KUDA HITAM KANS PENJUNGKAL RAKSASA

Dapil Sulut Panas


Manado, MS

Perburuan kursi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) kian memanas. Kehadiran sederet bintang baru dalam bursa bakal calon legislatif (Bacaleg), jadi penyulut. Warning bagi partai besar langganan penyuplai wakil rakyat ke Gedung Senayan.

Energi persaingan menuju pentas nasional semakin tajam. Itu dimulai setelah partai politik (parpol) mengumumkan jagoan mereka untuk berlaga di kontestasi pemilihan legislatif (Pileg) 2019 mendatang. Parpol lama maupun baru mulai menebar optimis. Proses selektif sehingga menghasilkan figur yang representatif, berkapasitas dan mumpuni, jadi referensi.

Hasrat itu juga dirasakan sejumlah parpol yang belum pernah menikmati kursi empuk DPR-RI dari daerah pemilihan (Dapil) Sulawesi Utara (Sulut). Misi merebut kursi mulai digedor. Hal itu diikuti penjabaran strategi dan taktik pemenangan yang mumpuni.

Sejumlah pihak menilai, kuda hitam bakal menjadi ancaman serius partai raksasa yang sukses di ajang pesta demokrasi lima tahunan ini. “Contohnya Partai Hanura (Hati Nurani Rakyat). Di situ ada sosok Benny Rhamdani. Kami beranggapan, sosok Rhamdani menjadi ancaman kandidat lainnya,” tandas Rolly Toreh SH, pengamat politik dan hukum Sulut, Minggu (5/8).

Ia menilai, Rhamdani matang dalam iven-iven seperti ini. Beliau pernah menjadi anggota DPRD Sulut, DPD-RI dan pernah uji nyali di pemilihan kepala daerah (Pilkada). Artinya, kata Rolly, sudah memiliki massa yang jelas. “Yang paling penting, beliau merupakan representasi masyarakat di Bolmong (Bolaang Mongondow). Prediksi saya, ia bakal mendapat dukungan yang besar di daerah tersebut. Karena, sebelumnya wilayah Bomong Raya mengutus dua figur ke DPR namun sekarang tidak lagi. Mereka adalah Bupati Bolmong saat ini Yasti Soepredjo dan Aditya Anugrah Moha. Bisa saja konstituen kedua figur ini direbut Pak Rhamdani. Walaupun di sana, juga ada calon hebat seperti mantan Bupati Bolsel Herson Mayulu,” ujar Rolly sembari menambahkan selain Rhamdani, terdapat figur hebat yang masuk dalam bacaleg Partai Hanura, semisal Arifin Bolongan dari wilayah Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Demikian juga dibarisan Partai Nasional Demokrat (Nasdem). Bagi Rolly, kehadiran srikandi Nasdem Sulut Felly Runtuwene, tidak bisa dianggap remeh. Berpengalaman di Gedung Cengkeh dua periode membuat dia layak diperhitungkan. “Beliau bisa meraup suara signifikan di Minahasa Raya. Sosialisasinya bagus saat ini. Selanjutnya, Felly merupakan politisi perempuan yang dikenal familiar di berbagai kalangan,” ujar Rolly.

Hal senada dikatakan Hanky Rantung, pengamat politik dan pemerintahan Sulut. Ia beranggapan, Hanura dan Nasdem bakal menjadi ancaman serius partai-partai besar untuk Pileg mendatang. Mereka pada posisi kuda hitam. Apalagi mereka mengusung figur-figur berkualitas.

“Di Hanura ada senator DPD-RI Benny Ramdhani yang telah matang di dunia politik. Sebagai anggota DPD-RI dirinya memiliki basis massa yang jelas. Pengaruh politiknya di DPD-RI juga bukan sembarangan. Benny memiliki karir yang sangat bagus dari sejak di DPRD Sulut hingga ke  DPD-RI dia mampu menang dan naik. Terlebih dia sebagai Wakil Ketua Komisi I DPD-RI. Kinerjanya sangat teruji,” jelas Rantung, jebolan sarjana ilmu sosial dan pemerintahan ini, Minggu (5/8) malam. 

Sementara, di Nasdem kekuatan Felly Runtuwene terbilang baik. Sebagai Anggota DPRD Sulut dirinya punya kekuatan yang jelas. Terlebih sebagai Bendahara di DPW Nasdem Sulut. Partai Nasdem akan lebih mencangam jika benar kabar bahwa Benny Mamoto  telah mendaftar di DPP Nasdem Sulut.  Ia punya segudang pengalaman di Polri pusat. Pemberian dirinya di daerah Minahasa lewat telah kelihatan. Ditambah lagi, Mamoto juga sudah pernah mencalonkan diri di pilkada provinsi.  Kemunculan duo Benny ini (Benny Ramdhani dan Benny Mamoto) partai besar pasang kuda-kuda. Mereka perlu perbanyak sosialisasi jangan sampai kehilangan kursi sebagai incumbent. 

Meski begitu, untuk merebut maka penting soliditas partai. Karena lawan mereka selain partai besar, punya incumbent tapi juga memilik calon-calon yang termasuk sudah dikenal dan memiliki elektabilitas yang baik. “Makanya Nasdem dan Hanura perlu sosialisasi dan harus solid untuk mendapatkan target kursi mereka di DPR-RI. Saya perkirakan jika petanya seperti ini 6 kursi bisa-bisa terbagi rata,” lugasnya.

Untuk diketahui, partai pemilih enam kursi di DPR-RI Dapil Sulut saat ini, yakni PDIP, partai Golkar, Partai Demokrat, Partai Gerindra dan PAN. Untuk PDIP Vanda Sarundajang dan Djendry Keintjem. Keintjem menggantikan Olly Dondokambey yang di PAW karena terpilih sebagai Gubernur Sulut. Di Partai Golkar terdapat Jerry Sambuaga. Ia menggantikan Adytia Anugrah Moha. Untuk Partai Demokrat, EE Mangindaan. Partai Gerindra Wenny Warouw dan PAN terdapat Bara Hasibuan yang menggantikan posisi Yasti Soepredjo.

INCUMBENT BERPELUANG, ADU KUAT DI INTERNAL PARTAI

Kekuatan incumbent dipastikan terusik. Sejumlah nama populis dan berpengaruh menghiasi bursa daftar nama Bacaleg.

Contohnya dalam line up Bacaleg PDIP. Kehadiran Adriana Dondokambey dalam daftar Bacaleg partai banteng moncong putih ini, patut diperhitungkan. Posisi Adriana sebagai Ketua Wanita/Kaum Ibu (W/KI) GMIM menjadi satu faktor penting popularitasnya menjulang. Di sisi lain, ia merupakan saudara kandung dari Ketua DPD I PDIP Sulut yang saat ini menjabat Gubernur Sulut. “Beliau juga anggota DPRD Sulut. Dia memiliki basis massa di Minahasa Utara dan Bitung. Saat ini, dukungannya sudah meluas hingga ke seluruh wilayah Minahasa dan sebagian Bolmong. Selanjutnya, di PDIP ada juga herson Mayulu. Bekas Bupati Bolaang Bolsel (Mongondow Selatan) ini juga memiliki massa militan. Informasi terbaru, dukungan kepada Mayulu juga datang dari sejumlah daerah di wilayah kepulauan dan Kota Manado,” nilai pengamat politik dan pemerintahan Sulut, Hanky Rantung, Minggu (5/8) malam.

Partai Golkar. Bagi Rantung, hadirnya Adrian J Paruntu dan Marhany Pua sebagai ancaman serius sesama Bacaleg. Adrian adalah putra Ketua DPD Golkar Sulut juga Bupati Minahasa Selatan (Minsel). Adrian memegang kendali sejumlah organisasi penting di Partai Golkar Sulut. “Sudah pasti dukungan Golkar bakal mengalir kepada Adrian. Jadi saya optimis Adrian bisa meraih dukungan signifikan,” ungkapnya.

Demikian juga dengan Marhany Pua. Bekas Ketua Komisi Pemuda Sinode GMIM ini mampu meraup suara signifikan dalam pemilihan DPD-RI. Dua periode lembaga tersebut menjadi kekuatan baginya untuk masuk dalam pusaran politik nasional representasi Partai Golkar. “Artinya, beliau juga sudah memiliki basis massa. apalagi dia juga pernah maju di ajang Pilkada Manado,” tuturnya.

“Di Demokrat juga ada Pak James Karinda. Beliau berpengalaman di DPRD Sulut dan memiliki massa baik di Minahasa dan Kota Manado. Pak James juga bisa menjadi ancaman incumbent,” sambung Rantung.

Di sisi lain, jelas dia, menjadi anggota DPR-RI bukan hal yang mudah. Puluhan ribu hingga ratusan ribu suara rakyat wajib diperoleh. Perjuangan yang berat itu pernah dilalui incumbent DPR-RI seperti Vanda Sarundajang, Djendry Keintjem, Jerry Sambuaga, EE Mangindaan, Wenny Warouw dan Bara Hasibuan. Dikabarkan masih maju di Pileg 2019, figur-figur ini dianggap masih berpeluang langgeng di Gedung Senayan.

“Partai-partai besar umumnya masih kuat karena punya incumbent seperti EE Mangindaan, Jerry Sambuaga, Wenny Warouw, Vanda Sarundajang dan Djendri Kientjem dan lain-lain. Mereka sepantasnya ditakuti,” seru dia.

Dia beranggapan, figur-figur ini sudah berpengalaman dalam kancah Pileg. “Tinggal bagaimana mereka mengatur strategi. Sebab, untuk pesaing mereka baik di luar partai maupun internal partai juga tidak kalah mumpuni,” kuncinya.

PARPOL PASANG TARGET

Jelang Pileg 2019, sejumlah partai mulai pasang target. Persaingan memperebutkan 6 jatah kursi DPR-RI, membara.

Ketua DPD Partai Gerindra Sulut, Wenny Lumentut mengatakan,  target mereka di DPR-RI dua kursi. “Dua kursi,” singkatnya, Minggu (5/8), saat dihubungi via whatsapp.

Terpisah, Sekretaris Bappilu Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasdem, Faisal Pranoto menegaskan, pihaknya menargetkan satu kursi untuk DPR-RI. “Kalau ada kejutan kita tidak tahu karena politik dinamis,” aku dia.

Sementara itu, Ketua DPD PDIP Sulut Olly Dondokambey menjelaskan, PDIP Sulut menargetkan tiga kursi untuk DPR-RI. "Enam bakal calon anggota DPR-RI dari PDIP mempunyai peluang yang sama. Tentunya, harus bekerja keras meraih simpati rakyat agar bisa mendapat kursi di DPR-RI," ungkap Olly.

"Dapil Sulut untuk DPR RI tersedia 6 kursi, target PDIP meraih 3 kursi. Alasannya, calon PDIP nama-nama yang diajukan sudahteruji serta metode perhitungan baru perolehan kursi Saint League bisa merealisasikan target PDIP ini," aku Olly dengan nada optimis.

Hal senada juga disampaikan Ketua DPD Partai Demokrat Sulut, GS Vicky Lumentut.Ia menargetkan 2 kursi untuk DPR-RI. Dari 6 kursi yang tersedia Demokrat, Lumentut menyebut lima nama yang akan bertarung, yakni EE Mangindaan, James Karinda, Steven Rumangkang, Vivi Sumajouw dan Sasdawati. “Demokrat targetnya 2 kursi,” sambung dia.

Selanjutnya, Wakil Ketua I DPD Golkar Sulut, Feryando Yoyo Lamaluta menuturkan, partai berlambang pohon beringin menargetkan dua kursi untuk DPR-RI.  “Target dua kursi dari 6 kursi yang disediakan untuk Sulut sudah merupakan hal yang realistis,” ungkapnya.

Ketua DPD Partai Hanura Sulut, Jackson Kumaat, ketika dikonfirmasi, Minggu (5/8) terkait target DPR-RI menyampaikan, ingin merebut 1 kursi ke Senayan. “Kita target satu kursi di DPR-RI,” terangnya.

“Jadi di Hanura itu yang akan maju seperti pak Benny Ramdhani dan Rio Sumual. Semua langsung daftar ke DPP,” kunci dia.

CALEG TUNGGANGAN KEPALA DAERAH LEBIH BERPELUANG

Pertarungan memperebutkan kursi Senayan dipastikan sengit. Ketangguhan caleg dan kekuatan mesin parpol akan diuji. Sederet faktor dinilai jadi kunci.

Pengamat politik Dr Ferry Liando menakar peluang tersebut dari tiga faktor. Salah satunya pengaruh dukungan kepala daerah.

Parpol yang memiliki koleksi kepala daerah dinilai akan sangat berpengaruh. Semakin banyak parpol menguasai kepala daerah maka peluang parpol untuk mengutus caleg ke DPR-RI akan lebih dominan. "Pengalaman selama ini, caleg yang didukung kepala daerah selalu sukses meraih kursi. Kepala daerah punya kekuasaan dalam memobilisasi PNS dan pejabat sebagai vote getters. Bahkan tak bisa dipungkiri, kadang ada sedikit upaya intimidasi ke masyarakat jika tidak memilih caleg yang di dukung kepala daerah," sebut Liando dalam wawancara, Minggu (5/8).

Caleg yang menunggangi power kepala daerah tertentu juga dinilai kerap memanfaatkan popularitas yang dimiliki dekengannya untuk mendongkrak elektabilitas. "Itulah sebabya mengapa di DPRD Sulut banyak di dominasi oleh kerabat kepala daerah. Jadi itu salah satu faktor keberhasilan dan saya kira pengaruhnya cukup besar," imbuhnya lagi.

Faktor lain yaitu parpol yang memiliki kelembagaan kuat yang struktur politiknya tertata rapi dari pusat sampai di tingkat desa. "Parpol yang kerap di landa konflik pastinya akan sulit berkompetisi," ujarnya dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) di Universitas Samratulangi itu.

Terakhir parpol yang menampilkan daftar caleg dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang kuat dinilai lebih berpeluang. "Selain itu caleg yang memiliki jaringan sosial yang bagus. Sebaliknya caleg yang kesehariannya hanya mengurus diri sendiri atau besar di tempat lain pasti kecil kemungkinan untuk mampu bersaing," lugas Liando.

"Jadi parpol mana yang bisa menguasai 3 hal ini jelas akan lebih berpeluang mendominasi perolehan kursi," tandasnya.

Meski pertarungan dipastikan sengit, tak semua parpol di Dapil Sulut yang bisa mengirim utusan ke Senayan. Liando memprediksikan dari jatah 6 kursi maksimal hanya 5 parpol yang punya peluang.

"Pada dasarnya tidak mungkin ke 16 parpol peserta pemilu bisa mengirimkan wakilnya di DPR RI. Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilu bahwa parpol yang bisa ke parlemen hanya parpol yang bisa meraih 4 persen hasil suara secara nasional.  Saya memprediksikan hanya sekitar 5 parpol yang bisa utus wakilnya ke DPR," kuncinya.

Di sisi lain, pengamat politik Goinpeace Tumbel membedah peluang keberhasilan caleg dari 5 variabel. "Secara umum persaingan untuk merebut 6 kursi DPR-RI dari Dapil Sulut super ketat. Untuk meraih kursi tersebut oleh masing-masing kandidat akan sangat dipengaruhi oleh kapabilitas dan aksebilitas setiap calon, rekam jejak, dukungan finansial atau cost politic, soliditas parpol dan strategi pendekatan atau komunikasi politik," urainya.

Unsur-unsur tersebut, kata dia, dapat dikatakan menjadi variabel yang bersifat determinatif bagi usaha meraih kemenangan. "Kandidat-kandidat yang ada relatif ada yang memenuhi dan dapat memaksimalkan varian-varian tersebut tetapi ada juga yang tidak memenuhi," ujar Tumbel.

"Bahkan ada yang semula memiliki insentif tersebut tetapi tidak dapat mempertahankan atau memberdayakan sumberdaya yang dimiliki hingga hari H pencoblosan. Proses politik relatif akan muncul, dan sekali lagi figur yang dapat memaksimalkan modal-modal politik tersebut mereka yang akan mendapatkan 1 dari ke 6 kursi DPR-RI dari Dapil Sulut," pungkasnya.(tim ms)

 

BACALEG SEJUMLAH PARPOL DI SULUT

PDIP

Adriana Dondokambey

Herson Mayulu

Jantje Wowiling Sajouw

Djenri Keintjem

Vanda Sarundajang

Jerry Wurangian.

 

GOLKAR

1. Dr Jerry Sambuaga

2. Drs Hi Djelantik Mokodompit

3. Ny Hermin gagana- katamsi

4. Adrian Jopie Paruntu

5. Ir.Marhany pua

6. Imelda Diana Rondonuwu

 

PSI

Vivi George

Alan Umboh

Stefany Zakarisa Kusuma

Widy Mopeng

Andre Wenas

 

Partai Demokrat

E E Mangindaan

James Karinda

Steven Rumangkang

Vivi Sumajouw

Sasdawati

 

PERINDO

1. Hendrik Kawilarang Luntungan

2. Dr Lucky Longdong

3. Dirly Dave Sompie

4. Markus Palantung

5. Soraya togas

6. Syahrifah Jindan

 

HANURA

1. Benny Ramdhani

2. Rio Sumual

3. Frans Tular

4. Arifin Bolongan

 

 

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors