Darurat Karangetang


Siau, MS

Lonceng peringatan bergema. Aktivitas vulkanik Gunung Karangetang di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro), jadi pemantik. Gelagat mengkhawatirkan ‘Api Siau’ mulai terendus. Pemerintah langsung bereaksi.

 

Menyikapi kondisi terkini salah satu gunung berapi di ujung utara Nyiur Melambai ini, status siaga darurat Gunung Api Karangetang telah dikeluarkan.

 

Itu diakui Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sitaro, Charlton Bob Wuaten ST.

 

Dia mengungkapkan, rekomendasi ini dikeluarkan Bupati sesuai hasil rapat yang dilaksanakan pada Senin (7/1) lalu. "Rekomendasinya sudah langsung diproses dan tanggal (penetapan) disesuaikan dengan proses administrasi," terang Charlton, Kamis (10/1).

 

Dijelaskannya, hal tersebut mengingat peningkatan aktivitas Karangetang dari level II yang sejak 20 Desember 2018 lalu dinaikkan menjadi level III. “Saat ini aktivitas Karangetang belum ada penurunan. Sehingga ada beberapa rekomendasi yang terus diperingatkan petugas pos pengamat gunung api," katanya.

 

Sementara itu, dari pemantauan pihak Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang di Kampung Salili, Kecamatan Siau Tengah (Siteng), secara visual gunung kabut 0-I hingga kabut 0-II, termasuk asap kawah tidak teramati. "Guguran yang terjadi juga kadang meningkat kalau siang tadi 13 kali, sore harinya menjadi 15 kali, amplitudo 3-8 mm, durasi 50-55 detik. Untuk hembusan 17 kali dengan amplitudo 20-50 mm, durasi 50-75 detik, tremor harmonik juga tercatat terjadi tiga kali, amplitudo 26-40 mm, durasi 85-90 detik,” jelas Anggota PGA Didi W Bina.

 

Didi menambahkan, pihaknya juga mencatat terjadi hybrid atau fase banyak dengan jumlah dua kali, amplitudo 8-10 mm, S-P tercatat 0 detik, dengan durasi 10-15 detik. "Sedangkan terekam pula terjadi vulkanik dangkal jumlah satu kali, amplitude 7 mm, durasi 5 detik, tektonik jauh jumlah tiga kali, amplitudo 10-16 mm, S-P 20 detik, durasi 55-60 detik. Demikian pula terekam tremor menerus (microtremor) dengan amplitudo 0.5-2 mm, meski dominan 0.5 mm,” katanya.

 

Menurut Didi, dengan kondisi gunung seperti sekarang telah merekomendasikan larangan bagi masyarakat atau pun wisatawan agar tidak melakukan pendakian atau beraktivitas di radius 2,5 kilometer dari kawah dua (Kawah Utara) dan kawah utama (Kawah Selatan). “Termasuk ke arah Utara-Timur-Selatan-Barat dan radius 3 kilometer ke arah Barat Laut,” tutupnya.(haman)


Komentar