Deprov Desak Pidanakan Pengusaha Gunakan LPG Bersubsidi


Penyalahgunaan produk bersubsidi oleh para pelaku bisnis kuliner di Tanah Nyiur Melambai memicu polemik. Sorotan pedas dilayangkan personil Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Reaksi itu menyusul adanya temuan di sejumlah restoran yang masih menggunakan LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram.

Penghuni Gedung Cengkih mendorong adanya pemberian sanksi tegas bagi pengusaha yang kedapatan masih menggunakan gas bersubsidi. Desakan itu salah satunya dilontar Ketua DPRD Sulut, Andrei Angouw.

Tindakan tegas dipandang perlu dilakukan bagi pemilik rumah makan atau restoran yang masih memakai LPG 3 kilogram. Bahkan bila sudah ditemukan terjadi pelanggaran hukum, menurut dia ada baiknya diproses hukum. “Harusnya kalau kedapatan ada unsur tindak pidana diproses saja, supaya ada efek jera,” tegas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, Senin (12/10), di tempat kerjanya.

Dirinya mengungkapkan, selama ini himbauan terkait peruntukkan tabung LPG bersubsidi cukup kuat disosialisasikan pemerintah. Keberadaannya hanya khusus bagi masyarakat kecil, bukan untuk kalangan pengusaha. “Kita rasa masyarakat sudah cukup tersosialisasi mengenai itu,” ungkapnya.

Senada diungkap Anggota DPRD Sulut, Juddy Moniaga. Ia melayangkan dukungan terhadap pemerintah yang melakukan penertiban di kalangan masyarakat. “Saya mendukung SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) terkait untuk melakukan sweeping. Saya dukung dinas terkait untuk melakukan penertiban,” ujar anggota dewan provinsi (deprov) daerah pemilihan Minahasa Selatan dan Minahasa Tenggara itu.

Disampaikannya, memang masalah eksekusi datang dari eksekutif. Pihaknya bertugas untuk mengawasi. “Kita tahu sekarang sesuai dengan laporan SKPD, mereka sedang buat sweping. Menurut mereka, stok LPG ini sesuai dengan data penduduk yang berhak yakni masyarakat miskin, dibilang cukup. Cuma ada terjadi pengusaha yang masih pakai itu makanya jadi langkah. Besok (hari ini, red) kita akan hearing dengan mereka,” tutupnya. (arfin tompodung)


Komentar