VIRUS CORONA ANCAM BUNUH EKONOMI GLOBAL


Jakarta, MS

 

Corona terus merayapi berbagai belahan dunia. Wabah virus ini tak hanya jadi ancaman mematikan bagi China tapi juga bagi dunia. Para pakar menakar, kondisi ekonomi global pun kans terjungkal.

 

The New York Times pekan lalu sempat menuliskan, virus corona dapat menjadi ancaman serius bagi ekonomi global yang bisa berujung pada krisis.

 

Dalam artikel yang di publikasi pekan lalu, dengan judul How China’s Virus Outbreak Could Threaten the Global Economy, dipaparkan kejatuhan pasar keuangan dunia pada Kamis (23/2). Di mana kejadian tersebut diindikasikan sebagai sinyal ketakutan akan krisis ekonomi global.

 

Ketakutan makin menjadi kala tingkat keparahan virus corona tampak semakin nyata. Dari data pemerintah China, setidaknya 80 orang tewas karena terjangkit virus tersebut.

 

Pemerintah China sampai mengambil tindakan melakukan isolasi Wuhan, kota tempat sumber virus, untuk mencegah korban jatuh lebih banyak. Ini menyebabkan mobilitas penduduk setempat.

 

Virus corona telah membuat ketidakpastian di China. Pasalnya penyebaran virus bertepatan dengan liburan Tahun Baru Imlek - yang biasanya akan mendorong perjalanan, belanja, dan pemberian hadiah.

 

Stasiun kereta api dan bandara menjadi sepi. Karena para penumpang langsung merubah rencana perjalanan meskipun ada libur selama sepekan.

 

Di benak banyak orang di China dan di seluruh dunia saat ini muncul pertanyaan, bisakah virus baru ini menyebabkan kerusakan yang sama seperti epidemi SARS, yang menewaskan 800 orang pada tahun 2003.

 

Masalah yang paling krusial sebenarnya adalah bagaimana nasib ekonomi Negeri Panda ini. Karena ekonomi China selama bertahun-tahun menjadi salah satu mesin pertumbuhan paling kuat di dunia. Kehancuran di Tiongkok bisa membuat pekerjaan terhambat dan pertumbuhan di tempat lain.

 

Pertumbuhan China pada tahun 2003 sempat anjlok selama puncak epidemi SARS. Namun pulih kembali ketika perusahaan-perusahaan global membangun pabrik-pabrik China dan mengekspor lebih banyak barang di luar negeri.

 

Sekarang, ekonomi China memang sudah tumbuh lebih besar dibanding 2003, tetapi saat ini China sedang mengalami perlambatan pertumbuhan paling buruk dalam tiga dekade terakhir. Perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicunya dan desakan agar pemerintah melepas ketergantungan perusahaan lokal pada pinjaman.

 

Untuk saat ini, dampaknya belum jelas. Pihak berwenang tampaknya merespons lebih cepat terhadap wabah ini daripada yang terjadi pada tahun 2003 tetapi kebijakan sensor berita oleh China menghapus apa pun yang membelok dari narasi resmi.

 

Jika dihitung dari jumlah korban, virus corona saat ini tampaknya kurang mematikan dibandingkan SARS, tetapi sulit dideteksi. Meski sudah membatasi perpindahan dari Wuhan, banyak orang sudah berangkat untuk perjalanan liburan mereka.

 

"Ini akan tergantung pada bagaimana China terus transparan dengan komunitas internasional," kata Peter Levesque, Managing Director Modern Terminal, operator pelabuhan di Hong Kong. "Hanya itu yang bisa diminta oleh semua bisnis. Sisanya tidak diketahui."

 

Sebenarnya, Wuhan sangat penting untuk perdagangan di wilayahnya di China. Kota ini adalah pusat transportasi nasional utama dan telah menjadi pusat pembuatan mobil, dengan pabrik yang membuat mobil untuk General Motors, Honda dan banyak lainnya, serta puluhan pembuat suku cadang mobil. Sehingga efeknya pada orang-orang di seluruh negeri bisa menjadi faktor yang lebih penting.

 

Dalam jangka panjang, China ingin konsumennya membelanjakan lebih banyak. Beijing telah berupaya mendorong konsumsi lebih banyak yang serupa dengan AS sehingga ekonomi China tidak hanya bergantung pada proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur besar yang sering menerima pembiayaan pemerintah. Tapi perubahan itu membuat Cina lebih rentan terhadap peristiwa yang membuat takut pembeli.

 

Sementara itu, Washington Post sempat menuliskan, kejatuhan pasar saham keuangan pekan lalu dipicu oleh ketakutan akan terganggunya pertumbuhan ekonomi China.

 

"Gangguan ini datang pada saat pertumbuhan ekonomi China sudah terlihat rapuh, dan sayangnya akan membatalkan beberapa dorongan dalam sentimen konsumen dan bisnis dari China-AS. Kesepakatan perdagangan," ujar ekonom Eswar Prasad, mantan kepala unit Dana Moneter Internasional China.

 

"Penyebaran yang lebih luas dari penyakit ini memiliki potensi untuk mengganggu perjalanan, perdagangan, dan rantai pasokan di seluruh Asia, dengan efek knock-on pada ekonomi dunia, karena Asia sekarang merupakan pendorong utama pertumbuhan global," tandasnya.

 

 

 

EKONOMI INDONESIA IKUT TERANCAM

 

Dunia kesehatan belakangan ini dihebohkan dengan munculnya virus bernama corona. Penyebaran virus asal China tersebut tak hanya membuat orang sakit hingga meninggal, tapi juga buat ekonomi bisa sengsara.

 

Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE) Piter Abdullah mengatakan, virus corona berdampak berbahaya bagi perekonomian yang wilayahnya terkena dampak, khususnya di China itu sendiri.

 

"Kalau China itu dampaknya sangat besar, produktivitas daerah Wuhan otomatis akan terhenti. Kegiatan ekonomi akan terhenti di situ, otomatis akan mempengaruhi output pada daerah yang terdampak," sebut Piter seperti ditulis detik.com, Minggu (26/1).

 

Akibat virus ini, beberapa sektor ekonomi lumpuh di Wuhan. Apalagi virus ini merebak saat libur tahun baru imlek yang harusnya jadi momentum untuk mendongkrak ekonomi melalui sektor konsumsi, perjalanan dan pariwisata.

 

"Yang sudah kena dampaknya cukup signifikan hanya China saat ini karena kalau di China daerah Wuhan itu diisolasi dan kegiatan ekonomi di sana terhenti jadi dampaknya besar," terangnya.

 

Piter belum mengetahui seberapa besar virus ini akan berdampak bagi perekonomian Indonesia. Yang jelas, semua tergantung pada seberapa tanggap pemerintah Wuhan mengatasi virus ini. Semakin lama virus ini dibiarkan, semakin besar pula kerugian yang didapat.

 

"Kalau tidak bisa diatasi dengan cepat maka dampaknya lebih signifikan. Tapi kalau dalam waktu 2-3 bulan bisa diatasi maka dampaknya bisa diminimalkan," ucapnya.

 

Saat ini virus corona memang belum memberikan dampak terlalu signifikan ke Indonesia. Namun jika dibiarkan dan semakin merebak, tak menutup kemungkinan dampak bisa meluas ke Indonesia.

 

"Menurut saya dampaknya masih sangat minimal (di Indonesia) saat ini. Beberapa kegiatan yang kaitannya dengan ekspor impor ke China mungkin akan turun, tapi saya kira tidak cukup besar," nilainya.

 

 

 

PREDIKSI MENGERIKAN BILL GATES

 

Dunia tengah dalam kekhawatiran terkait merebaknya virus corona. Pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China, virus corona saat ini sudah merebak ke 13 negara di berbagai belahan dunia. Virus yang disebut mirip Sindrom Pernapasan Akut Parah (SARS) ini telah menjangkiti ribuan orang dan membunuh puluhan orang di China.

 

Menyoal virus mematikan tersebut, Bill Gates ternyata sudah memprediksi ancaman virus tersebut sejak tahun 2018. Menurutnya, wabah virus mematikan jadi ancaman ketiga terbesar di dunia. Dua ancaman lainnya yakni perubahan iklim dan perang nuklir.

 

"Dunia perlu mempersiapkan diri terkait wabah yang harus kita persiapkan sebagaimana kita mengantisipasi perang," ucap Bill Gates seperti dikutip dari Business Insider, Senin (27/1).

 

Pendiri Microsoft ini menyamakan wabah corona saat ini dengan wabah flu yang terjadi di tahun 1918 yang menewaskan jutaan penduduk bumi. Masa inkubasi virus tersebut antara 1 hingga 14 hari. Kemungkinan jumlah kasusnya akan terus meningkat.

 

Corona virus baru, imbuhnya juga menular selama inkubasi yang berbeda dari SARS. Sebelum ramai ditemukannya virus corona ini, China pernah digegerkan oleh SARS pada 2003-2004. Saat itu epidemi SARS disebabkan oleh kebiasaan orang China memakan musang.

 

Kasus pertama SARS di dunia tercatat di Guangdong pada November 2002. Dilansir dari Organisasi Kesehatan Dunia, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), SARS membunuh hampir 800 orang di dunia.

 

Tidak hanya itu saja, virus H5N1, flu burung juga muncul di China pada 1997. Pertama kali terdeteksi pada angsa di Cina dan bermutasi ke manusia dari unggas yang terinfeksi.

 

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tengah melakukan sidang apakah penyebaran virus corona ini bisa dikategorikan masuk sebagai situasi darurat yang perlu jadi perhatian dunia atau Public Health Emergency of International Concern (PHEIC).

 

Kasus pertama virus corona terjadi pada 8 Desember 2019 lalu. Virus tersebut dengan cepat menyebar dan menyebabkan banyak orang terkena pneumonia akut. Pemerintah China menduga, virus tersebut bermula dari konsumsi hewan liar yang ada di pasar hewan di Kota Wuhan.

 

Berbagai negara meningkatkan kewaspadaannya. Orang-orang yang baru saja pergi dari Wuhan dan China diperiksa secara intensif, bahkan saat ini ditingkatkan menjadi tindakan isolasi. Virus corona diketahui telah menyebar ke 13 negara. Negara-negara tersebut adalah Kanada, China, Jepang, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Vietnam, Nepal, Perancis, dan Australia.

 

Corona adalah virus yang menyerang sistem pernafasan manusia. Gejala awalnya mirip seperti flu biasa yang diawali dengan demam, pusing, batuk, pilek, radang tenggorokan dan badan lemas. Namun seiring berjalannya waktu virus ini menyebabkan pneumonia ganas yang mematikan.

 

 

 

PICU KEPANIKAN GLOBAL

 

Sebuah hasil penelitian dikuak para ahli. Sumber virus yang menyebabkan wabah SARS, MERS dan corona saat ini adalah berasal dari kelelawar, musang, dan unta. Hewan-hewan itu menjadi tempat inang virus sementara dari kelelawar ke manusia.

 

Pada kasus wabah virus corona 2019, laporan menyatakan sejumlah pasien yang terjangkit adalah para pekerja atau konsumen pasar hewan lokal yang menjual selain daging olahan juga hewan hidup seperti unggas, keledai, domba, babi, unta, rubah, musang, tikus bambu, landak, dan reptil.

 

Karena tidak pernah ada laporan yang menyebut virus corona menjangkiti hewan air, maka kemungkinan besar virus corona berasal dari hewan-hewan darat yang dijual di pasar hewan.

 

Peneliti kemudian menganalisis kode protein dari virus baru ini dan membandingkannya dengan kode protein dari virus corona yang ditemukan di berbagai inang hewan seperti burung, ular, marmut, landak, kelelawar, dan manusia.

 

Ternyata mereka menemukan kode protein di 2019-nCoV (kode genetik virus corona) yang paling menyerupai kode genetik virus yang ada di ular. Ular kerap memangsa kelelawar di alam liar.

 

Laporan juga menyatakan ular dijual di pasar makanan laut di Wuhan dan itu semakin menguatkan kemungkinan 2019-nCoV boleh jadi berpindah dari inangnya, yaitu kelelawar ke ular dan kemudian ke manusia ketika awal mulai virus ini merebak hingga menimbulkan kepanikan global karena mulai menyebar ke sejumlah negara, dari Prancis, Rusia hingga Amerika Serikat. (*)


Komentar