TEROR KARANGETANG


Siau, MS

Warga Pulau Siau was-was. Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang meninggi. Kepanikan kian memuncak, sebab efek erupsi The Real Volcano, mulai mengancam kesehatan warga. Ribuan penghuni wilayah lumbung pala berpotensi diserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Di penghujung tahun 2018 ini, perhatian Bumi Nyiur Melambai kembali mengarah ke gunung dengan ketinggian sekira 1.820 meter di atas permukaan laut (mdpl). Berawal di hari Jumat (23/11), gelagat Karangetang mulai ‘menakutkan’. Serangkaian gempa dengan durasi sekitar 30 menit terjadi. Hal itu dianggap membuka ‘gerbang’ kawah Karangetang untuk memuntahkan material vulkanik ke angkasa.

Dampak hembusan asap tebal gunung teraktif di Indonesia ini, telah mengakibatkan hujan debu di sejumlah wilayah. Paling parah di Kecamatan Siau Timur. “Kebanyakan mengarah ke Siau Timur. Asap yang keluar dari gunung mengarah ke Siau Timur,” terang Petugas Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Didi Wahyudi, Senin (26/11).

Ia menambahkan, aktivitas Karangetang saat ini dari pantauan seismograf masih didominasi gempa. Sesekali mengeluarkan hembusan asap. Secara visual, kata dia, kepulan asap terlihat sangat jelas. Selain itu, terdengar suara gemuruh yang diakibatkan aktivitas kegempaan. “Catatan pagi tanggal 26 November sekitar pukul 05.21 Wita, kepulan asap mencapai 500 meter. Kalau sehari sebelumnya  dikisaran 300 meter,” urai Didi.

Dia pun mengakui aktivitas Karangetang saat ini dipengaruhi dengan gempa yang terjadi tanggal 23 November 2018. Akibat dari gempa itu, kata Didi, aktivitas Karangetang mengalami peningkatan. “Jadi aktivitas dari kawah dua sekarang ini itu dipicu dari gempa terasa yang terjadi beberapa hari lalu,” ujar Didi.

Sementara itu, mantan Koordinator PGA Daniel R Hinondaleng menyebutkan, karakteristik Gunung Karangetang sangat berbeda dengan gunung berapi lainnya. Gunung yang dibaptis dengan nama ‘Johanes’ ini, menurut dia, sangat mudah dipicu dengan aktivitas kegempaan.  “Apabila terjadi gempa di perairan wilayah Siau, kemungkinan besar gempa itu akan memicu aktivitas gunung. Karenanya ini merupakan salah satu keunikan karakter Karangetang yang mudah dipicu gempa terasa,” tandas Daniel.

Sebelumnya, suara gemuruh sempat terdengar sejumlah warga. Usman Kasumbala, warga Kampung Hiung, Kecamatan Siau Barat Utara mengaku, beberapa kali mendengar adanya suara gemuruh yang berasal dari gunung. “Sekitar dua sampai tiga kali terdengar suara gemuruh itu,” kata Usman sembari mengaku khawatir dengan aktivitas Karangetang.

Untuk diketahui, Gunung Api Karangetang berada pada status waspada. Hingga saat ini kawah II Karangetang masih menghembuskan asap tebal. "Untuk masyarakat di seputaran kaki gunung untuk tetap waspada," tutur Didi.

"Bagi yang terkena dampak hujan debu pergunakan alat penutup mulut agar tidak langsung menghirup debu dari Gunung Karangetang," imbuhnya.

CEGAH ISPA, PEMERINTAH BAGIKAN MASKER

Hujan abu vulkanik terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Siau. Untuk mengantisipasi penyakit ISPA, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), telah membagikan masker bagi warga yang terdampak.

Terpantau, selain memberikan masker bagi pengendara serta masyarakat yang beraktivitas, BPBD juga membagikan ke siswa-siswi di sejumlah sekolah. Sejauh ini sudah 4 ribu masker yang telah dibagikan. "Kurang lebih sudah 4.000 masker yang kami salurkan. Dan sampai saat ini akan kami bagikan terus," terang Kepala Sub Bidang (Kasubid) Logistik, Meydi Teleng ketika di temui di lokasi pembagian.

Menurut dia, pembagian masker ini bertujuan agar masyarakat baik yang menggunakan kendaraan roda dua dan roda empat tidak langsung menghirup debu tersebut sebab bisa mengganggu kesehatan. "Bisa terkena ISPA, jadi bagi masyarakat yang belum sempat kebagian masker karena ada di rumah ada baiknya menyediakan masker jika ingin keluar rumah," imbuhnya.

SIAU SEMPAT DIGUNCANG GEMPA

Jumat (23/11) dini hari, sejumlah warga Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Sitaro mendadak panik. Penyebabnya adalah serangkaian gempa bumi yang berulang kali terjadi dalam durasi 30 menit.

Fiona Panese, salah seorang warga Kelurahan Paniki, Kecamatan Siau Barat, terdengar membangunkan seisi rumah ketika merasakan gempa bumi tersebut. "Langsung membangunkan orang tua, suami dan anak-anak, takut terjadi hal yang tidak diinginkan," kata dia kepada wartawan.

Sama halnya dengan Tommy. Warga Kampung Hiung Kecamatan Siau Barat Utara (Sibarut) mengaku, ketika merasakan adanya gempa yang terjadi berulang kali, ia beserta keluarga sontak merasa was-was dan berjaga di luar rumah. "Banyak warga juga merasa khawatir serta memilih berjaga-jaga di luar rumah masing-masing," ujarnya.

Data yang dirilis Pos PGA Karangetang, pada pukul 04.54 wita, kekuatan gempa tercatat 3.2 SR, berlokasi sekitar 71 km Barat Laut Kabupaten Sitaro, tepatnya di 2,94 LU dan 125,17 BT kedalaman 143 KM. Gempa Bumi yang dirasakan berulang kali oleh warga Pulau Siau pada Jumat dini hari itu, merupakan gempa vulkanik yang dipicu oleh gempa tektonik lokal yang terekam berkekuatan 3.2 SR.

Petugas Pos PGA Karangetang, Didi Wahyudi saat dikonfirmasi mengatakan, gempa tektonik lokal telah memicu peningkatan aktivitas Karangetang. Kegiatan inilah yang menyebabkan terjadinya gempa vulkanik.

Sesuai data yang terekam seismograf digital yang ada di pos PGA, tercatat sebanyak delapan kali terjadi gempa tektonik jauh. Sementara untuk gempa tektonik lokal terjadi sebanyak 55 kali. Gempa vulkanik dalam sebanyal 26 kali dan gempa vulkanik dangkal sebanyak 178 kali. Untuk fase banyak 59 kali dan hembusan 4 kali. "Jika aktivitas kegempaan masih terus berlangsung serta untuk visual asap di puncak gunung menipis, bisa saja bepotensi terjadi peningkatan status dari waspada ke siaga. Namun, tentu saja akan dikoordinasikan lebih lanjut dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)," kuncinya.

 

PEMPROV SULUT DIMINTA TURUN TANGAN

Gejolak Gunung Api Karangetang, memicu perhatian masyarakat Sulawesi Utara (Sulut). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut diminta turun tangan.

“Warga yang berdomisili di sekitar gunung sangat berbahaya. Ditakutkan, ketika Gunung Karangetang erupsi besar, proses evakuasi terhalang dengan kondisi wilayah yang berbukit-bukit. Sebaiknya, Pemprov Sulut harus giat berkoordinasi dengan pemerintah bahkan petugas pemantau gunung api di sana,” terang Rolly WD Toreh SH, pengamat pemerintahan dan kemasyarakatan Sulut, Selasa (27/11) malam.

Bahkan, ia mengusulkan, jika aktifitas Karangetang terus mengalami peningkatan, personil BPBD Provinsi Sulut dan relawan dapat disiagakan bahkan diterjunkan di Pulau Siau. “Begitu juga dengan armada-armada penyelamat seperti kapal dan fasilitas lainnya. Posisi Siau yang berada di wilayah perairan sangat membutuhkan fasilitas penunjang ketika harus dilakukan proses evakuasi. Begitu juga dengan jajaran Dinas Kesehatan,” nilai Rolly.

Meski begitu, dia berharap, warga yang berdomisili di sekitar Gunung Karangetang untuk tetap tenang namun waspada. “Sebagian besar masyarakat di sana sudah terbiasa dengan kondisi itu. Namun, sebaiknya harus waspada dan memperhatikan instruksi dari pihak terkait utamanya pemerintah dan petugas pemantau gunung api Karangetang,” ujar dia.

“Selanjutnya, mematuhi zona merah yang ditentukan. Artinya, dalam radius beberapa kilometer, dilarang untuk beraktifitas. Itu yang harus dipatuhi masyarakat sehingga terbebas dari ancaman erupsi,” kunci Rolly.(haman palandung)


Komentar