SOPUTAN MENGAMUK, SULUT SIAGA


Manado, MS

 

Stabilitas Nyiur Melambai ‘guncang’. Erupsi Gunung Soputan, Rabu (3/10) kemarin, picu ketegangan. Dampak terparah terjadi di wilayah selatan Tanah Melesung. Seruan kewaspadaan membahana.

Letusan Gunung Soputan dilaporkan pertama kali terjadi sekitar pukul 08.45 Wita. Material vulkanik terlontar dengan ketinggian sekira 5 ribu meter dari kawah. Informasi yang dirangkum media ini, debu vulkanik tersapu angin ke arah barat daya menuju Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

"Dari hasil pengamatan kami, tinggi kolom asap saat erupsi pertama diperkirakan mencapai 3.000 sampai 4.000 meter di atas permukaan laut," beber Asep Saifullah, Kepala Pos Pengamatan Gunung Soputan di Desa Silian, Kecamatan Tombatu.

Hingga tadi malam, aktifitas vulkanologi masih berlangsung. Asep menyebut, petugas pos pemantau mencatat adanya tremor serta beberapa letusan di puncak gunung. Namun, dia belum bisa memastikan kapan aktifitas vulkanik mereda.

"Yang pasti sejak terjadi erupsi status siaga sudah ditetapkan dengan radius 4 kilometer dari puncak dan perluasan sektoral barat dan barat daya sejauh 6,5 kilometer. Selama adanya aktifitas vulkanologi, warga jangan melakukan aktifitas di kawasan gunung untuk menghindari terjadinya guguran lava maupun awan panas,” jelas Asep sambil menerangkan jika pemantauan aktifitas gunung akan terus dilakukan pihaknya.

 

DEBU VULKANIK GUYUR MINSEL

Dampak terparah erupsi Gunung Soputan dirasakan warga Kabupaten Minsel. Angin yang bertiup ke arah barat daya membawa jutaan kubik material vulkanik. Hujan abu dilaporkan mengguyur belasan desa di Kecamatan Amurang dan Tumpaan, termasuk kawasan pusat pemerintahan. Paling parah terjadi di Desa Maliku Raya, Kota Menara, Ritey dan sebagian Tareran.

Namun, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minsel, Meidy Maindoka menyebut, efek erupsi Gunung Soputan tidak terlalu mengganggu warga Minsel. "Abu letusan Gunung Soputan sebagian memang mengarah ke wilayah Kabupaten Minsel, namun hingga saat ini belum ada warga yang dievakuasi," aku Maindoka, Rabu kemarin.

Meski begitu, warga diminta tetap waspada jangan sampai ada letusan susulan lebih besar yang mengarah ke Minsel. "Tapi tentunya kita berdoa supaya hal itu tidak terjadi," tuturnya.

Untuk langkah antisipasi yang ditempuh pemerintah saat ini, diantaranya dengan pembagian masker untuk mencegah potensi penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Selain itu, tim BPBD Minsel juga terus melakukan pemantauan hingga di Desa Kota Menara, wilayah yang paling dekat dengan lokasi gunung.

"Intinya kami terus melakukan pengawasan di lapangan. Koordinasi dengan sejumlah SKPD juga terus kami lakukan," pungkas Maindoka.

Sementara Bupati Minsel, Christiany Eugenia Paruntu ekstra kerja keras dengan terus melakukan pantauan di sejumlah wilayah. Mengantisipasi dampak buruk yang terjadi, dia meminta warganya menghindari zona terlarang yang telah ditetapkan.

"Saya mengimbau seluruh warga Minsel, khususnya yang dekat dengan Gunung Soputan, untuk tidak mendekati kawah gunung sampai 4 kilometer. Jarak itu terlalu berbahaya," imbau Tetty, sapaan akrab Bupati Minsel.

 

JALUR PENDAKIAN DITUTUP

Selain larangan aktifitas masyarakat di zona rawan, jalur pendakian Gunung Soputan juga ditutup selama aktifitas gunung meninggi. Hal itu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Hanya saja, meski sudah ada peringatan untuk tidak melakukan aktifitas diradius 4 kilometer, namun aktifitas pendakian sempat terpantau. Petugas pos pemantau Gunung Soputan sempat mendeteksi adanya aktifitas pendakian sebelum erupsi. “Saat subuh sebelum erupsi kami memantau dari pukul 03:00 Wita sampai 05:00 Wita adanya aktifitas pendakian di dekat puncak dengan terlihat cahaya senter melalui teropong, pada beberapa titik di lereng kaki gunung hingga titik ketinggian 500 meter,” beber Asep.

Kapolres Minsel-Mitra AKBP FX Winardi Prabowo melalui Kepala Bagian Operasi Kompol Jacky Lapian menyatakan, pihaknya masih menelusuri keberadaan para pendaki tersebut. “Kami masih mencoba menelusuri soal informasi tersebut, sebab hingga kini kami belum menerima informasi terkait adanya orang hilang. Namun kami memintakan masyarakat untuk menghentikan aktifitas pendakian di Gunung Soputan,” tegasnya.

Hal yang sama diberlakukan untuk jalur pendakian dari wilayah Minahasa. Kapolsek Langowan Iptu Mardy Tumanduk menyebut bahwa pihaknya telah mengeluarkan larangan bagi pendaki untuk masuk ke zona rawan. "Yang jelas pendakian dilarang karena sangat berbahaya dan mengancam keselamatan," tandasnya.

 

MINAHASA-MITRA (MASIH) AMAN

Sejauh ini, dampak erupsi dilaporkan menerjang sebagian wilayah di Kabupaten Minsel. Sementara dua daerah yang berdekatan dengan Gunung Soputan, yakni Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) dan Minahasa relatif aman.

Pergerakan angin yang cenderung ke arah barat daya pasca terjadinya erupsi membuat dua daerah tersebut tak terkena imbas letusan.

"Memang ada dua desa di Kawangkoan yang dilaporkan ikut terkena hujan debu yaitu Ranolambot dan Tombasian, namun intensitasnya tidak terlalu parah," papar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mihahasa, Yohanis Pesik.

Melihat kondisi saat ini, dia mengatakan bahwa sejauh ini wilayah Minahasa masih bisa dikatakan aman dari dampak erupsi. Namun dia menghimbau warga untuk tetap waspada. Sebab pergerakan angin sewaktu-waktu dapat berubah.

"Jadi selama angin tidak bertiup ke arah timur atau selatan maka wilayah kita akan aman dari debu vulkanik. Tapi tentunya harus tetap waspada, sebab gejala alam tidak mudah untuk diprediksi. Namun intinya sampai saat ini kita terus berkoordinasi untuk mengetahui perkembangan dan situasi wilayah," tandas Pesik.

Kondisi yang sama berlaku di wilayah Mitra. Bahkan Desa Silian, Tombatu, yang sering terdampak kali ini dikabarkan masih aman dari hujan abu vulkanik.

Bupati Mitra James Sumendap tetap meminta warga untuk dapat mewaspadai erupsi Gunung Soputan, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. “Saya himbau warga untuk dapat mewaspadai erupsi Gunung Soputan. Apa yang telah ditetapkan (status siaga, red) harus ditaati seluruh warga  yang ada agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” pesan Bupati.

Meski masih aman dari erupsi, pihak Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Minahasa Tenggara (Mitra) tetap meminta pemerintah agar mengambil langkah antisipatif guna menghindari efek negatif yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

“Pemerintah kabupaten dan instansi teknis yang ada kami dapat mengambil langkah antisipatif terhadap erupsi Gunung Soputan,” ungkap Ketua DPRD Tavif Watuseke.

Langkah antisipatif dinilai sangat penting guna menghindarkan masyarakat dari efek negatif yang dapat ditimbulkan akibat erupsi. “Ini penting agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan bersama. Untuk itu, kami memintakan pemkab dan instansi terkait tanggap dengan hal ini,” tukasnya.

Sementara di lapangan, pihak BPBD Mitra melakukan pemantauan disekitar lokasi Gunung Soputan. Masyarakat yang ada dimintakan untuk tidak mendekat dari jarak yang telah ditetapkan, 4 kilometer, sekaligus mengimbau aktifitas penambangan disekitar gunung tidak dilakukan.

“Bagi masyarakat yang menambang atau berkebun kami minta untuk tidak melakukan aktifitas di sekitar gunung. Termasuk para pendaki untuk tidak melakukan aktifitas mendaki,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Erick Manaroinsong.

 

BNPB TEPIS HOAX SOAL ERUPSI SOPUTAN

Informasi soal erupsi Gunung Soputan dengan cepat menyebar ke berbagai pelosok negeri menyusul beredarnya foto dan video yang diunggah ke media sosial (medsos). Namun ada pula sejumlah foto dan video hoax yang ikut beredar dan telah menjadi viral melalui pesan-pesan yang dibagikan di medsos.

Pesan ini disertai dengan dua video serta dua foto yang memperlihatkan kepulan debu tebal yang membumbung ke angkasa. Video terlihat direkam oleh orang yang sedang menghindar dari lokasi kejadian dengan kendaraan bermotor.

Ada juga video lahar panas berwarna merah yang mengalir deras ke bawah gunung berapi. Sementara dua foto memperlihatkan kepulan asap dari erupsi gunung berapi yang membumbung ke angkasa, serta anak-anak dan warga yang berlepotan lumpur.

Peredaran video dan foto ini mendapatkan tanggapan cepat dari pihak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) RI. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, melalui akun Twitternya @Sutopo_PN menyebutkan pesan itu adalah bohong alias hoax.

“Video ini HOAX. Ini bukan lava Gunung Soputan. Gunung Soputan meletus pada 3/8/2018 pukul 08.47 WITA. Tapi tidak mengeluarkan lava keluar dari kawah. Abaikan dan delete jika menerima video ini di medsos,” tulis Sutopo dalam status yang diunggah pada, Rabu (3/10/2018) pukul 12.39 WIB.

Status itu disertai dengan sebuah video yang memperlihatkan aliran lahar berwarna merah, seperti yang banyak beredar di medsos. Lima menit berselang, Sutopo Purwo Nugroho kembali mengupdate informasi untuk mengcounter berita bohong itu. “Ini bukan letusan Gunung Soputan. Foto ini HOAX. Foto ini rekayasa yang pernah juga disebarkan sebagai letusan Gunung Sinabung tahun 2014. Jangan ikut menyebarkan. Buang saja karena hoax,” cuit Sutopo.

Bersama penjelasan itu, Sutopo melampirkan dua foto yang memperlihatkan asap dan debu tebal erupsi gunung berapi.

Tiga menit kemudian, Sutopo kembali memosting sebuah video yang memperlihatkan erupsi gunung berapi. “Video ini bukan erupsi Gunung Soputan. Ini erupsi gunung di Amerika Selatan. Jika dikatakan erupsi Gunung Soputan, itu HOAX. Abaikan dan jangan ikut menyebarkan di sosial media,” tulisnya.(tim ms/trb)

 


Komentar


Sponsors

Sponsors