Obama dan Hillary Diteror Bom


Kabar menggemparkan datang dari Amerika Serikat (AS). Mantan Presiden Negeri Adikuasa, Barack Obama, Eks Menteri Luar Negeri AS,  Hillary Clinton dan mantan Jaksa Agung AS Eric Holder, diteror bom.

Peristiwa menghebohkan itu terjadi jelang pemilu yang akan digelar bulan November mendatang. Selain, Obama, Hillary, dan Holder, Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Brennan, miliarder George Soros yang juga pendonor terkemuka untuk Partai Demokrat dan anggota parlemen wilayah California Maxine Waters Insiden, juga menjadi target pengiriman paket tersebut.

Insiden itu disebut oleh sejumlah politikus ternama AS, termasuk Ketua Mayoritas Senat Mitch McConnell dan Wali Kota New York Bill de Blasio, sebagai aksi terorisme. Seperti dilansir Reuters, Kamis (25/10), sedikitnya delapan paket mencurigakan berhasil disita sebelum mencapai tujuan.

Tidak ada satupun paket yang diduga bahan peledak yang meledak. Dan hingga kini, ada satupun pihak maupun kelompok yang mengklaim bertanggung jawab atas pengiriman paket-paket ini.

Terkait ancaman bom tersebut, Hillary menyebut Amerika saat ini sedang dalam ‘masa meresahkan’.  "Kami baik-baik saja, terima kasih kepada para anggota Secret Service yang mencegat paket yang ditujukan kepada kami, jauh sebelum mencapai rumah kami," ucap Hillary saat menghadiri kampanye di Miami menjelang pemilu sela pada November mendatang.

"Setiap hari kami bersyukur atas pengabdian dan komitmen mereka dan jelas tidak bisa lebih bersyukur lagi untuk hari ini," imbuhnya.

Dalam pernyataannya, Hillary juga menyerukan persatuan nasional kepada seluruh rakyat AS. "Ini merupakan masa meresahkan, bukan? Dan ini menjadi masa pemecah belah, dan kita harus melakukan semua hal yang kita bisa untuk mempersatukan negara kita," cetus mantan calon presiden (capres) Partai Demokrat dalam pilpres 2016 lalu.

Otoritas Amerika Serikat (AS) masih memburu pelaku yang mengirimkan sejumlah paket bahan peledak ke beberapa politikus top Partai Demokrat tersebut. Penyelidikan atas insiden yang dipimpin oleh Biro Federal Investigasi (FBI) masih berlangsung. Satuan Tugas Terorisme Gabungan yang melibatkan lembaga penegak hukum federal, negara bagian dan lokal ikut dikerahkan dalam memburu pelaku.

"Akan terus bekerja untuk mengidentifikasi dan menangkap siapa saja yang bertanggung jawab mengirimkan paket-paket ini," tegas Direktur FBI, Christopher Wray, dalam pernyataannya.

Dalam pernyataannya, FBI menyebut beberapa paket berisi ‘perangkat yang berpotensi menghancurkan’. Salah satunya, menurut sumber federal AS, diketahui berisi sebuah peledak yang diisi pecahan kaca.

Gedung Putih pun ikut mengecam aksi-aksi pengiriman paket bahan peledak yang ditujukan ke kediaman mantan Presiden Barack Obama, Bill Clinton dan tokoh-tokoh Partai Demokrat lainnya. Gedung Putih menyebutnya sebagai aksi teror yang sangat tercela.

"Aksi-aksi teror ini sangat tercela, dan siapa pun yang bertanggung jawab akan dimintai pertanggungjawaban penuh secara hukum," kata juru bicara Gedung Putih, Sarah Sanders seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis kemarin.

"Secret Service Amerika Serikat dan badan-badan penegak hukum lainnya tengah menyelidiki dan akan mengambil semua tindakan yang tepat untuk melindungi siapapun yang terancam oleh para pengecut ini," imbuh Sanders.(dtc)

 


Komentar