Politik Kompor ‘Meledak’, Dua Kubu Saling Tuduh


Tensi politik jelang pemilihan presiden (pilpres) 2019 ‘memanas’. Kondisi ini dinilai Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai situasi yang sengaja dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk membuat suasana semakin membara. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno malah menyebut justru Jokowi-lah yang menjadi ‘kompor’.

 

Giringan isu tentang panasnya politik pilpres ini, justru menyajikan nada saling serang. Itu berawal dari pernyataan Jokowi saat berbicara tentang ‘panasnya’ kondisi negara pada tahun politik ini. Dia mengatakan, seharusnya masyarakat dibiarkan menentukan pilihan politik masing-masing tanpa dipanas-panasi. "Kita ini saudara sebangsa dan setanah air. Jangan lupakan itu. Ini karena banyak kompor, karena dipanas-panasi, dikompor-kompori, jadi panas semuanya," kata Jokowi di hadapan masyarakat adat Komering Raya, Sumsel, di Griya Agung, Kota Palembang, Minggu (25/11).

 

Pernyataan Jokowi ditanggapi oleh jubir BPN Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade. Ia menuding justru Jokowi-lah yang menjadi kompor karena, belakangan, capres no urut 01 itu kerap membuat pernyataan kontroversial, seperti ‘politik genderuwo’, ‘politikus sontoloyo’ dan ‘ingin menabok penyebar hoax PKI’.

 

"Ini mengagetkan, bahwa terus terang dalam beberapa minggu ini yang bikin situasi politik panas itu Pak Jokowi. Pak Jokowi-lah yang bikin kompor saat ini sehingga politik jadi panas dan gaduh," ucap Andre kepada wartawan, Senin (26/11).

 

"Pak Jokowi mengeluarkan diksi-diksi yang sangat kontradiktif dan memicu suasana menjadi panas, misalnya ‘sontoloyo’, ‘genderuwo’, bahkan ‘tabok’. Kata-kata terakhir ini membuat masyarakat khawatir, pemilu yang riang gembira, jujur-adil dan bermartabat karena Presiden Pak Jokowi sebagai kepala negara mau nabok orang," imbuhnya.

 

Anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin memberikan pembelaan. Inas Nasrullah Zubir mengatakan Pilpres 2019 ini memang terasa panas karena Jokowi kembali melawan Prabowo Subianto, sehingga ada dendam kesumat dari pihak lawan yang dikalahkan pada Pilpres 2014.

 

"Dalam Pilpres 2019 ini memang terasa cukup panas, terutama karena hadirnya lawan Pak Jokowi yang pernah nyungsep di Pilpres 2014, yang tentunya meninggalkan rasa kesal, penasaran, dan sebal yang sangat luar biasa, bukan? Atau dengan kata lain dendam kesumat, gitu lo!" kata Inas kepada wartawan, Senin (26/11).

 

Politikus Hanura itu pun meminta lawan politik Jokowi tak lagi menjadi ‘kompor’ yang memanasi situasi politik di Indonesia. Inas lalu menyindir kubu Prabowo untuk tidak membuat langkah-langkah blunder yang bisa membuat ‘meleduk’ capres nomor urut 02 tersebut.

 

"Nah, cara-cara yang tidak sehat seperti inilah yang namanya kompor, yang membuat suasana semakin panas. Awas, jangan sampai kompor sendiri meleduk, ya! Bisa jadi sebelum Pilpres 2019 malah nyungsep dua kali," tuturnya.

 

Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah turut memberikan komentar. Meski mengaku juga termasuk ‘kompor’ di kontestasi politik saat ini, ia menyebut kompor terbesar ada di Jokowi.

 

"Sebenarnya saya megang ‘kompor’ juga. Saya ngatur kalau lagi adem, saya panasin. Kalau lagi agak panas, saya ademin. Kan gitu aja pegang ‘kompor’. Jadi Pak Jokowi adalah pemegang sumbu kompor yang paling besar. Jadi ya sadari itu, jangan nggak disadari," ucap Fahri.

 

PDIP tak mau ambil pusing atas tudingan kubu Prabowo-Sandiaga. Namun Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto memberi perlawanan dengan mengingatkan bagaimana tim Prabowo-Sandiaga turut menjadi ‘kompor’ dalam kasus hoax Ratna Sarumpaet.

 

Hasto menegaskan pernyataan Jokowi disampaikan untuk mengingatkan bahaya soal hoax. Ia lalu mengutip pernyataan Hanum Rais soal luka-luka di wajah Ratna yang kemudian akhirnya diketahui merupakan bekas operasi bedah plastik.

 

"Jadi beliau sebagai presiden mengingatkan agar pemimpin itu hati-hati dalam berbicara, suka memanas-manasi. Itu juga kasus Ratna Sarumpaet, itu kan kompor, pakai mengatakan, ‘Saya sebagai dokter saya bisa membedakan mana operasi plastik, mana itu yang namanya dianiaya.’ Itu kan kompor," tegas Hasto di Sleman, Yogyakarta, Senin (26/11). (dtc)         


Komentar