Dukung Penambang Rakyat, AGC Siapkan Teknologi Gatrimetri


Manado, MS

Ikhtiar mengangkat ekonomi masyarakat penambang dengan metode ramah lingkungan gencar didorong Artsinal Gold Council (AGC). Demi menyukseskan program pemberdayaan Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), AGC berupaya menyiapkan teknologi canggih untuk masyarakat.

 

Problem yang dihadapi AGC saat ini adalah harus bersaing dengan bisnis mercury dan sianida. Persoalannya karena penggunaan bahan-bahan ini lebih gampang dan cepat menangkap emas. Di samping itu kualitas menangkapnya juga sangat banyak. "Kemudian barang-barang ini kan mudah didapat dan dijual murah. Makanya kami dari AGC harus menyediakan teknologi yang mampu menyaingi ini. Kalau tidak masyarakat akan lebih memilih menggunakan mercury dan sianida," ungkap Bagus Dharmawan selaku Communication Manager AGC (Indonesia), dalam konferensi pers di Nanni’s Cafe, Kairagi.

 

Ia menjelaskan, teknologi yang mereka pakai ini bernama Gatrimetri. Pihaknya masih sementara menyiapkannya. Meski alat ini sudah pernah dipakai dan teruji di negara lain namun harus ada perbaikan karena material setiap daerah yang berbeda. "Gatrimetri itu menangkap emas tanpa menggunakan mercury dan tanpa sianida. Tetap perlu waktu untuk menyelesaikannya karena kondisi materialnya berbeda. Perlu penyesuaian terhadap mesin. Ukurannya berapa sehingga bisa melakukan penangkapan emas semaksimal mungkin. Kita harap alat itu selesai cepat," katanya.

 

Diungkapkannya, saat ini mereka terus berkomunikasi dengan Filipina. Selalu melakukan tukar pikiran bagaimana pemerintah masing-masing mendapat solusi untuk pengolahan pertambangan dengan metode ini di sana. "Jadi ini ranah saling belajar," tukasnya.

Pihaknya masih mempertimbangkan siapa yang nanti akan bertanggung jawab dengan alat ini. Untuk sementara pihaknya masih memberikan kepercayaan kepada koperasi-koperasi yang dikelola rakyat penambang. Ini tidak sembarangan karena pihak Negara Canada yang adalah pembuat program tersebut ingin agar benar-benar sampai ke masyarakat. "Kita masih akan membicarakan akan jadi milik siapa dan untuk siapa. Untuk awal ini masih milik AGC digunakan masyarakat untuk mengolah. Siapa yang akan mempertanggungjawabkannya. Jadi kita sementara ada jadwalnya kelompok A dan B yang bisa bergantian. Bisa saja koperasi atau Bumdes (badan usaha milik desa). Yang penting sesuai peraturan yang berlaku," pungkasnya.

Dirinya bersyukur karena ada dukungan dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) untuk program ini. "Kami bersyukur dari Pemprov mendukung program ini. Sudah saatnya mercury yang berbahaya itu tidak lagi digunakan di pertambangan emas," ucapnya.

 

AGC memberikan penyadaran dan edukasi kepada warga serta alternatif solusi. Tujuan teknologi ini nanti untuk mengolah emas tanpa merusak lingkungan. "Dan pendapatan baik dengan emas yang kualitas baik. Tidak gunakan sianida mercury dan polusi kepada lingkungan," paparnya. (arfin tompodung)


Komentar