SULUT DARURAT BENCANA


Manado, MS

Nyiur Melambai kritis. Peningkatan curah hujan yang mendera seluruh wilayah Sulawesi Utara (Sulut), mulai berefek bencana. Itu diperkuat dengan laporan terjadinya tanah longsor serta banjir di beberapa tempat. Reaksi khawatir masyarakat membuncah.

Kondisi itu menjadi fenomena mencekam setiap awal tahun. Musibah kerap meneror. Menyikapi hal tersebut, langkah-langkah pencegahan intens digulirkan. Seruan kewaspadaan langsung bersahut-sahutan. Tragedi maut di pertengahan Januari 2014 silam, jadi referensi.

Berawal dari Kota Manado. Beberapa titik strategis di ibukota jazirah utara Pulau Selebes dikabarkan ‘lumpuh’. Banjir lokal menerjang sejumlah poros strategis, Selasa (15/1). Data yang dirangkum media ini, terjadi genangan air sekira 30-50 sentimeter di sekitar Perkamil eks Pacuan Kuda, Kampung Ternate, Dendengan Dalam, Ranomuut dan Liwas. Selain itu, bencana tanah longsor terjadi di Teling Atas. Sekira dua keluarga terkena imbas.

Wakil Walikota (Wawali) Manado Mor Dominus Bastiaan langsung bereaksi. Dia memberikan himbauan agar warga Manado terutama yang tinggal di bantaran sungai untuk waspada serta menghindari daerah-daerah yang rawan bencana longsor. “Kita hindari dari hal-hal yang tidak inginkan. Kita doakan agar Tuhan melindungi kota Manado. Tuhan memberkati,” ungkap Bastiaan dalam akun media sosialnya, kemarin.

Situasi serupa melanda Kota Tomohon. Sejumlah ruas jalan strategis seperti poros Manado-Tomohon, jalan lingkar barat serta pemukiman warga di Kelurahan Kakaskasen diterjang tanah longsor. Langkah pembersihan langsung dijabal berbagai pihak, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), jajaran Kepolisian Resor (Polres) Tomohon, TNI dan masyarakat. Bahkan, satu unit alat berat diterjunkan.

“Kami sangat berharap semua masyarakat untuk waspada. Cuaca ekstrem saat ini harus diwaspadai, apalagi sebagian wilayah Tomohon berada di pegunungan. Pemerintah kelurahan harus proaktif mensosialisasikan kepada masyarakat dan berkoordinasi dengan pemerintah. Staf BPBD sudah kami instruksikan untuk siaga,” tandas Walikota Tomohon Jimmy Feidie Eman SE Ak, Selasa (15/1).

Di Kabupaten Minahasa Utara (Minut), sejumlah fasilitas publik terisolir. Itu dipicu hujan deras yang mengguyur daerah ini, Selasa (15/1). Hasil pantauan media ini, itu terjadi di Desa Likupang 1, Kecamatan Likupang Timur (Liktim). Sekira tiga jaga nyaris tenggelam digenangi air termasuk sarana sekolah. Begitu juga dengan sejumlah rumah warga di Kecamatan Wori dan mengakibatkan warga terisolir.

Seperti disampaikan warga, Stenly Tunas. Menurutnya, adanya genangan air yang cukup tinggi di Desa Likupang I akibat hujan deras yang mengguyur Likupang dan SMA Likupang juga ikut tergenang. “Kondisi ini seharusnya cepat ditangani pemerintah sehingga tidak makin parah dan merugikan masyarakat,” harapnya.

Di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), cuaca ekstrim telah berdampak pada Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) SMP 2 Tombatu. KBM pada sekolah yang terletak di Molompar Kecamatan Tombatu Timur, sempat terganggu dikarenakan terkena longsor.

"Ini memang perlu diwaspadai karena cuaca ekstrim. Sebab baru-baru ini, salah satu fasilitas pendidikan di Molompar terkena bencana longsor," ungkap Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Minahasa Tenggara (Mitra) Ferry Uway, kemarin.

Kata dia, kejadian bencana di Mitra tetap ada meski terbilang kecil. "Longsor pada beberapa titik jalan memang ada, namun masih dapat diatasi. Namun begitu kita harus tetap mewaspadai cuaca sekarang ini," kata Uway.

Di Kabupaten Minahasa, dampak peningkatan curah hujan menyebabkan longsor dan pohon tumbang di sejumlah titik. Kondisi ini sempat memicu terhambatnya akses transportasi untuk sementara waktu. Beruntung tak laporan adanya korban jiwa.

Khusus di wilayah Minahasa, dampak cuaca buruk seperti pohon tumbang dan longsor dengan skala kecil mulai terjadi sejak awal pekan ini. Pada Senin (14/1) malam sekitar pukul 20.00 Wita, sebuah pohon besar dilaporkan tumbang di rute Tondano menuju Airmadidi, tepatnya di ruas jalan Desa Tonsea Lama, Tondano Utara. Meski sempat mengganggu arus lalu lintas, batang pohon yang menutup badan jalan tersebut akhirnya berhasil disingkirkan dalam waktu sekitar 1,5 jam.

Kondisi yang sama terjadi Selasa (15/1) kemarin. Pohon tumbang terjadi di rute Tondano menuju Manado antara Kelurahan Sasaran Kulo menuju Desa Suluan. Batang pohon menutup separuh badan jalan. Di rute tersebut juga ada beberapa titik longsor kecil yang terjadi.

Kepala BPBD Kabupaten Minahasa, Drs Johanis Pesik mengatakan, pihaknya bersama aparat TNI dan Kepolisian dibantu warga sudah melakukan pembersihan baik di lokasi pohon tumbang maupun longsor. "Setelah mendapat laporan, personil kita bersama pihak Kodim dan Polres langsung menuju lokasi membersihkan batang pohon yang tumbang karena mengganggu arus lalu lintas di lokasi tersebut," paparnya.

Selain itu, ada beberapa titik longsor yang terjadi seperti di jalur antara Kelurahan Woloan menuju Mawaras, Tondano Utara. "Untuk penanganan pohon tumbang sejauh ini sudah selesai, hanya untuk penanganan longsor di jalur Woloan menuju Marawas itu akan dikoordinasikan dengan pemerintah keluarahan setempat untuk melaksanakan kerja bakti karena itu masih bisa diselesaikan dengan partsipasi masyarakat setempat," tutur Pesik.

Ditanya soal pengerahan alat berat ke lokasi longsor, Pesik menyebut bahwa hal itu belum dikondisikan karena skala longsor masih tergolong ringan. "Diameter material tanah yang longsor di jalur Woloan ke Marawas itu 5 meter dengan panjang sekitar 6 meter, jadi masih bisa diselesaikan denga kerja bakti," imbuhnya.

Longsor dengan skala kecil juga dikabarkan terjadi di ruas jalan trans Sulawesi, tepatnya di Desa Senduk, Tombariri, kemarin sekitar pukul 07.30 Wita. Material tanah yang menutupi separuh badan jalan membuat arus lalu lintas terganggu. Namun berhasil diselesikan dengan kerja sama pihak pemerintah dan warga setempat bersama personil TNI.

Pesik menyebut, sejauh ini jenis bencana alam yang terjadi di wilayah Minahasa berupa longsor dan pohon tumbang. "Kalau banjir sampai saat ini belum ada laporan," sambungnya.

Namun lanjut dia, cuaca ekstrim diperkirakan masih akan terjadi beberapa waktu ke depan. Untuk itu warga diminta untuk waspada, khususnya yang bermukim di daerah rawan bencana.

"Menyikapi kondisi cuaca ekstrem saat ini, maka pemerintah menghimbau kepada masyarakat agar kita tetap waspada. Jauhi lokasi-lokasi rawan bencana, baik itu daerah rawan longsor, banjir serta awasi pohon-pohon besar yang sudah rapuh dan rawan tumbang di lokasi pemukiman," pungkas Pesik.

Bencana juga menyasar Bumi Totabuan. Kurang lebih 24 jam kondisi Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) dari pantauan media ini, terus diguyur hujan. Akibatnya, sejumlah pemukiman warga yang setiap saat menjadi langganan banjir pun mulai dihinggapi was-was. “Jika keadaan ini terus terjadi maka kami pastikan banjir akan menggenangi rumah kami,” tandas sejumlah warga di Kecamatan Bintauna.

Sebelumnya pada banjir dan longsor beberapa waktu lalu Pemkab Bolmut telah membantu sedikitnya 549 kepala keluarga (KK). “Pemkab Bolmut tidak akan tinggal diam dengan kondisi yang dialami oleh masyarakat, bantuan serta tenaga siap diturunkan untuk membantu masyarakat yang terkena banjir maupun longsor,” pungkas Bupati Bolmut Depri Pontoh.

Ia berharap melalui kondisi yang terjadi saat ini masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan sehingga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Dengan adanya kondisi seperti ini tentunya sikap mawas diri terhadap segala sesuatu perlu menjadi perhatian dari semua pihak termasuk masyarakat,” harap Bupati.

Sementara itu, curah hujan tinggi yang melanda Kota Kotamobagu akhir-akhir ini, diharapkan membuat warga Kota Kotamobagu meningkatkan kewaspadaan akan kemungkinan bencana alam. Oleh karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu mengajak masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah rawan bencana untuk waspada.

“Tetap waspada dan antisipasi terutama bagi warga yang tinggal di pinggiran sungai DAS, karena saat ini curah hujan antara sedang dan lebat serta curah hujan sudah tingkat menengah,” imbau Kepala BPBD Kota Kotamobagu, Refly Mokoginta.

Selain yang tinggal di DAS, warga yang tinggal di daerah perbukitan atau gunung khususnya di daerah katulidan, ilongkow kotobangon dan sepanjang jalan Trans Mongkonai, untuk berhati hati dengan pergerakan tanah akibat curah hujan yang dapat mengakibatkan tanah longsor.

“Jika terjadi hal hal yang tidak kita inginkan masyarakat bisa menghubungi langsung BPBD setempat maupun Basarnas,” lugas Refly.

Untuk diketahui, pada pertengahan Januari 2014 silam, Sulut sempat diterpa bencana hebat. Saat itu, aktifitas masyarakat di Kota Manado dan sejumlah daerah dinilai mati suri. Terputusnya akses jalan karena banjir bandang dan tanah longsor jadi pemicu. Bahkan, bencana itu telah menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan ribuan orang berstatus pengungsi.

NELAYAN MINSEL HILANG

Cuaca ekstrem berbuntut petaka. Selain, banjir dan tanah longsor, kabar hilangnya sejumlah nelayan Minsel saat melaut, menyeruak.

Informasi yang diperoleh media ini, nelayan yang dikabarkan hilang itu belum ditemukan. Salah satu penyebabnya diduga karena cuaca ekstrem. Nelayan tersebut diketahui merupakan warga Desa Popareng, Kecamatan Tatapaan Kabupaten Minsel.

Untuk mengetahui perkembangan terkini proses pencarian nelayan, Camat Tatapaan Melisa Aring SSTP, melakukan koordinasi dengan Kepala Pos SAR Amurang. "Dari pemerintah kabupaten, kecamatan dan desa menyampaikan terima kasih Kepada Basarnas khususnya Tim SAR Pos Amurang atas segala upaya yang telah dilakukan sesuai dengan SOP yang ada saat pencarian nelayan yang hilang saat melaut," jelas Aring.

Dalam pertemuan itu, kata Aring, Kepala SAR Amurang telah menjelaskan tentang apa yang sudah mereka upayakan dalam proses pencairan nelayan. "Agenda koordinasi ini diterima langsung oleh Koordinator Basarnas Pos SAR Amurang Bapak Maryoto. Segala upaya sudah mereka lakukan. Namun, pihak SAR masih tetap berupaya maksimal untuk melakukan pencarian," lugas Aring.

WAGUB MINTA MASYARAKAT WASPADA

Selain masyarakat, sengat kekhawatiran membungkus jajaran pemerintah daerah se-Sulut. Mengantisipasi terjadi korban jiwa, peringatan waspada bencana membahana di seluruh penjuru wilayah.

Wakil Gubernur (Wagub) Steven Kandouw, meminta seluruh masyarakat dan stakeholders terkait untuk tetap waspada jika terjadi hal yang tidak diinginkan. "Gubernur Olly Dondokambey mengimbau agar masyarakat mewaspadai hujan sedang hingga lebat yang berintensitas angin kencang disertai petir yang sedang melanda daerah Sulut," jelas Wagub, Selasa (15/1).

Hal itu dimaksudkan guna menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan bersama. Wagub juga mengingatkan kepada masyarakat yang tinggal dibantaran sungai dan daerah rawan longsor agar mewaspadai jika terjadi bencana. "Sebelum terjadi bencana segeralah mengungsi ke daerah yang lebih aman sehingga ketika terjadi ancaman bencana alam seperti banjir dan longsor warga sudah berada di lokasi yang aman dari bencana," pungkas Wagub.

Untuk stakholders terkait seperti BPBD, Dinsos, Dinkes, PU, agar tetap siap dan sigap memberikan bantuan bagi masyarakat jika terjadi bencana.(tim ms)


Komentar