PDIP TEKUK GERINDRA-GOLKAR, TIGA PARPOL PARNOKO


Jakarta, MS

Jalan menuju pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 kian panas. Berbagai strategi makin intens dimainkan partai politik untuk meraih kemenangan. Namun, mata radar menangkap, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Gerindra dan Golkar masih berada di atas angin.

 

Sebuah survei digulir Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Hasil kerja itu memperlihatkan PDIP sebagai parpol pemenang dalam Pemilu 2019 dengan raihan 27,7 persen, disusul Gerindra 12,9 persen, dan Golkar 10,6 persen.

 

LSI Denny JA memprediksi, PDI Perjuangan akan menorehkan hattrick pertama dalam sejarah Pemilu Indonesia, sejak zaman reformasi. Lewat catatan sejarah, PDIP diketahui sudah menang sebanyak dua kali dan berpotensi mengulang sejarah tersebut di Pemilu 2019.

 

 

"Mengapa kami berani mengatakan PDIP paling potensial? Karena elektabilitasnya dengan partai pesaing selalu di atas 10 persen," kata Peneliti LSI Denny JA, Ardian Sopa saat jumpa pers di kantor LSI, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (7/1).

 

Dia mengatakan, jika prediksi data LSI terbukti, maka PDIP adalah partai pemecah kutukan pertama sejak Pemilu 1999. Dimana tak pernah ada juara bertahan yang mampu menang dalam Pemilu berikutnya.

 

"Pada 1999 PDIP menjadi pemenang Pemilu, namun 2004 kalah dari Golkar, kemudian 2009 Partai Demokrat mengalahkan Golkar. Tapi 2014 PDIP menang, dan dengan hasil survei lima bulan terakhir kami, PDIP berpotensi menyingkirkan semacam ‘kutukan’ di 2019," ujar Ardian.

 

Sebagai informasi, pada tiga bulan survei terakhir LSI (Oktober-Desember), PDIP menorehkan angka 28,5 persen, 25,4 persen, dan 27,7 persen. Sedangkan untuk pesaingnya yakni Gerindra, 11,3 persen, 14,2 persen, dan 12,9 persen. Kemudian untuk Golkar, hanya mampu 6,8 persen, 9,7 persen, dan 10,0 persen.

 

"Dengan hasil ini, kami dapat memastikan PDI Perjuangan sudah potensial juara di Pemilu (Legislatif) 2019," tegas Ardian.

 

Survei nasional LSI dilakukan pada Desember 2018, menggunakan 1200 responden. Survei diadakan di 34 provinsi di Indonesia, dengan metode multistage random sampling. Margin of error setiap survei adalah 2,9 persen.

 

 

GOLKAR DAN GERINDRA BEREBUT RUNNER-UP

 

LSI Denny JA memprediksi PDI Perjuangan menjadi partai pemenang Pemilu 2019. Perolehan data dari lima kali survei LSI Denny JA, partai besutan Megawati Soekarnoputri itu selisih 10 persen dengan Gerindra dan Golkar.

 

LSI Denny JA menilai selisih 10 persen itu membuat perebutan kursi runner-up atau juara dua menjadi persaingan Gerindra dan Golkar.

 

"Hasil survei keduanya, dalam lima bulan terakhir periode 2018 (Agustus-Desember), masih berfluktuasi dan berselisih ketat," ungkap Peneliti LSI Denny JA Ardian Sopa, di kantor LSI, Jakarta Timur, Selasa (7/1).

 

Data periode Agustus hasil survei dilakukan LSI Denny JA, Gerindra dan Golkar memiliki selisih 2 persen, yakni 13,1 persen berbanding Golkar 11,3 peren. Hal yang sama juga terjadi pada periode survei September, Gerindra 11,5 persen dan Golkar 10,6 persen.

 

 

Kemudian pada Oktober, perolehan survei berfluktuasi, Gerindra masih konsisten di angka 11,3 persen, namun Golkar turun hingga hampir setengahnya yakni 6,8 persen.

 

"Meski turun, angkanya masih tetap di posisi tiga, hampir bersinggungan dengan Demokrat di posisi empat, dengan selisih 0,5 persen," sebut Ardian.

 

Kemudian di periode survei November, Golkar kembali melonjak, dengan perolehan angka 9,7 persen, namun belum berhasil menyaingi Gerindra yang bertengger di angka 14,2 persen.

 

"Dan pada periode Desember, kedua partai ini kembali bersaing ketat, Gerindra turun jadi 12,9 persen, dan Golkar memperlihatkan tren positif menjadi 10,0 persen," tukas Ardian.

 

Catatan LSI, lanjut Ardian, Golkar sebagai partai senior masih berpotensi menjadi runner-up asal memiliki sumber pendongkrak elektabilitas. Bila tidak, efek ekor jas Prabowo Subianto, sebagai sosok di Gerindra akan semakin bertaji menghempas Golkar dari sejarah posisi dua besar sejak Pemilu 1999.

 

 

PERINDO NAIK, PARPOL BARU MASIH BERPELUANG

 

Pemilu 2019 akan menghadirkan sejumlah peserta baru. Mereka tak ingin disebut penggembira. Beragam strategi pun kencang dijabal demi memetik hasil terbaik.

 

Walau demikian, kekuatan parpol pendatang baru dinilai belum akan bisa menyaingi parpol yang sudah banyak makan garam. LSI Denny JA memprediksi, empat partai baru peserta Pemilu 2019 nyatanya belum akan meraih suara publik secara masif. Bahkan, tiga di antaranya terancam tidak lolos ambang batas parlemen.

 

"Hanya Perindo yang elektabilitasnya bergerak. Sementara ketiga partai lain masuk kategori parnoko, atau partai nol koma," beber Penelti LSI Denny JA, Ardian Sopa, di kantor LSI, Jakarta Timr, Selasa (8/1).

 

Elektabiltas Perindo, lanjut Ardian, terdongkrak berkat sosok ketua umumnya, Harry Tanoesoedibjo. Selain itu, jaringan media Perindo yang menggawangi MNC Group menjadi hal krusial dalam tingkat dikenalan publik terhadap Perindo.

 

"Kekuatan logistik Perindo juga menjadi faktor. Kita ketahui HT adalah salah satu konglomerat dengan sumber daya ekonomi untuk melakukan kampanye masif," tutur Ardian.

 

Kendati demikian, bukan tidak mungkin partai baru selain Perindo tidak mampu lolos ambang batas parlemen. Menurut survei LSI, bila ada pemantik konsisten dari mereka, bukan tidak mungkin tingkat dikenalan bertambah dan memicu dukungan publik kepada mereka.

 

"Seperti PSI yang muncul dengan gagasan menonjol, anak muda yang progresif. Sedang Berkarya terus memunculkan gagasan orde baru yang menarik simpatik publik yang merindu akan sosok Soeharto," tandas Ardian.

 

Berikut tiga periode terakhir hasil survei LSI terhadap partai baru, (Oktober-Desember).

 

Oktober: Perindo 3 persen, PSI, Berkarya, dan Garuda masing-masing 0,2 persen.

November: Perindo 2,2 persen, PSI 0,9 persen, Berkarya 0,1 persen, dan Garuda 0 persen. Desember, Perindo: 1,9 persen, PSI dan Berkarya 0,1 dan Garuda 0,2 persen. (dtc)

 


Komentar