7 PTN Terpapar Paham Radikalisme


TEROR paham radikalisme kian mengkhawatirkan. Merujuk data Badan Intelijen Negara (BIN), ada 7 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang disinyalir terpapar radikalisme. Sayang, BIN masih tutup mulut dengan keberadaan sejumlah PTN itu.

Direktur Komunikasi dan Informasi BIN, Wawan Hari Purwanto, menjelaskan alasan mengapa lembaganya tidak mengungkap masjid dan PTN tersebut. Menurut dia, ada sejumlah kategori informasi di BIN yang tak bisa disampaikan ke publik.

“Ini kategori rahasia, jadi ada informasi ada 4 (kategori), biasa, terbatas, rahasia dan sangat rahasia. Untuk yang biasa dan terbatas boleh, tapi untuk yang rahasia dan sangat rahasia jangan karena ini menyangkut kredibilitas dari BIN,” ucap Wawan Hari Purwanto di Resto Sate Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa (20/11).

BIN mengatakan, pembatasan informasi tersebut dimunculkan untuk melindungi keberlangsungan dari 7 PTN yang terindikasi radikalisme.

“Memang ada dan kita sampaikan kepada rektornya tidak untuk umum, takutnya orang orang takut menyekolahkan anak di sana. Tapi upaya pendekatan tetap dilaksanakan,” kata Wawan.

BIN menjelaskan, data tersebut didapat dari 15 provinsi. Mereka mengambil sekitar 50 PTN (Perguruan Tinggi Negeri), dan di dalamnya terdapat 39 persen mahasiswa yang terpapar radikalisme, bahkan beberapa di antaranya termasuk simpatisan.

“Mereka ini ceklis ada dukungan ke situ, kalau kasarnya ada rendah sedang dan tinggi, ini simpatisan. Tapi kalau dibiarkan kan nanti jadi empati dan partisipasi, jadi pada tahap awal sudah kita lakukan upaya pencegahan,” tutup Wawan.

Sebelumnya, Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera menyebut BIN membuat kegaduhan karena menyampaikan informasi tidak lengkap. BIN, kata Mardani harus menyampaikan informasi yang lengkap dengan membeberkan daftar masjid tersebut. "BIN ini punya tugas tidak membuat gaduh, rilis-rilis ini bisa membuat gaduh. Cara paling baik sebutkan mana masjidnya, nanti orang bisa menilai benar tidak masjid ini, terus parameternya apa," kata Mardani di Jalan Raya Malaka, Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (20/11).(kum/dtc)


Komentar