Miras Ancam Dunia Pendidikan Sulut

Puluhan Pelajar SMA Diamankan Satpol PP


Laporan : Sonny DINAR

Dunia pendidikan Nyiur Melambai terus didera berbagai persoalan. Salah satu yang jadi ancaman serius yakni merosotnya minat belajar siswa. Terbukti, aksi bolos sekolah yang kerap berujung pada pesta minuman keras (miras) kian menggurita dan seolah jadi trend di lingkungan siswa. Fenomena memilukan ini jadi ujian berat bagi para tenaga pendidik dan orang tua.

Aksi bolos dan pesta miras di kalangan pelajar kembali terungkap, Rabu (7/11) kemarin. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dalam razia berhasil mengamankan puluhan siswa yang keluyuran di jam sekolah.

Hasil pantauan Media Sulut, razia pelajar berlangsung di sejumlah lokasi yang memang selama ini sering dijadikan tempat nongkrong para siswa. Salah satu tempat yang disisir petugas Satpol PP Sulut yakni di kompleks SMA dan SMK Negeri di Manado yang berlokasi di jalan Pramuka.

Instansi pemerintah provinsi yang punya wewenang sebagai penegak Peraturan Daerah (Perda) ini langsung mengambil tindakan saat mendapati para siswa yang bolos. Mereka diangkut menggunakan mobil patroli dan dibawah ke kantor Satpol PP Provinsi Sulut di jalan 17 agustus. Terlihat beberapa guru ikut mendampingi para siswa.

Sementara di kantor Satpol PP, tampak para siswa yang kedapatan bolos disuruh berbaris dan satu persatu bergilir untuk membacakan Pancasila dan kemudian mengkalimatkan. "Razia ini dilakukan dengan sasaran para pelajar yang bolos di jam sekolah. Mereka kita amankan untuk selanjutnya diberi pembinaan karakter. Pihak sekolah juga langsung kita hubungi," beber Kepala Satpol PP Sulut, Steven Liow.

Dia pun menyayangkan kondisi ini, apalagi siswa yang diamankan petugas umumnya masih duduk di bangku sekolah. "Pihak sekolah dan para orang tua harusnya bersinergi sehingga dapat mengontrol anak mereka. Apalagi terjadi di lokasi yang berdekatan dengan sekolah mereka masing-masing. Tapi semoga ini yang terakhir," harap Liow.

Bersamaan dengan razia pelajar di Manado, kondisi serupa juga terjadi di wilayah Minahasa. Aparat kepolisian mengamankan enam siswa saat sedang bolos di kawasan Stadion SH Sarundajang, Kawangkoan.

Kapolsek Kawangkoan Iptu Dartha Daipaha mengatakan, sejumlah siswa yang bolos sekolah itu awalnya diketahui berdasarkan laporan masyarakat sekitar. Menindaklanjuti laporan tersebut, Kapolsek kemudian memerintahkan Kepala SPKT II Aiptu Dodi Ariyanto untuk mengecek kebenaran laporan tersebut.

"Ada tiga anggota saya yaitu Aiptu Dodi bersama dua rekan anggota lainnya yang langsung melakukan pengecekan ke lokasi stadion, dan memang benar bahwa ditemukan ada enam orang siswa nongkrong di tribun stadion dengan masih menggunakan seragam sekolah," papar Kapolsek.

Enam siswa ini diketahui berinisial RM (17) asal Desa Tondegesan, RT (16) asal Desa Kanonang I, MM (16) asal Desa Kanonang III, FW (17) asal Desa Tompaso II dan AM (17) serta HK (16) yang berasal dari Kelurahan Talikuran. Usai digerebek, mereka langsung diangkut dengan mobil Patroli menuju Polsek Kawangkoan.

"Kepada keenam siswa tersebut kami telah berikan arahan dan himbauan untuk geiat belajar karena orang tua sudah bekerja keras berusaha untuk menyekolahkan mereka. Jangan sia-siakan perjuangan orang tua, karena setiap orang tua selalu menginginkan anaknya berhasil," ujar Kapolsek.

Selanjutnya keenam siswa yang semuanya merupakan siswa SMK Kristen Kawangkoan itu diharuskan membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. "Usai diberikan pembinaan mereka dikembalikan ke sekolah dan diterima oleh guru SMK Kristen Kawangkoan," tandasnya.

Upaya pihak kepolisian itu dilakukan untuk memberikan efek jera kepada para siswa yang bolos di jam sekolah. Kapolsek berharap, ke depan tidak ada lagi siswa yang bolos saat jam sekolah. "Kalau ada yang kedepatan lagi maka pasti kita amankan untuk diberikan pembinaan," pungkasnya.

Maraknya aksi bolos sekolah di kalangan siswa, terlebih yang kedapatan pesta miras menuai keprihatinan banyak kalangan. Pemerhati pendidikan Sulut, Allan Parinusa berpendapat, perlu adanya penataan ulang sistem belajar mengajar di sekolah sehingga tidak membuat para siswa jenuh.

"Sebab dari evaluasi yang telah dilakukan sejumlah pihak berkompeten, pola belajar konvesional cenderung menurunkan minat belajar siswa. Hal itu memicu kejenuhan belajar dan sebagian lebih memilih tak mengikuti jam sekolah. Seharusnya ini jadi catatan pemerintah untuk berinovasi membuat suasana belajar lebih nyaman, contohnya yang dilakukan negara-negara yang pendidikannya berkembang," papar Parinusa.

Di sisi lain, dia melihat miras memang jadi salah satu ancaman bagi dunia pendidikan. Apalagi di usia remaja, siswa cenderung diperhadapkan dengan lingkungan pergaulan yang mendorong mereka untuk mencoba berbagai hal, termasuk pesta miras.

"Harus ada upaya tegas dari pihak terkait untuk memberantas hal ini, misalnya tindakan tegas bagi pemilik warung yang menjual miras kepada siswa. Sebab kalau dibiarkan maka fenomena ini akan menggerogoti dunia pendidikan di daerah kita," ujarnya.

Terlepas dari itu, pengawasan dari orang tua dan pihak sekolah juga dipandang sebagai salah satu cara efektif untuk meminimalisir aksi bolos di jam pelajaran dan fenomena pesta miras di kalangan siswa. (***)


Komentar