Efek ‘Ekor Jas’ di Pileg Minahasa

Peluang PSI Cs ke Gedung Manguni Terbuka


Tondano, MS

 

Peta pertarungan di arena Pemilu Legislatif (Pileg) Kabupaten Minahasa jadi salah satu isu menarik. Kekuatan partai politik (parpol) menuju Gedung Manguni mulai ditakar. Efek ‘ekor jas’ pun masuk hitungan. Pengaruh elektoral calon presiden (capres) dipandang akan ikut mempengaruhi keberhasilan parpol pengusung untuk mendominasi kursi legislatif, khususnya parpol pendatang baru.

Sejumlah pengamat politik menilai, efek ekor jas capres tak hanya berpengaruh dalam perolehan kursi parlemen. Ketokohan para capres dipandang akan membawa dampak positif bagi parpol untuk mendominasi lembaga legislatif di tingkat provinsi bahkan kabupaten dan kota. Faktor tersebut juga diprediksi akan turut mempengaruhi hasil Pileg di Kabupaten Minahasa.

"Memang efek ekor jas ini pengaruhnya di Pileg masih diperdebatkan oleh berbagai kalangan pengamat politik. Namun bagi saya pengaruhnya tetap ada, karena bagaimana pun juga pemilu kali ini berlangsung serentak dimana Pilpres dan Pileg berjalan seiringan," papar pengamat politik Goinpeace Tumbel.

Bahkan menurutnya, efek paling besar akan berlaku bagi parpol pendatang baru di Pemilu yang ikut mengusung salah satu capres. Dia mencontohkan dua parpol seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Persatuan Indonesia (Perindo) yang masuk koalisi pengusung pasangan Joko Widodo - Ma’aruf Amin.

"Jadi bukan hanya bagi PDIP, Golkar atau Gerindra saja, tentu keuntungan ini akan berlaku juga bagi para caleg yang menunggangi parpol-parpol pengusung capres, apalagi ketokohan Jokowi di Sulut termasuk Minahasa cukup besar. Tinggal soal bagaimana mereka (caleg, red) mampu memanfaatkan efek ekor jas tersebut dalam mempengaruhi konstituen di masa kampanye ini," tutur akademisi di Universitas Negeri Manado (Unima) itu.

Namun menurut dia, pengaruh elektoral capres bagi parpol pengusung, khususnya bagi para caleg, hanya satu dari banyak faktor yang akan menjadi tolOk ukur keberhasilan dalam meraup suara signifikan di Pileg mendatang. Sebab menurut Tumbel, manajemen parpol serta kerja keras para caleg juga merupakan penentu utama.

"Artinya ada banyak faktor yang membuka peluang untuk merebut kursi legislatif, kalau hanya bergantung pada satu atau dua faktor saja tentu akan sulit. Sebab untuk meraih keberhasilan maka semua lini harus benar-benar diperkuat," tandas Tumbel.

Pengamat politik Ferry Liando juga sependapat soal efek ‘ekor jas’ capres dalam pengaruhnya bagi parpol untuk mendominasi kursi legislatif. Hanya menurut dia, efek paling besar akan dinikmati parpol pengusung utama yang mengusung kadernya sendiri, yakni PDIP sebagai pengusung Jokowi - Ma’aruf Amin dan Partai Gerindra yang mengusung Prabowo - Sandiaga Uno.

"Parpol yang paling besar menerima dampak adalah parpol yang mencalonkan kadernya sendiri sebagai calon presiden, yakni PDIP dan Gerindra," kata Liando.

Bahkan dia menilai, bisa jadi parpol-parpol yang lain peluangnya tidak sekuat PDIP dan Gerindra disebabkan tidak berani atau tidak mampu mengajukan capres dari kalangan internal parpol.

"Jenis parpol ini bisa disebut sebagai parpol pelengkap administratif. Artinya parpol yang dimanfaatkan hanya sekedar memenuhi ketentuan presidential treshold, artinya parpol tersebut diyakini hanya sebagai penumpang kendaraan agar sama-sama mencapai tujuan yaitu kekuasaan," ujar akademisi Universitas Samratulangi (Unsrat) itu.

Sedangkan bagi parpol pengusung capres lainnya, Liando berpendapat akan ikut kecipratan dampak positif meski tak sebesar PDIP dan Gerindra. "Sebab ternyata parpol yang mencalonkan kader internal mendapat respon baik ketimbang parpol yang hanya sekedar pengikut. Parpol lain ikutan masuk dalam posisi 6 besar kemungkinan datang dari pemilih yang mendukung capres tertentu, namun bersimpati dengan PDIP dan Gerindra. Pilihan akhirnya jatuh pada parpol lain namun masih dalam gerbong parpol pendukung capres itu," sebut Liando.

"Jadi tak selamanya dukungan itu jatuh pada PDIP dan Gerindra, namun dukungan ikut terdistribusi pada parpol lain," sambungnya.

Namun demikian, peluang ini dinilai belum tentu akan stabil. Hal ini diakibatkan politik nasional selalu dinamis dan berubah-ubah setiap waktu.

"Isu ekonomi dan isu radikalisme bisa menjadi salah satu indikator berubahnya posisi elektabilitas masing-masing parpol," kata Liando.

Dalam pandangan lainnya, pengamat politik Taufik Tumbelaka menilai strategi ekor jas capres bisa saja dilakukan namun harus diantisipasi. "Tidak semua bisa seperti itu karena perilaku pemilih dalam hajatan politik seperti Pileg bisa berbeda. Jadi belum tentu otomatis memilih caleg berdasarkan pilihan politik dalam pilpres," sebut Bang Taufik, sapaan akrabnya.

"Memang pilihan dalam pilpres bisa saja sejalan dengan simpati pada parpol pengusungnya, namun itu belum tentu dengan sosok calegnya," tanggap jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

 

 

Metode SLM Buka Peluang Sama

 

Selain efek ekor jas dan sederet faktor lainnya, pengamat politik Ferry Liando menilai, penentuan jumlah kursi legislatif di tiap parpol akan sangat bergantung pada sejauh mana kemampuan calon-calon legislatif yang diusung. Sebab sistim penghitungan suara di Pileg 2019 yang menggunakan metode Sainte Lague Murni (SLM) dipandang akan membuka peluang yang sama bagi tiap parpol untuk bersaing.

Liando berpendapat, sistim SLM ini tidak secara otomatis akan menguntungkan parpol besar sebagaimana dugaan banyak orang maupun para politisi. “Sistim yang dikenal dengan istilah the winner take all ini artinya parpol peraih suara terbanyak akan mendominasi perolehan kursi. Di Pileg nanti yang akan berperan untuk meraup suara bukan parpolnya melainkan bergantung pada sejauh mana kemampuan figur-figur yang diusung. Jadi siapapun parpol yang memiliki figur-figur terbaik di mata masyarakat jelas akan punya peluang lebih besar meraup kursi, tidak pandang apakah itu parpol besar atau kecil,” tanggap Liando.

Meski di satu sisi, Liando menilai parpol yang berpeluang mendominasi pileg 2019 juga akan ditentukan oleh karakter masing-masing parpol. "Yang kuat dari sisi kelembagaan tentu sangat menunjang. Struktur parpol yang tertata rapi dari tingkat pusat sampai tingkat desa atau ranting akan sangat membantu parpol dalam memobilisasi dukungan," ujarnya.

Faktor lain yaitu pengaruh dukungan kepala daerah. Parpol yang memiliki koleksi kepala daerah dinilai akan sangat berpengaruh. Semakin banyak parpol menguasai kepala daerah maka peluang parpol untuk mengutus caleg ke DPR-RI akan lebih dominan. "Pengalaman selama ini, caleg yang didukung kepala daerah selalu sukses meraih kursi. Kepala daerah punya kekuasaan dalam memobilisasi PNS dan pejabat sebagai vote getters," sebut Liando.

Caleg yang menunggangi power kepala daerah tertentu juga dinilai kerap memanfaatkan popularitas yang dimiliki dekengannya untuk mendongkrak elektabilitas. "Itulah sebabya mengapa di DPRD banyak di dominasi oleh kerabat kepala daerah. Jadi itu salah satu faktor keberhasilan dan saya kira pengaruhnya cukup besar," imbuhnya lagi.

Terakhir parpol yang menampilkan daftar caleg dengan tingkat popularitas dan elektabilitas yang kuat dinilai lebih berpeluang. "Selain itu caleg yang memiliki jaringan sosial yang bagus. Sebaliknya caleg yang kesehariannya hanya mengurus diri sendiri atau besar di tempat lain pasti kecil kemungkinan untuk mampu bersaing," lugas Liando.

"Jadi parpol mana yang bisa menguasai tiga hal ini jelas akan lebih berpeluang mendominasi perolehan kursi," tandasnya.

 

 

Manuver Parpol Pendatang Baru

 

Kontelasi politik dalam perebutan kursi DPRD Minahasa di Pileg 2019 memang akan ketat. Persaingan sengit diprediksi terjadi seiring kemunculan sederet parpol baru yang akan berjuang habis-habisan merebut kursi di Gedung Manguni.

Pengamat politik Goinpeace Tumbel mengatakan bahwa partai-partai lama seperti PDIP, Golkar, Gerindra, dan Demokrat harus bekerja ekstra keras. Sebab kemunculan sejumlah parpol baru akan merubah kostelasi politik, termasuk di Pileg Minahasa.

"Yang terpenting disini adalah bagaimana parpol menempatkan figur yang tepat di tiap wilayah atau Dapil yang ada. Jika ada kelalaian kecil saja di langkah awal pasti akan berdampak besar di hari pelaksanaan Pileg nanti," ujarnya lagi.

Dia melihat kehadiran parpol baru seperti PSI, Perindo, dan Partai Berkarya akan jadi ujian berat bagi parpol lama. Apalagi ada parpol yang tampil dengan gaya berbeda serta mengincar segmentasi tertentu.

"Contohnya ada PSI yang fokus memberikan kesempatan kepada kader-kader muda, dan sejauh ini mereka berhasil mencuri segmentasi pemilih kaum muda. Ada pula Perindo yang sebelum ditetapkan sebagai peserta Pemilu memang sudah all out melakukan gebrakan. Dengan semangat yang besar dan soliditas tinggi mereka siap bersaing dalam pertarungan politik kali ini," tandasnya.

Di sisi lain, Tumbel melihat bahwa parpol sekelas PDIP masih berada di titik aman. Kemenangan di pentas Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Minahasa dipandang jadi modal besar yang dimiliki untuk bisa tampil perkasa dan mendominasi Pileg 2019 mendatang.

"PDIP peluangnya masih sangat besar, karena selain parpol dengan jumlah kursi terbanyak di Pileg 2014 lalu mereka juga terbukti memenangkan Pilkada dan tampil sebagai partai penguasa di Minahasa. Bahkan dalam perekrutan caleg mereka sangat hati-hati dengan mendorong kader-kader terbaiknya yang punya pengaruh cukup besar di masyarakat," tanggapnya.

Lain halnya dengan Partai Golkar. Parpol yang pernah berkuasa lama di Tanah Toar Lumimuut ini dinilai memiliki sederet persoalan. Tumbel melihat gesekan internal dan polemik yang sementara mendera tubuh Beringin Sulawesi Utara dapat memunculkan efek negatif di Pileg Minahasa.

"Intinya jika Golkar tidak berbenah dan tampil solid maka kemungkinan besar mereka harus gigit jari di Pileg nanti," sebut Tumbel.


Komentar