Biota Laut Bolsel Dijarah

Warga dan Komunitas BDC Protes


Laporan: Hendra DAMOPOLII

POTENSI bawah laut ujung selatan Bumi Totabuan terancam. Kekayaan melimpah khususnya ekosistem biota laut, intens dijarah. Reaksi protes warga membuncah. Oknum pencuri resmi dipolisikan.

Informasi penggarongan biota laut menyembul dari salah satu anggota komunitas Bolsel Diving Club (BDC). Teranyar, pelaku pencurian berasal dari luar daerah Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel).

Demikian Oggi Abas, salah satu anggota komunitas BDC, Selasa (22/1) kemarin. Dia mengaku menemukan beberapa oknum nelayan yang belum dikenalnya sedang mengumpulkan akar bahar dengan jumlah banyak menggunakan perahu. Kejadian tersebut di kompleks pantai Desa Pintadia Kecamatan Bolaang Uki, Senin (21/1). Melihat para oknum nelayan asing itu, Oggi kemudian menyambangi mereka dan berkomunikasi. “Saya menanyakan kalau mereka berasal dari mana, dan mereka mengaku warga Desa Tumbak Kabupaten Mitra (Minahasa Tenggara),” terang Oggi.

Dia juga sempat mengintoregasi jika akar bahar ini akan digunakan untuk apa dan akan dibawa ke mana. “Mereka bilang, akar bahar ini akan dijual kepada salah satu pengepul di Desa Poigar Kabupaten Bolmong. Kata mereka, akan dibuat menjadi obat. Usai melakukan interogasi, saya langsung mengambil gambar ke arah mereka,” urainya.

Usai bertanya-tanya dengan nelayan misterius ini, Oggi langsung beranjak dan mengabari rekan-rekan komunitasnya untuk melaporkan kejadian ini kepada polisi.

Kapolsek Urban Bolaang Uki Kompol Baharudin Samin membenarkan informasi tersebut. “Iya benar warga melaporkan kejadian ini. Tetapi saat kita turun, barang bukti berupa akar bahar sudah tidak ada, termasuk mereka yang mengambil,” jelasnya.

Menurut dia, polisi hanya menemukan perahu yang digunakan untuk mengangkut akar bahar, tetapi para pelaku sudah tidak berada di tempat. “Saya juga sudah mengingatkan kepada aparat desa (kepala dusun), jika suatu hari nanti mereka datang untuk mengambil perahu, langsung dilaporkan kepada kami,” terangnya.

Terkait hal itu, Ketua BDC Bolsel Stanly Eskolano Kakunsi mengaku kecewa. Menurut Stanly, harusnya Dinas Perikanan ikut ambil bagian menindak para pelaku yang merusak ekosistem laut di Bolsel. “Kami sangat kecewa. Sebab, sudah beberapa kali kejadian begini, tidak pernah digubris oleh dinas terkait, malah selalu melemparnya ke provinsi. Toh kalau memang sudah menjadi kewenangan provinsi, minimal melakukan pendampingan dengan pihak berwajib saat melakukan penertiban. Bukan duduk diam di kantor,” sesalnya.

Diakui Kepala Dinas Perikanan Awaludin Lamalani, jika persoalan seperti ini bukan lagi menjadi tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) pihaknya. Karena sesuai dengan aturan nomor 24 UU Nomor 3 Tahun 2014, kewenangan pesisir sudah ditarik ke provinsi. “Kegiatan kita tinggal perikanan tangkap dan budidaya,” jelasnya.

Namun, lanjutnya, pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan petugas pos angkatan laut di Panango. “Penindakan tidak bisa, karena itu bukan tupoksi kami,” lugasnya.(*)


Komentar