‘SNIPER’ KOMPLEKS PARLEMEN DIAMANKAN

Roring Nyaris Jadi Korban


Jakarta, MS

Jakarta, MS

Publik tanah air gempar. Kabar penembakan gedung Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI), seketika menjadi viral. Ruangan anggota Komisi Hukum, Wenny Warouw di Lantai 16 dan Bambang Heri Purnomo di Lantai 13 Gedung Nusantara I, jadi sasaran.

Peristiwa menghebohkan ini terjadi pada Senin (15/10) sekitar pukul 14.35 Waktu Indonesia Barat (WIB). Saat itu, anggota DPR dari Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Wenny Warouw, sementara mengobrol dengan tamu yang diketahui adalah Pendeta Heski Roring dan AKBP Ronald Rumondor. Peluru tiba-tiba menerjang jendela dan berhenti di plafon ruangan.  Pelor pun nyaris mengenai kepala Pendeta Heski. Sementara itu, peluru yang masuk ke ruang kerja Heri Purnomo, politisi Partai Golongan Karya (Golkar), diketahui sempat menembus jilbab salah seorang staf. Saat kejadian, Heri tidak berada di tempat sebab sedang menunaikan umrah.

“Iya ada penembakan,” aku Wenny pasca kejadian.

Ia menjelaskan, kejadian itu terjadi sekira pukul 14.35 WIB tadi, ketika dirinya sedang berada di ruang kerja. “Iya ( di dalam ruangan). Ini pasti penembakan pakai teleskop, enggak mungkin enggak,” tandas anggota DPR dengan nomor anggota 387 itu.

"Kami bertiga baru mengobrol dua sampai tiga menit (tiba-tiba) kaca meledak,” sambung dia.

Mereka melihat ada kaca pecah kemudian plafon ruangan berlobang diduga akibat tertembus peluru. “Kemudian saya disuruh tiarap," tutur politikus Partai Gerindra dari Sulawesi Utara (Sulut) itu.

Dia menduga penembakan tersebut dilakukan oleh orang professional. “Betul-betul tembakan yang professional."

Sementara itu, Pendeta Heski Roring menjelaskan kronologi dugaan penembakan. Saat itu, Heski mengaku tengah mengobrol dengan Wenny. "Saya kan lagi asyik ngobrol dengan Pak Wenny Warouw. Ngobrol gitu tiba-tiba sudah ada tembakan. Pletak, desing," terang Heski kepada wartawan.

Setelah mendengar tembakan, Heski menyerukan kepada Wenny untuk tiarap. "Saya langsung ngomong, Pak Jenderal tiarap, tiarap, ini tembakan," ujar Heski.

Selain mereka berdua, kata Heski, ada keponakannya, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Ronald Rumondor di dalam ruangan. Heski menuturkan, dia dan Wenny duduk berhadapan. Posisi keduanya dipisahkan meja, sedangkan Ronald duduk di sebuah sofa yang dekat dengan kursi Wenny. "Namanya juga sekampung kan. Puji Tuhan selamat," ujarnya.

Masih Heski, peluru datang menembus kaca yang terletak di sisi kiri dirinya. Dia mengaku peluru itu melewati sisi atas kepalanya dalam jarak beberapa sentimeter saja. "Peluru dari arah kiri atas. Pokoknya rambut saya ini terangkat juga. Telinga berdengung. Mungkin kalau saya tinggi duduknya, tinggi saya 180 sentimeter mungkin kena juga," ujar Heski.

Peluru tersebut, kata Heski, kini masih tersangkut di sudut atas ruangan Wenny. Adapun kondisi kaca berlubang akibat ditembus peluru.

 

Setelah menyadari keadaan, mereka lantas memanggil pasukan pengamanan dalam (Pamdal) DPR. Mereka juga langsung memanggil kepolisian untuk melakukan investigasi di ruangan.

Menurut Heski, Wenny juga langsung menelepon Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian. Wenny meminta Kapolri untuk mengusut tuntas dugaan penembakan itu. "Bisa diduga sengaja. Makanya harus diusut tuntas. Pak Wenny langsung telepon Pak Kapolri," sambungnya.

Heski menambahkan dirinya memang kerap datang ke ruangan Wenny untuk mengobrol. Ia mengatakan sudah lumayan lama di ruangan Wenny, sedangkan Wenny baru datang dan duduk di ruangannya sekitar 10 menit. Penembakan, kata Heski, terjadi sekitar pukul 14.30 WIB.

Cerita lain datang dari staf anggota DPR Fraksi Golkar Bambang Heri Purnama. Peluru juga menembus ke ruangan Bambang Heri di lantai 13.

Saat kejadian, Heri tidak ada di ruangan karena sedang umrah. Namun, ada staf yang bekerja di depan ruangan. Peluru yang menembus kaca juga membuat jilbab staf itu bolong.  "Jujur, saya tidak bisa membayangkan yang tadi memakai jilbab, adinda kita saudara tenaga ahli dari Bambang Heri yang hari ini sedang melakukan umrah. Mundur sedikit, itu pasti kena kepala," ungkap Ketua DPR, Bambang Soesatyo.

WENNY DUGA DILAKUKAN SNIPER DENGAN LARAS PANJANG

Kasus penembakan Gedung DPR, berbuntut polemik. Apalagi, aroma tak percaya terpancar dari anggota DPR-RI Fraksi Gerindra, Wenny Warouw.

Mantan Wakapolda Bali ini mengaku tak percaya peluru yang masuk ke ruangannya, hasil salah tembak anggota Perbakin yang tengah latihan. Ia menduga penembakan dilakukan oleh sniper dengan laras panjang. "Kalau lihat yang seperti itu saya belum bisa mengatakan jelasnya bagaimana, tapi kalau menurut saya itu senjata dari laras panjang ya mungkin, yang sering digunakan oleh sniper tapi itu bukan jawaban, pasti saya serahkan kepada penyidik jenis senjatanya itu apa," tandas eks Kapolres Batam di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Senin (15/10).

Jenderal purnawirawan berdarah Minahasa ini mengatakan, dugaan tersebut berawal dari pernyataan salah satu pengurus Perbakin yang sudah lebih dulu tiba di ruangannya sebelum tim kepolisian datang memeriksa ruangan kerjanya. Dia mengaku anggota Perbakin itu sudah mengukur garis lurus dan menyatakan asal garis tersebut bukan dari lapangan tembak tempat Perbakin latihan. "Karena mereka (Perbakin) sudah ukur dan kebetulan tadi sudah tarik benang dari plafon sampai ke lubang kaca, terus daya lurusnya di mana tidak ada hubungan dengan lapangan tembak, itu baru benar itu baru kerja benar, jadi sekarang mereka sedang bawa proyektilnya mau disesuaikan. Silakan dengan pernyataan Perbakin kalau itu cocok, buktikan gitu loh, baru itu memuaskan nggak boleh langsung divonis peluru nyasar," ungkapnya.

Sementara itu, Ketua DPR Bambang Soesatyo (Bamsoet) meminta Wenny agar mempercayakan penyelidikan kasus tersebut ke polisi.

Apalagi, kata Bamsoet, Wenny adalah seorang purnawirawan Polri. Maka seharusnya kasus penembakan yang disebut salah tembak itu diserahkan sepenuhnya kepada polisi. "Beliau kan mantan polisi. Saran saya, percayakan adik-adiknya yang masih aktif di polisi itu untuk melakukan penyelidikan," sebut Bamsoet dalam keterangan tertulisnya, Senin (15/10).

Bamsoet mengatakan, dirinya sendiri yang langsung meminta kepada polisi untuk melakukan penyelidikan yang menyeluruh. Baik di dalam gedung DPR maupun lapangan tembak Perbakin. "Sebagai pimpinan DPR saya sudah minta polisi untuk melakukan penyelidikan yang mendalam baik dari orang yang diduga pelaku maupun TKP (Lapangan Tembak Perbakin dan dua ruangan anggota DPR di lantai 13 dan 16) serta pemeriksaan para saksi," kunci Bamsoet.

POLISI SEBUT PELURU NYASAR DARI LAPANGAN TEMBAK

Kepolisian menyatakan peluru yang menembus kaca ruangan dua anggota Komisi Hukum DPR, Wenny Warouw dan Bambang Heri Purnomo, merupakan peluru nyasar.

Demikian Kepala Divisi Hubungan Masyarakat (Humas) Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Inspektur Jenderal (Irjen) Pol Setyo Wasisto. Mantan Kapolsek Tomohon ini mengatakan, peluru yang mengenai gedung DPR itu diduga berasal dari penembak yang tengah berlatih di Lapangan Tembak Senayan, Jakarta Pusat.

"Kami sudah koordinasi dengan Polda (Kepolisian Daerah Metro Jaya), TKP (tempat kejadian perkara) sudah diolah, patut diduga terjadi peluru nyasar," kata Setyo di ruangan pers gedung Nusantara III, kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/10).

Setyo mengaku datang sebagai Ketua Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) Provinsi DKI Jakarta bukan dari Mabes Polri. Kasus ini, kata dia, ditangani oleh Polda Metro Jaya.

Setyo mengatakan, saat ini kepolisian sudah mengantongi identitas penembak tersebut. Kata dia, penembak berinisial I itu merupakan anggota Perbakin Tangerang Selatan.

"Jenis senjatanya kaliber 9 mili, memang itu sering digunakan latihan Perbakin," lugas mantan Kapolsek Tomohon itu.

Ditambahkan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta, terduga penembak itu sudah dibawa ke Polda Metro Jaya untuk dimintai keterangan. Nico mengatakan kepolisian sudah menyita senjata yang digunakan penembak. "Kami menemukan anak peluru, sudah kami bawa senjatanya. Besok akan kami kirimkan ke Labfor, antara proyektil yang ditemukan di ruangan dan senjata yang dimiliki saudara I, mudah-mudahan bisa ditemukan hasilnya. Besok akan kami sampaikan (hasilnya)," ujar Nico.

Untuk diketahui, pasca kejadian penembakan itu, Polri langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

‘SNIPER’ GEDUNG DPR BERINISIAL I

Peluru yang menembus dua ruang kerja anggota DPR berasal dari latihan menembak anggota Perbakin. Penembak berinisial I.

"Dia berinisial I, sedang kami ambil keterangan," ungkap Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta dalam jumpa pers di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (15/10).

I adalah anggota Perbakin cabang Tangerang Selatan. Polisi juga sudah membawa senjata yang digunakan I untuk dicocokkan dengan peluru di ruangan anggota DPR.  "Semoga bisa ditemukan hasilnya besok," ujarnya.

Ditambahkan DPR Bambang Soesatyo, pemilik peluru sudah ditemukan. "Dalam hitungan menit, mungkin jam, orang yang diduga salah menembak sudah ditemukan," katanya.

Orang yang salah menembak itu melepaskan peluru dari lapangan tembak Perbakin, yang terletak di seberang gedung DPR. Pistol orang tersebut juga sudah diamankan. "Sudah ditemukan dan pistolnya sudah ada untuk diproses secara hukum," seru Bamsoet.

Sementara itu, Ketua Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin) DKI Jakarta, Irjen Pol Setyo Wasisto membeberkan jenis pistol yang digunakan dalam insiden peluru nyasar di dua ruangan anggota DPR.

Ia mengatakan pistol yang digunakan diduga jenis Glock. "Jenisnya bisa Glock, bisa ini. Kemungkinan Glock," terang Setyo di Media Center DPR-RI.

Sebelumnya, Setyo juga telah mengungkap peluru nyasar yang ditemukan setelah mengolah TKP. Peluru berkaliber 9 milimeter (mm) yang ditemukan merupakan peluru senjata laras pendek atau pistol. Dari situlah Kadiv Humas Polri ini menduga jenis pistol.

Ia juga menyebut dua peluru yang menyasar ruangan anggota DPR RI sama-sama peluru berkaliber 9mm. "Peluru kaliber 9mm. Peluru sama (yang menembus dua ruangan, - red)," jelas dia.

Disinggung apakah peluru dengan kaliber tersebut dapat menjangkau jarak dari lapangan tembak ke gedung DPR, Setyo mengiyakan.

Namun demikian, ia mengatakan pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan lebih jauh dengan memanggil serta meminta keterangan ahli. "Jarak jangkau masih bisa. Nanti pak Nico (Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Pol Nico Afinta, - red) akan panggil keterangan ahli," lugas mantan Wakabaintelkam itu.

DPR: BUKAN AKSI TEROR

DPR langsung bersikap. ‘Serangan’ pelor ke ruangan Komisi Hukum Wenny Warouw dan Bambang Heri Purnomo, dinilai tak disengaja dan bukan aksi teror.

"Bukan sengaja atau merupakan aksi teror. Bukan. Walaupun anggota Komisi III yang gencar menggolkan Undang-Undang Antiterorisme," aku Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo.

Bamsoet sebelumnya mengatakan penembakan yang terjadi di gedung DPR merupakan peluru nyasar dari anggota Perbakin. Saat ini pengurus Perbakin sudah menemukan orang yang melepaskan tembakan tersebut untuk kemudian dimintai keterangan. "Ada yang latihan menembak di Perbakin yang kemudian pelurunya nyasar di gedung DPR. Dan dalam hitungan menit, orang yang diduga salah tembak itu sudah ditemukan," tuturnya.

Ia pun menyerukan agar pihak pengelola Lapangan Tembak Perbakin melakukan pembenahan. "Secara resmi dari DPR RI kami meminta kepada pengelola Lapangan Tembak Perbakin untuk segera melakukan langkah-langkah agar hal ini tidak terulang kembali," tandas Bamsoet.

Bamsoet pun mendesak pihak pengelola, yakni Stadion Gelora Bung Karno untuk melakukan perbaikan dan peningkatan keamanan, semisal dengan menambah penghalang baja atau lainnya agar kejadian serupa tak terulang. Bamsoet mengatakan kejadian peluru tersasar itu bukan yang pertama terjadi di gedung DPR. "Ini adalah peristiwa yang bukan satu dua kali, barangkali sudah tiga kali peluru nyasar ke gedung kami," kata politikus Partai Golkar yang juga anggota Perbakin ini.

Selain itu, Bamsoet akan menginstruksikan kepada Badan Urusan Rumah Tangga DPR untuk melakukan kajian peningkatan keamanan insfrastruktur gedung. Misalnya, kata dia, apakah kaca gedung yang menghadap ke Lapangan Tembak perlu dilapisi dengan kaca film. "Saya juga ingin meminta BURT untuk melakukan kajian apakah sudah dibutuhkan secara mendesak itu dilapisi dengan kaca film sehingga bisa menahan peluru," kunci Bamsoet.(tmp/dtc/okz/trb)

 


Komentar