Kualitas Pengajar Mendesak Diperbaiki


Momen Hari Guru 25 November menyapa. Sederet persoalan seputar kaum ‘Oemar Bakrie’ kembali dikorek. Perbaikan kualitas para pengajar dinilai jadi salah satu masalah mendesak. 

 

Fenomena tentang banyaknya peserta seleksi Calon Pegawai Pegawai Negeri (CPNS) 2018 yang gugur adalah sebuah pelajaran. Roh pendidikan di Sulawesi Utara (Sulut) dipandang perlu untuk mendapat evaluasi. Profesionalisme para pendidik dinilai harus digenjot.

 

“Masalah terbesar guru adalah kualitas dan moralitas. Bukan cuma SMA (Sekolah Menengah Atas), SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SD (Sekolah Dasar). Dosen-dosen juga. Kemarin buktinya ketika CPNS cuma berapa banyak yang lolos. Presentasi kelulusan sangat kecil dibandingkan formasi yang diberikan pemerintah,” beber Sekretaris Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut), Fanny Legoh, Senin (26/11), di ruang kerjanya.

 

Menurutnya, persoalan ini terjadi karena mutu pendidikan maupun kesadaran bersama antara komunitas pendidikan yakni guru-guru atau pedagogis. Baginya, kalau kualitas pendidik yang diterima dalam CPNS baik maka akan bagus pula para anak didiknya yang akan mengikuti jejak sang guru.

 

“Tingkat kelulusan untuk seleksi, Gorontalo dan Sulawesi Tengah sudah berada di atas dari Sulut. Mengapa? Padahal kampus Unsrat (Universitas Sam Ratulangi) dulu sangat hebat. IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang kini jadi Unima juga hebat. Sekarang kita lihat Sulteng dan Gorontalo di atas torang. Ini sebenarnya kiritik  kepada kita (Sulut, red) khusus di sektor pedagogis,” tegas politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ini.

 

Dirinya berharap, ke depan kualitas guru yang ada harus benar-benar ahli. Penerimaan CPNS juga diharapkan bukan cuma untuk menghilangkan pengangguran. “Kalau masalah ini tidak dirubah, siapapun pemerintahannya ke depan akan seperti ini terus,” ujarnya.

 

Makanya dirinya menghimbau, seluruh elemen pendidikan yang ada agar di bawah pemerintahan Gubernur Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (OD-SK), bisa bersama-sama menyatukan persepsi.

 

“Ada ungkapan, ‘the man without the reason in the beast in season’. Artinya, ‘manusia yang tidak berakal hari ini akan jadi binatang di suatu waktu’. Makanya perlu memberikan pencerahan kepada generasi muda. Misalnya, penggunaan handphone. Ini sudah merampas waktu anak-anak kita maupun guru-guru kita,” pungkas Ketua Badan Kehormatan DPRD Sulut ini.

 

Ia mengungkapkan, dahulunya Sulut disebut-sebut sebagai gudang, rujukan dan pusat pendidikan. Hal ini baginya perlu dikembalikan. Integritas dan kualitas seorang guru perlu digenjot. “Karena ini menyangkut kedisiplinan kepedulian terhadap anak. Swasta justru lebih banyak maju karena ada sistim  yang mengikat di dalamnya. Meski tak bisa dipungkiri ada sekolah negeri punya prestasi-prestasi,” tuturnya.

 

“Lihat nasihat dari tokoh-tokoh kita dulu seperti ‘baku beking pande’. Sehingga kita mencapai ranking-ranking nasional. MULO dulu hanya ada di Tondano. PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) cuma di Tondano. Dan saya percaya Pak Gubernur akan memberikan dorongan-dorongan untuk pembenahan di sektor pendidikan ini,” tutupnya. (arfin tompodung)


Komentar