NEGARA TERANCAM


Jakarta, MS

 

Teror hoaks melanda Indonesia. Jelang pesta demokrasi, Pemilu dan Pilpres, penyakit itu semakin meradang. Ambisi kekuasaan dinilai jadi pemantik. Negara pun terancam porak-poranda.

 

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri merasa bingung mengapa hoaks dan kebencian dipakai demi menang Pilpres. Menurut Presiden kelima RI itu, pemimpin yang bakal terpilih melalui cara demikian hanya membuat negara porak-poranda.

 

Dalam pidatonya di HUT PDIP ke-46 itu, Megawati menceritakan kisahnya bertemu dengan milenial di DPP PDIP. Dia ditanya bagaimana menjadi seorang pemimpin.

 

"Saya bilang ya tentunya beretika, punya budi pekerti, tidak hanya main viral, dengan kebencian dan hoaks," ujar Megawati di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

 

Ia mengaku, dari pemilu tahun 1955, tidak pernah terjadi persaingan pemilu seperti tahun-tahun ini. Sebab segala cara dengan menyanyikan kebencian dipakai demi melanggengkan kekuasaan.

 

"Saya enggak pernah melihat bangsa kita sendiri hanya menuju keinginan untuk merebut kekuasaan. Lalu seperti saling membenci, menyanyikan kebencian lalu hoaks," kata putri proklamator itu.

 

Lantas, Megawati berpikir mau apa jadinya pemimpin yang menang dengan cara demikian. Menurutnya hanya bakal menimbulkan kebencian.

 

"Ya ibu denger to, apakah bangsa ini tidak porak-poranda satu sama lain bukan? Sepertinya jadi musuh," imbuhnya.

 

 

MEGA BALAS PENYEBAR HOAKS

 

Ketum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, masih merasa heran dengan banyaknya hoaks yang bertebaran.

 

Hal ini disampaikannya, saat berbagi cerita tentang esensi perjuangannya, dalam membangun partainya dan bangsa di hadapan para generasi milenial yang hadir kantor DPP PDIP, Jakarta, Senin (7/1).

 

"Orang muda Indonesia harus punya mimpi. Tapi kenapa ya ada yang menyebarkan kebencian lalu hoaks," ucap Megawati.

 

Mega yang mengaku tak punya telepon genggam sesekali terlintas ingin membalas hoaks di media sosial itu menggunakan telepon cucunya.

 

"Terus saya bilang, kepengin jahil, kepingin pakai punya cucu. Saya ingin jawab, pengecut kamu, pengecut kamu. Enggak berani berhadapan," tutur Megawati.

 

Dia kemudian bercerita bagaimana pesan orang tuanya. Bahwa perbuatan dengan perkataan harus sejalan.

 

"Padahal saya diajari oleh orang tua saya. Apapun kamu berbuat satu kata dengan perbuatan. Karena dengan demikian, kita melihat kebesaran jiwa seseorang," ungkap Megawati.

 

Presiden kelima Republik Indonesia ini penasaran apa mungkin hoaks benar-benar bisa dihilangkan. Sebab saat ini, sebarannya sangat masif.

 

"Masa enggak bisa sih diberhentikan hoaks itu," tanya Megawati.

 

Dia mencontohkan kabar hoaks terkait surat suara yang dicoblos dan kemudian ramai diperbincangkan.

 

"Kemarin kan kita ribut surat suara. Langsung itu hoaks. Ini kan bisa juga sebuah permainan, tapi itu hoaks," pungkasnya.

 

 

MEMBAHAYAKAN BANGSA

 

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud MD mengajak masyarakat tidak terpengaruh berita hoaks. Sebab hal tersebut membahayakan bangsa.

 

Mahfud mencontohkan, hoaks surat suara tercoblos di Tanjung Priok pastinya bertujuan memancing agar suasana menjadi keruh. Dia mengaku tidak percaya sama sekali ketika hoaks tersebut pertama kali muncul.

 

"Karena berita itu muncul tanggal 2 Januari, sementara tanggal 4 Januari saja surat suaranya belum dicetak. Bagaimana sudah ada yang palsu kalau yang asli saja belum disepakati," ujar Mahfud MD di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (10/1).

 

Dia mengaku sedang berada di sebuah desa di Yogyakarta ketika mendengar berita hoaks tersebut. Tiba-tiba, ada seorang warga yang menghampirinya dan melaporkan hal itu kepadanya.

 

"Sedang salat gitu, menunggu waktu salat Ashar, ada orang masuk ‘Pak kapan dari Jakarta, Pak ini Pemilu sudah enggak benar surat suaranya sudah dicetak pemenangnya sudah ditentukan’ ditunjukan ke saya ini sudah ada tujuh kontainer di Tanjung Priok. Itukan hoaks, terus dari mana berita itu," tuturnya.

 

Mahfud mengimbau agar masyarakat Indonesia mengatur hubungan kemanusiaannya. Melalui Gerakan Suluh Kebangsaan yang diketuainya, dia mengedepankan dialog akan kebersamaan dan menghargai perbedaan di Indonesia.

 

Radikalisme dinilainya menumpang dan mengadu domba melalui produksi berita hoaks. Menurutnya, siapapun tidak perlu merasa dirinya paling benar.

 

"Yakin paling benar iya, tetapi mengklaim paling benar itu menyebabkan orang lain kita musuhi, itu tidak boleh," katanya.

 

"Jangan sampai bangsa ini rusak karena hoaks, itu sangat-sangat berbahaya bagi kita. Oleh sebab itu mari kita suluh kebangsaan ini," tandas Mahfud MD.

 

 

MASYARAKAT HARUS KOMPAK MELAWAN

 

Rakyat Indonesia untuk kompak melawan berita bohong atau hoaks.

Permintaan itu dilayangkan mantan Ketua MK, Mahfud MD. Hal ini diyakini mampu menangkal kasus seperti hoaks 7 kontainer berisi surat suara tercoblos.

 

Mahfud menjelaskan, tidak ada cara lain untuk mencegah dan mengantisipasi hal tersebut bila masyarakat tidak mengkampanyekan. Namun, bila terlanjur terjadi, pelaku harus ditangkap dan dihukum sebagai bentuk tindakan represif.

 

"Itu tangkap orangnya, dihukum sesuai bunyi undang-undang yang mengancam hukuman," jelas Mahfud MD di Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (10/1).

 

Mahfud menilai, hoaks juga menjadi semakin berbahaya ketika elit politik ikut terlibat dan menyebarkannya. Dia mengatakan, mereka juga harus ditangkap bila terbukti menyebarkan.

 

"Sikap ideal sebagai politikus semua harus jujur, kan gitu idealnya. Kalau terpaksa tidak jujur suka mengedarkan hoaks, ya ditangkap saja kan gitu," tegasnya. (mrd/lip.6)

 


Komentar


Sponsors

Daerah

Sponsors