SOPUTAN [KEMBALI] MENGAMUK


Tombatu, MS

Julukan gunung api teraktif di Pulau Sulawesi yang disandang Gunung Soputan tak sekedar isapan jempol. Letusan dahsyat yang terjadi Minggu (16/12) dini hari, kembali membuktikan keganasannya. Efek erupsi memicu semburan ribuan kubik material vulkanik dari mulut Soputan dengan ketinggian mencapai 7.000 meter.

Dari informasi yang diperoleh, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) dominan terkena dampak erupsi. Arah angin yang cenderung bertiup ke arah tenggara jadi penyebab. Bahkan warga Mitra khususnya yang berada dekat dengan Gunung Soputan kini dihantui ancaman lahar dingin yang berpotensi terjadi mengingat curah hujan di wilayah Mitra akhir-akhir ini, terlebih didaerah Tombatu Raya dan Pasan.

Namun warga di daerah lain yang berdekatan dengan Gunung Soputan seperti di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) dan Minahasa turut siaga.

Sementara berdasarkan data yang dirangkum dari Pos Pemantau di Desa Silian, Tombatu, Gunung Soputan yang memiliki ketinggian sekira 1.784 meter di atas permukaan laut, menunjukkan aktifitasnya sebelum erupsi sejak Sabtu (15/12). Erupsi pertama terjadi pada Minggu (16/12) pukul 01.02 Wita dengan gempa letusan beramplitudo maksimum 40 mm (overscale) dengan durasi 598 detik diikuti gemuruh berintensitas lemah-sedang.

Selanjutnya, sekira pukul 03.09 Wita kembali terjadi erupsi dan di atas puncak gunung tinggi kolom erupsi sekira 3.000 meter di atas puncak (sekira 4.809 meter di atas permukaan laut) dengan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal condong ke tenggara.

Tak sampai di situ, Soputan kembali erupsi sekira 05.40 Wita dengan tinggi kolom erupsi sekira 7.000 meter di atas puncak (sekira 8.809 meter di atas permukaan laut) dan kolom abu berwarna kelabu dan intensitas tebal condong ke tenggara.

"Hingga saat ini tremor menerus masih terus terekam dengan amplitudo maksimum (overscale) mengindikasikan bahwa aktivitas erupsi masih terus berlangsung," ungkap Kepala Pos Pemantau Gunung Soputan di Silian, Asep Saifulah.

Status Gunung Soputan kini pun masih berada pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi zona bahaya, radius 4 kilometer (km) dan perluasan sektoral ke arah barat-barat daya sejauh 6.5 km. "Masyarakat agar tidak beraktifitas pada zona yang telah ditetapkan dan dapat menghindari bahaya abu vulkanik," tukasnya.

Ia pun tak menepis jika warga harus mewaspadai potensi ancaman bahaya lahar dingin yang memuat material vulkanik Gunung Soputan. "Apalagi kalau cuaca hujan. Ini harus diwaspadai warga," kata Asep.

Erupsi Gunung api bertipe stratovulkano atau gunung api berbentuk kerucut ini diketahui merupakan kali kedua di tahun 2018 pasca letusan sebelumnya yang terjadi 3 Oktober silam.

 

ABU VULKANIK HANTAM LAHAN PERTANIAN

Dampak erupsi Gunung Soputan kali ini harus membuat masyarakat yang bertani di sekitaran gunung gigit jari. Areal lahan pertanian warga dilaporkan ikut dihantam hujan debu vulkanik. Mirisnya, kondisi ini terjadi saat para petani menantikan hasil panen pertaniannya.

"Sedikitnya, 50 ribu batang tanaman tomat terkena debu vulkanik, 5 ribu batang rica juga terkena dampak serta ada sekira 6 hektar areal pertanian yang terkena abu Gunung Soputan" ungkap Kepala Dinas Pertanian Mitra, Elly Sangian.

Dia mengaku saat ini masih melakukan inventarisir areal pertanian warga yang terkena dampak erupsi Gunung Soputan. "Kita masih menginventarisir, sebab petugas masih ada dilapangan," tukas Sangian.

Pun begitu, dirinya tak bisa memastikan apakah pertanian warga tersebut gagal panen atau sejenisnya. "Kalau gagal panen itu kami belum dapat pastikan. Namun kalau terkena dampak itu ada. Dan memang yang paling banyak laporan ada diwilayah Winorangian dan Kuyanga" jelas Sangian.

 

 

 

POSKO BENCANA DISIAGAKAN

 

Terpantau sejak pagi hingga malam hari, aktifitas warga di beberapa wilayah di Tombatu Raya dan Pasan harus ditunda. Yang ada, pembagian masker melalui posko bencana yang didirikan pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mitra, kepada warga terutama di Winorangian Tombatu dan Silian.

Namun pembagian masker juga dilakukan pihak Dinas Kesehatan bersama Badan Penanggulangan Bencana daerah (BPBD) di wilayah Pasan dengan ketinggian abu sekira 5 sampai 7 sentimeter. Pihak Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompida) pun turut melakukan peninjauan dilapangan.

Wakil Bupati Jocke Legi turut serta membagikan masker kepada yang ada di Tombatu demikian pula kelompok masyarakat bersama pihak pemerintah yang turut membagikan masker, guna menhindari terjadinya infeksi saluran pernapasan.

 

Pihak Dandim 1302 Minahasa Lektol Slamet Raharjo yang baru saja 3 hari bertugas turut serta melakukan pemantauan di lapangan bersama pihak Polres Minsel-Mitra, Kapolres AKBP FX Winardi Prabowo.

"Kita sudah menyiagakan posko bencana didua tempat yakni Winorangian dan Silian. Dan pembagian masker bersama pihak Dinas Kesehatan juga sudah dilakukan,"  ungkap Kepala BPBD Mitra Ferry Uway didampingi Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Erick Manaroinsong.

Pihak Pemkab Mitra mengimbau masyarakat untuk dapat waspada dengan dampak dari erupsi Gunung Soputan dan tidak beraktifitas pada radius yang telah ditentukan. "Status Level kita masih di Level III. Jadi masyarakat sekiranya tidak beraktifitas pada radius yang telah ditetapkan guna menghindari hal buruk yang dapat terjadi," katanya.

Lahar dingin pun menurutnya berpotensi terjadi jika sedang musim hujan seperti sekarang ini. "Kita sudah meninjau potensi terjadinya lahar dingin pada Sungai Ranombolay dan Lahendong yang menjadi jalurnya. Sebab potensi terjadinya lahar dingin pada musim hujan sekarang ini harus diwaspadai," pungkas Erick.

 

 

 

WARGA DIMINTA WASPADA

Erupsi Gunung Soputan langsung memantik reaksi pemerintah. Seruan bagi warga untuk waspada dan siaga dilayangkan. Salah satunya disampaikan Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Olly Dondokambey.

Orang nomor 1 di B umi Nyiur Melambai ini menginstruksikan kepada Jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) yang ada di seputaran gunung Soputan untuk tetap waspada dan siaga jika sewaktu-waktu terjadi bencana akibat erupsi gunung Soputan.

“Semua stakeholders terkait hingga masyarakat setempat diminta tetap waspada dan sigap jika sewaktu-waktu terjadi bencana,” imbaunya.

Semua stakeholders menurut Olly, saat ini harus terus berkoordinasi dan  mempersiapkan semua keperluan terkait penanggulangan bencana, mendata semua relawan bencana, satkorlak penanggulangan bencana. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang SOP evakuasi jika terjadi bencana.

Disamping itu, masyarakat diminta juga tidak gampang mempercayai informasi yang beredar di media sosial  baik dalam bentuk foto maupun video terkait suasana daerah Sulut pasca erupsi gunung Soputan.

“Semua informasi harus di cek kebenarannya dari pihak yang kredibel agar tidak tercipta informasi yang tidak benar, meresahkan hingga berdampak pada gangguan keamanan daerah,” tandas Gubernur.

Pesan serupa disampaikan Bupati Minahasa Royke Oktavian Roring (ROR). Dia meminta masyarakat yang bermukim di sekitaran kaki gunung untuk terus waspada serta tidak beraktivitas dalam radius 4 kilometer dari lokasi gunung.

“Bupati juga telah menginstruksikan kepada camat dan Hukum Tua agar memberitahukan kepada masyarakat perihal kondisi terkini Gunung Soputan,” kata Bupati melalui Kabag Humas dan Protokol Setdakab Minahasa, Drs Moudy Pangerapan.

“Pak bupati juga menyampaikan, apabila terjadi kejadian luar biasa, Camat dan Hukum Tua harus segera mengambil langkah-langkah antisipatif dan melaporkannya kepada pimpinan,” ujarnya lagi.

Peringatan bagi warga untuk waspada juga datang dari Kapolres Minsel AKBP FX Winardi Prabowo. Dia meminta masyarakat untuk harus mewaspadai penyakit yang diakibatkan letusan gunung.

“Masyarakat di sekitar Gunung Soputan dianjurkan menggunakan masker penutup hidung dan mulut, guna mengantisipasi potensi bahaya gangguan saluran pernapasan jika terjadi hujan abu,” kata Winardi.

Dia juga meminta masyarakat agar mewaspadai potensi ancaman aliran lahar yang dapat terjadi setelah terjadinya erupsi, dimana material erupsi terbawa oleh air, terutama pada sungai-sungai yang berhulu di sekitar lereng Gunung Soputan, seperti Sungai Ranowangko, Sungai Lawian, Sungai Popang dan Londola Kelewahu. “Beberapa kegiatan pasca letusan gunung sudah kami laksanakan, di antaranya, pembagian masker kepada masyarakat baik pengguna jalan maupun masyarat yang berada di sekitar Gunung Soputan, pembuatan Posko Penanggulangan Bencana di Desa Silian Raya dan Desa Kotamenara,” ungkap Winardi.

Hingga Minggu sore kemarin, personil yang terlibat untuk menjaga warga, yakni 150 personil dari Polres dan 60 personil dari TNI. (recky korompis/rull mantik)


Komentar