ALUMNI 212 TERBELAH


Jakarta, MS

 

Panggung nasional kembali riuh. Sikap politik sejumlah pentolan alumni 212 mendukung Joko Widodo dan Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf) di pemilihan presiden (Pilpres) 2019, jadi pemicu. Sinyal perpecahan mendera kubu ‘pelengser’ Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dari kursi Gubernur DKI Jakarta.

Langkah mengejutkan alumni 212 ini dibuktikan dengan aksi deklarasi di Posko Cemara, Jakarta, Kamis (11/10). Tujuh orang perwakilan kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin, menyatakan dukungan kepada pasangan nomor urut 01, Jokowi-Ma’ruf. "Kami Eks 212 mengajak bersama-sama untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin demi terciptanya Islam yang Rahmatan Lil Alamin di negeri ini," tandas Wakil Ketua Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin, Sulaeman.

Hal senada juga disampaikan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Kapitra Ampera. "Yang pantas untuk dipilih semua peserta Aksi Bela Islam 212, 410 adalah KH Ma’ruf Amin. Tidak boleh ada yang mengklaim itu karena, maaf, Prabowo-Sandi bukan ulama. Kalau ada yang katakan 212 atau PA 212 di situ representatifnya adalah Ma’ruf Amin," tegas Kapitra di Posko Cemara.

Sementara itu, deklarasi dukungan bagi Jokowi-Ma’ruf membawa label 212, karena tergerak oleh opini seakan para alumni 212 mendukung pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga.  "Sepertinya umat tergiring pada satu opini seolah-olah ada kalangan ulama habaib atau kiai yang menamakan dirinya sebagai Persaudaraan Alumni 212 bahkan ada ketumnya, yang sepertinya memutuskan dukungan kepada pasangan Pak Prabowo-Sandiaga Uno," tambah Koordinator Eks 212, Razman Arief Nasution.

Padahal, menurut mantan pengacara Rizieq Shihab ini, lahirnya gerakan 212 karena keluarnya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dipimpin Ma’ruf Amin, terhadap pernyataan Basuki Tjahaja Purnama mengenai surat Al-Maidah 51.

Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama (GNPF-U) saat itu berkomitmen untuk mengawal fatwa yang dikeluarkan Ma’ruf Amin. Oleh karena itu, Razman dan rekan-rekannya mempertanyakan mengapa GNPF malah berpaling.

Diketahui, dalam deklarasi mendukung Jokowi-Ma’ruf ini, ada beberapa pernyataan sikap yang disampaikan Eks 212 Kawal Ma’ruf Amin. Pertama, kami eks 212 mengawal ulama untuk memimpin NKRI KH Ma’ruf Amin jadi calon wakil presiden adalah bukti nyata terkabulnya doa dan perjuangan kami. Kedua, kami eks 212 memperjuangkan aspirasi umat islam mewujudkan pembangunan yang adil sejahtera dan makmur. Ketiga, kami eks 212 meminta kepada pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin untuk memperjuangkan ekonomi syariah pendidikan islam dan pesantren guna penegakan hukum yang adil dan merata di seluruh Indonesia. Selanjutnya, kami eks 212 akan memperjuangkan untuk mengembalikan atau memulangkan kembali habib Rizieq Shihab ke Indonesia tanpa halangan yang berarti.

Hadir dalam deklarasi itu sejumlah tokoh yang mengaku ikut dalam aksi 2 Desember lalu. Dua diantaranya adalah Razman Arif Nasution (Koordinator), Kapitra Ampera (Wakil Koordinator). Ada juga Ketua DPP PKB Lukman Edy. Selain itu, ‘Eks 212 kawal K.H. Ma’ruf Amin’ beranggotakan Kholid Hidayat, Sulaeman, Sayuti, Imam, Kustanto Arief Wibowo, Helmi Herlambang, Abdul Hamid, Ahmad Warno, dan Nursalim.

Aksi ini disinyalir picu keretakan di kalangan peserta aksi 212. Karena, sebelumnya, alumni Aksi 212 yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni (PA) 212 menyatakan tidak akan mendukung Jokowi meski memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presidennya. Menurut juru bicara PA 212, Novel Bamukmin, tidak mendukung Jokowi adalah harga mati siapa pun cawapresnya. "Harga mati untuk kami tidak dukung Jokowi, biar dipasangkan sama siapa saja," ungkap Novel, Kamis (9/8) lalu.

Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin merupakan sekelompok massa pentolan Aksi 212. Dalam aksi itu, jutaan massa umat Islam menggelar aksi bela Islam untuk menuntut proses hukum terhadap Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama. Alasannya, Ahok dianggap menista Al-Qur’an terkait ucapannya tentang Surat Al-Maidah ayat 51.

MINTA RIZIEQ DIPULANGKAN

Relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin telah mendeklarasikan dukungan kepada pasangan Jokowi dan Ma’ruf. Di sisi lain, mereka meminta pimpinan FPI, Habib Rizieq Shihab (HRS) dipulangkan.  

"Kami Eks 212 memperjuangkan untuk mengembalikan atau memulangkan kembali Habib Rizieq Shihab ke Indonesia tanpa halangan yang berarti," tandas Ketua Relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin, Razman Arief Nasution-salah satu kuasa hukum pimpinan Front Pembela Islam (FPI).

Untuk diketahui, pada Juni 2018 lalu, Rizieq dikabarkan akan segera pulang ke Indonesia menyusul keputusan penyidik menghentikan penyidikan kasus chat mesum yang menimpanya. Namun, hingga kini Rizieq tak juga pulang. Selanjutnya, anggota Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Ulama, Damai Hari Lubis juga mengatakan Rizieq Shihab pernah berencana pulang ke Indonesia. Rencana kepulangan Rizieq Shihab, kata Damai, untuk menghadiri peringatan milad FPI ke-20 pada Ahad, 19 Agustus 2018.

PA 212: MEREKA KELUAR GARIS KOMANDO RIZIEQ

Komitmen relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin mendukung Jokowi-Ma’ruf, berbuntut polemik. Sikap Razman Arif Nasution Cs ini dinilai keluar dari garis komando eks pimpinan Aksi 212, Habib Rizieq Shihab.

Ketua Umum Persaudaraan Alumni 212 (PA 212), Slamet Ma’arif menilai, tindakan tersebut adalah sesuatu yang biasa. Meski demikian, ia menilai langkah tersebut menunjukkan bahwa relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf Amin telah keluar dari komando eks pimpinan Aksi 212, Rizieq Shihab. Sebab, Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno (Prabowo-Sandi) dalam pilpres 2019. "Biasalah. Mereka berarti sudah keluar dari garis komando HRS,” sebut Slamet kepada Tempo, Kamis (11/10).

Terpisah, politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Kapitra Ampera mengimbau kepada seluruh eks peserta Aksi 212, mendukung pasangan Jokowi dan Ma’ruf dalam pemilihan presiden 2019.

Alasannya, kata Kapitra, Ma’ruf Amin lah yang mengeluarkan Fatwa bahwa Ahok menista agama. Kala itu, Ahok menyitir Al-Maidah Ayat 51.

"Jadi, kalau mau konsiten dengan aksi bela Islam, harus dukung Kiai Ma’ruf. Tidak ada yang boleh, berhak mengklaim atau memilih selain itu. Karena maaf, Prabowo dan Sandi bukan ulama," sebut Kapitra saat menghadiri deklarasi relawan Eks 212 Kawal Kiai Ma’ruf di Posko Cemara.(tmp/lp6/kmp/dtc)


Komentar


Sponsors

Sponsors