Korban DBD di Minahasa Bertambah


Tondano, MS

Teror penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Tanah Malesung kian meluas. Angka korban meninggal dilaporkan terus bertambah. Data teranyar yang berhasil dirangkum, jumlah korban hingga awal November 2018 telah mencapai 7 orang. Angka itu mengalami peningkatan dari data per Agustus 2018 dimana korban tercatat sebanyak 5 orang. Sementara sejak Januari 2018, Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa mencatat ada sekira 162 kasus DBD yang terjadi. Dari jumlah tersebut, nyawa 7 pasien DBD tak terselamatkan dan berujung kematian.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa, dr Yuliana Kaunang M.Kes tak menampik kondisi tersebut. Bahkan kata dia, Minahasa kini berstatus daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit DBD.

"Yang namanya kematian pasti daerahnya akan berstatus KLB. Apalagi korban DBD di Minahasa sudah mencapai 7 orang terhitung sejak awal tahun ini. Terakhir di bulan Agustus ini ada satu kasus kematian yang terjadi di Watulambot," papar Kaunang, Senin (12/11) kemarin.

Disentil soal upaya penanganan dari pemerintah untuk menyetop penyebaran DBD, Kaunang mengaku segala bentuk upaya pencegahan terus dilakukan. Ketika menerima informasi ada kasus DBD, pihaknya bersama Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) langsung ke lapangan untuk melakukan pencegahan di lokasi kejadian dengan metode pengasapan atau foging.

"Selama ini setelah kami menerima laporan ada kasus positif DBD maka langkah awal yang kita tempuh adalah antisipasi penyebaran dengan cara pengasapan atau foging. Baru-baru ini kita telah melakukan foging secara serentak bersama Dinas Kesehatan Provinsi. Sebelumnya kita memang rutin melakukan foging juga di lokasi-lokasi kasus. Intinya upaya itu dilakukan untuk membunuh nyamuk yang membawa dan menularkan penyakit DBD," katanya lagi.

Pencegahan, lanjut dia, bahkan dilakukan di tiap pelosok daerah. Petugas Puskesmas di tiap kecamatan selalu standby sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) bilamana ditemukan ada kasus DBD.

"Sejauh ini petugas Puskesmas sudah melakukan tugasnya dengan baik sesuai SOP, baik itu upaya pencegahan penyebaran maupun penanganan pasien DBD. Ini yang terus kita lakukan setiap menerima laporan kasus DBD," tandas Kaunang.

Penyebaran DBD di wilayah Minahasa jadi tanda awas bagi orang tua. Penyakit nyamuk aedes aegepty ini cenderung menyerang anak-anak dibanding orang dewasa. Alasannya, sistem imun anak kecil yang dalam masa pertumbuhan belum cukup kuat untuk melawan virus dan penyakit. Hasil penelusuran Media Sulut, 6 korban meninggal di Minahasa memang didominasi anak dibawah usia lima tahun (Balita).

Kaunang memaparkan sejumlah tinjauan medis mengapa anak-anak lebih rentan terserang DBD. "Jasi dari sisi medis DBD memang sering menyerang anak-anak lantaran sistem imunnya berbeda dengan orang dewasa. Bukan hanya DBD saja tapi penyakit-penyakit lain juga. Selain itu, pembuluh darah anak kecil juga lebih rapuh ketimbang orang dewasa," ujarnya.

Kasus DBD yang diderita anak kecil berujung pada kematian disebabkan terjadinya komplikasi yang lebih parah. "Virus bekerja lebih optimal akibat sistem imun anak belum terbentuk secara kuat seperti orang dewasa. Nah saat pembuluh darah bekerja tidak stabil akibat ada virus yang masuk, maka organ-organ vital lainnya akan ikut terganggu. Sehingga kondisi itu umumnya menjadi penyebab kematian pada anak," jelas Kaunang.

Untuk penanganan jika anak mengalami gejala DBD, dia menganjurkan pemberian obat-obatan yang tepat sesuai anjuran dokter. "Jangan pernah remehkan demam pada anak, meski tak semua demam itu berarti DBD. Tapi pada prinsipnya jika orang tua melihat ada gejala terhadap anak mak segera bawa ke dokter untuk diperiksa lebih lanjut. Selain itu perbanyak cairan dan istirahat yang cukup. Intinya orang tua harus lebih peka melihat kondisi anaknya," tandasnya. (jackson kewas)


Komentar