Longsor Teror Minahasa


Tondano, MS

 

Teror bencana kembali mengintai Tanah Malesung. Meningginya intensitas curah hujan sepekan belakangan jadi pemicu. Kondisi ini menyebabkan sejumlah daerah rawan longsor rentan. Seperti yang terjadi di Kecamatan Kombi, Sabtu (20/10). Pasca diguyur hujan deras, ruas jalan Tondano menuju Kombi tertutup material tanah dan pohon yang longsor. Beruntung kondisi itu langsung diatasi oleh pemerintah bersama aparat terkait sehingga akses yang tertutup bisa segera terbuka.

Lokasi longsoran berada di dekat Polsek. Setelah menerima laporan dari pemerintah kecamatan setempat maka instansi terkait langsung bergerak ke lokasi dan membersihkan material longsor. Hanya beberapa jam akses yang sempat tertutup sudah dibuka kembali dan bisa dilalui kendaraan," jelas Kepala Bagian Humas dan Protokoler Setdakab Minahasa Drs Moudy Pangerapan MAP.

Kondisi cuaca hujan memang melanda wilayah Minahasa akhir-akhir ini. Terkait hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Minahasa Jonanis Pesik meminta masyarakat khususnya yang tinggal di wilayah rawan bencana diminta waspada. “Akhir-akhir ini curah hujan tinggi. Dan masyarakat sangat diharapkan untuk waspada dengan potensi bencana,” ujar Pesik.

Potensi longsor dijelaskannya akibat pergantian musim. Dimana menurut dia beberapa waktu lalu daerah ini didera musim kemarau sehingga tanah menjadi keras. Ketika diguyur hujan, tanah menjadi berongga dan hal tersebut bisa memicu terjadinya tanah longsor. “Intinya jika dilihat keadaan saat ini, potensi tanah longsor yang sangat rawan. Karena tanah menjadi berongga karena guyuran hujan,” jelas Pesik.

"Memang bencana secara umum adalah peristiwa alam yang tidak diharapkan, tapi saat itu terjadi kita tak bisa menolaknya. Jadi salah satu langkah yang paling bijaksana yaitu meningkatkan kepekaan untuk memgantisipasi dampak bencana yang sewaktu-waktu bisa terjadi," imbuhnya.

Terkait kondisi alam yang tidak stabil ini, pihak BPBD diakuinya selalu siaga 1x24 jam. Dirinya pun meminta baik pemerintah desa, kelurahan dan kecamatan, maupun masyarakat untuk proaktif dan komunikatif saat bencana terjadi.

"Kalau bencana terjadi di wilayah yang sulit dijangkau, sebaiknya ada gotong royong dan kerjasama dari masyarakat. Sebab personil BPBD itu jumlahnya terbatas, sehingga saat ada bencana yang terjadi dibeberapa tempat sekaligus maka tentu kita akan kesulitan membagi tugas," ujar Pesik.

Di sisi lain, masyarakat meminta pemerintah untuk menyiagakan fasilitas-fasilitas yang digunakan untuk mengatasi bencana. Terry, salah satu warga Kombi menilai, situasi cuaca ekstrim saat ini, sebaiknya pemerintah melalui instansi menyiagakan alat-alat berat di wilayah-wilayah yang dipetakan sebagai daerah rawan longsor. “Karena pengalaman saat longsor terjadi di ruas jalan utama, kendaraan macet lama akibat menunggu alat berat. Yang dikhawatirkan saat kemacetan terjadi dan ada longsor lain maka pengendara terancam keselamatannya. Karena itu saya harap pada cuaca seperti ini ada baiknya jika alat berat stand by di lokasi langganan longsor,” harapnya. (jackson kewas)


Komentar