddy Tumiwa mengatakan, mereka tengah melakukan evaluasi untuk meneruskan proyek berbanderol Rp35 miliar itu. "Akan kami evaluasi dan kaji ulang, siapa tahu ada jalan keluar untuk mengakomodir aspirasi masyarakat," katanya.(rul mantik)


Komentar