JELANG NATAL, UANG PALSU SASAR SULUT


Manado, MS

Nyiur Melambai kembali diteror. Jelang perayaan Hari Natal, jazirah utara Pulau Selebes digoyang peredaran uang palsu. Langkah siaga dipasang aparat. Masyarakat diminta waspada.

Beredarnya uang palsu di Sulawesi Utara (Sulut) bukan hal baru. Kejadian tersebut kerap mendera masyarakat hampir setiap tahun, khususnya jelang pelaksanaan hari raya. Awal tahun 2018, Bank Indonesia (BI) pernah melaporkan terkait temuan uang palsu di kabupaten dan kota se-Sulut. BI merelease ada sekira 600 lembar uang palsu yang ditemukan di Kota Manado. Secara keseluruhan, temuan uang palsu di Sulut untuk tahun 2017 mencapai 723 lembar atau naik sebesar 98,62 persen jika dibandingkan tahun 2016 yang hanya 364 lembar. Oleh sebab itu, BI semakin getol melakukan sosialisasi dan edukasi khususnya bagi masyarakat.

“Temuan uang palsu ini, banyak ditemukan oleh teller bank, toko, maupun di kalangan masyarakat umum. Jika ada masyarakat yang merasa curiga, segera melapor ke pihak kepolisian agar ditindaklanjuti,” jelas Kepala BI Perwakilan Sulut, Soekowardojo.

Di penghujung tahun 2018 ini, keresahan masyarakat terhadap peredaran uang palsu, kembali memuncak. Temuan uang palsu terjadi di sejumlah wilayah. Sebut saja di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Seperti dituturkan Mia, salah satu penjual kebutuhan pokok di Kecamatan Bolangintang Barat. “Awalnya saya tidak curiga dengan uang pecahan 50 ribu, namun setelah melihat dengan jelas ternyata uang tersebut palsu,” ungkap Mia, Senin (3/12).

Mia berharap, aparat kepolisian memburu penyebar uang palsu tersebut. “Kami khawatir dengan situasi ini. Selain upaya cepat aparat kepolisian, pihak berkompeten seperti bank, sangat diharapkan untuk terus mensosialisasikan perbedaan uang palsu dan asli kepada masyarakat,” harap dia.

Hal senada dikatakan Robby Lombogia, anggota Komisi II Dewan Kabupaten (Dekab) Bolmut. Ia mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap peredaran uang palsu jelang Lebaran Natal dan Tahun Baru 2019. “Masyarakat diharapkan untuk bisa lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi dengan meneliti ciri-ciri keaslian uang,” tutur Lombogia.

Dia berharap kepada seluruh bank yang ada di Bolmut untuk melakukan edukasi kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih waspada terhadap uang palsu yang masih beredar. “Pihak perbankan harus lebih intens lagi melakukan berbagai sosialisasi terhadap kondisi uang yang asli ataupun palsu, dengan adanya hal tersebut maka masyarakat dapat terhindar dari proses penipuan oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,” tambahnya.

Untuk diketahui, sekira pertengahan bulan Oktober lalu, polisi juga sempat mengamankan oknum pengedar uang palsu di wilayah Kabupaten Sangihe. Penangkapan dilakukan merujuk laporan masyarakat.

POLRES BOLMONG COKOK SINDIKAT UANG PALSU

Kasus pengedar uang palsu yang ditangkap jajaran Polsek Bolaang, terus digulir. Jika sebelumnya polisi hanya menemukan 13 lembar uang pecahan Rp50 ribu, kini kembali ditemukan Rp26.5 juta uang palsu pecahan Rp50 ribu.

Hal itu disampaikan Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Kota Kotamobagu, AKBP Gani F Siahaan, Senin (3/12) kemarin di Markas Polres (Mapolres) Kotamobagu. “Pasca menangkap MM alias Man saat membeli BBM di SPBU Bolaang, Tim Reskrim melakukan pengembangan dan menemukan uang palsu 26.5 juta di rumah RM alias Ris,” terang Gani didampingi Kaur Bin Ops (KBO) Reskrim, Iptu Hi Syahroni dan Kepala Sub Baguan (Kasubag) Hubungan Masyarakat (Humas) AKP Saiful Tammu.

Selain uang, handphone, laptop serta kendaraan yang digunakan tersangka turut diamankan. Dari pengakuan tersangka, uang tersebut dicetak di salah satu kota di Pulau Jawa. Uang tersebut diduga diedarkan di Sulut dan baru ditemukan di wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong).

Menurut Kapolres, MM juga tercatat sebagai calon anggota legislatif yang maju di Pileg 2019 dari salah satu partai. Diduga uang palsu yang didapat ini akan diedarkan pada pencalonannya. "Uang 26.5 juta itu ditemukan di rumah Ris di Desa Poigar Kecamatan Poigar Kabupaten Bolmong," urai Kapolres.

Kasus tersebut terungkap saat MM membeli BBM di SPBU Desa Tadoy pada Rabu (21/11) lalu. Dengan menggunakan mobil avansa merah maron, MM kemudian membayar menggunakan uang pecahan Rp50 ribu kepada petugas. Namun, karena merasa janggal dengan kondisi uang tersebut, akhirnya dilaporkan sehingga dilakukan pengejaran oleh jajaran Polsek Bolaang. Oknum pelaku berhasil diamankan.

MM diketahui sebagai warga Lolak Kabupaten Bolmong yang merupakan Caleg Kabupaten Kepulauan Talaud. Hingga kini polisi terus mendalami kasus tersebut karena tidak menutup kemungkinan para pelaku akan bertambah. “Untuk sementara dua orang kita tetapkan sebagai tersangka yakni MM dan RM. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada tersangka baru,” kuncinya.

WILAYAH PERBATASAN DAN KEPULAUAN RAWAN

Dari sederet kasus peredaran uang palsu di Sulut, wilayah perbatasan dan kepulauan disinyalir menjadi sasaran komplotan pengedar. Oleh sebab itu, pemahaman masyarakat terhadap uang palsu di daerah-daerah ini, harus lebih ditingkatkan.

“Iya, analisasi kami merujuk pemberitaan media-media, kasus temuan uang palsu kerap terjadi di wilayah kepulauan dan perbatasan. Contohnya, di Sangihe dan Bolmut. Itu kan merupakan wilayah perbatasan. Aparat hukum di wilayah-wilayah ini harus lebih kerja ekstra menangkal uang palsu ini,” ujar pengamat pemerintahan dan kemasyarakatan Sulut, Terry Wagiu, Senin (3/12) kemarin.

Ia pun mendukung desakan masyarakat kepada pihak bank untuk mensosialisasikan model uang  palsu. Bahkan, bisa disebarkan dengan tampilan alat peraga di tempat-tempat keramaian, pusat perbelanjaan modern hingga pasar tradisional. “Masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan uang palsu maupun asli. Jika tidak dilakukan proses pemeriksaan detail, itu terlihat sangat mirip. Ini butuh kepekaan dari semua bank untuk mensosialisasikan itu,” lugas aktifis Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) itu.

“Bagi masyarakat penting untuk mengetahui tentang 3D. Dilihat, diraba dan diterawang,” sambungnya.

Selanjutnya, Terry menyatakan mendukung upaya kepolisian yang berkomitmen untuk menuntaskan kasus-kasu peredaran uang palsu. Sebab, ketika tidak diberikan efek jerah, aksi peredaran uang palsu akan semakin mewabah. “Kasihan untuk warung-warung kecil yang menjadi korban. Keberadaan uang palsu ini sudah sangat mengkhawatirkan sehingga dibutuhkan langkah cepat dari aparat apalagi menyambut Hari Natal dan Tahun Baru. Tentu saja, masyarakat juga kooperatif dengan melaporkan temuan uang palsu kepada pihak yang berwajib,” kunci dia.(kharisma/nanang/tim ms)


Komentar