TANTANGAN OLLY


Manado, MS

Ketangguhan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP)  di pentas politik Nyiur Melambai bakal diuji. Pembuktian di arena Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) akan jadi ajang pembuktian. Target memborong tiga kursi Senayan jadi tantangan bagi sang maestro, Olly Dondokambey.

Keberhasilan merebut dua kursi DPR-RI di Pileg 2014 mendorong optimisme kubu PDIP Sulut. Taktik dan strategi gencar dimainkan untuk mendominasi kursi wakil rakyat di Senayan tahun 2019 ini. Target tiga kursi yang dipatok akan menguji ketangguhan Banteng di pentas politik Nyiur Melambai.

Manuver awal yang dijabal yakni dengan mendorong enam figur populis sebagai mesin pendulang suara. Sebut saja nama Adriana Dondokambey, Herson Mayulu, Jantje Wowiling Sajow, Djenri Keintjem, Vanda Sarundajang dan Jeffry Wurangian.

Pengamat politik Sulut, Feri Liando menilai, parameter utama yang bisa menakar sejauh mana peluang PDIP Sulut untuk mewujudkan target 3 kursi di DPR-RI pertama yaitu Parlemen Threshold. Aturan ini menyangkut ambang batas sebesar 4 persen dari hasil perolehan suara Pemilu 2019 yang menjadi syarat utama bagi parpol untuk duduk di parlemen.

“Dari hasil survei lembaga-lembaga survei nasional, PDIP menempati urutan pertama. Jadi soal tiket ke parlemen itu tidak masalah bagi PDIP. Namun terkait target, misalnya PDIP Sulut berniat merebut 3 kursi, saya kira itu akan ditentukan berapa jumlah parpol yang memenuhi syarat ambang batas untuk duduk di parlemen,” papar Liando.

“Artinya begini, semakin sedikit parpol yang memenuhi ambang batas minimal 4 persen perolehan suara, maka tentu peluang PDIP untuk merebut kursi lebih akan semakin terbuka. Sebaliknya, semakin banyak parpol yang lolos diparlemen maka tentu persaingannya akan lebih berat,” jelasnya lagi.

Hasil survei Populi Center dan Litbang Kompas memprediksikan hanya lima parpol yang berpeluang lolos ke Parlemen 2019, yakni PDIP (29,9 %), Gerindra (16 %), PKB (6,3 %), Golkar (6,2 %) dan Demokrat (4,8 %). Menurut Liando, jika hasil survei itu dijadikan acuan, maka peluang PDIP Sulut untuk mengutus 3 perwakilannya bisa terwujud.

“Karena kalau kita melihat hasil survei populi center yang menempatkan hanya lima parpol tersebut dan kemudian dibandingkan dengan kondisi di Sulut saat ini, maka target tiga kursi itu bukan mustahil. Sebab harus diakui dari lima parpol yang diprediksikan itu hanya empat diantaranya yang berpotensi di wilayah Sulut. PKB kalau di Sulut calegnya mungkin agak sulit lolos ke parlemen,” ujarnya.

Jika takaran di Sulut pertarungan empat parpol, PDIP sebut Liando, dari berbagai indikator akan lebih diuntungkan dalam pertarungan merebut kursi ke Senayan. Faktor pertama, menurutnya, nama-nama caleg yang diumumkan PDIP Sulut  adalah figur-figur yang dikenal publik, memiliki nama besar, dan popularitasnya cukup bagus.

“Basis masa pun jelas, karena ada juga calon mantan kepala daerah yang didorong maju, contohnya dari Minahasa (Jantje Sajow, red) dan Bolsel (Herson Mayulu, red).  Bagaimana pun kekuatan pendukung mereka cukup besar sebab punya track record sebagai penyelenggara pemerintahan,” paparnya.

Di sisi lain, saat ini PDIP dinilai sebagai salah satu parpol yang sangat kuat dari aspek kelembagaan. “Ini berdasarkan situasi dan kondisi saat ini, dimana PDIP adalah salah satu parpol yang ditunjang oleh struktur organisasi yang solid. Berbeda dengan parpol lain yang saat ini kerap dilanda persoalan internal, dan yang jelas parpol yang sering konflik akan sulit untuk bersaing,” tandasnya.

Faktor lain yang menguntungkan PDIP adalah sistim konversi suara dengan model sainte lague. Liando menilai, sistim ini akan sangat menguntungkan partai-partai yang kelembagaannya solid.

“Sebab dalam sistim konversi suara dengan model sainte lague  ini parpol yang solid akan berpengaruh pada elektabilitas. Jadi semakin banyak suara yang diperoleh maka akan berpengaruh pada perolehan kursi, termasuk di Dapil Sulut,” katanya.

Di wilayah Sulut, PDIP merupakan salah satu parpol yang  mengoleksi kepala daerah paling banyak. Menurut Liando, eksekutif yang terafiliasi dengan parpol pengaruhnya sangat dominan sebagai mesin pengumpul suara.

“Mobilisasi ASN dan pejabat sebagai pengumpul suara di daerahnya adalah cerita klasik dari pemilu ke pemilu, bahkan itu menjadi salah satu senjata ampuh bagi parpol untuk mengirimkan wakil-wakil ke parlemen,” bebernya.

 

 

NASDEM JADI PENENTU

 

Terlepas dari berbagai faktor yang memperlebar peluang PDIP Sulut mengirim 3 kursi ke Senayan, menurut Liando, ‘kartu trufnya’ ada pada Partai Nasdem. Berhasil tidaknya PDIP mewujudkan target akan ditentukan pada posisi partai besutan Surya Paloh apakah bisa masuk ke parlemen atau tidak.

“Analisa saya di atas acuannya dari hasil survei lembaga nasional yang tak menempatkan Nasdem sebagai salah satu parpol yang bisa lolos ke parlemen. Namun jelas kondisinya akan berbeda jika nanti Nasdem memenuhi ambang batas, apalagi untuk pertarungan di wilayah Sulut,” kata Liando.

“Meski PKB dari hasil survei diprediksi bisa lolos, tapi kalau di Sulut calegnya agak sulit lolos. Berbeda dengan Nasdem, jika berhasil lolos parlemen threshold, maka peluang caleg dari Nasdem di dapil Sulut cukup besar. Target 3 kursi dari PDIP bisa terganggu,”

PDIP, ujar dia, jelas akan sangat kesulitan memenuhi target 3 kursi jika Partai Nasdem berhasil masuk parlemen. Parameter itu, menurut Liando, salah satunya bisa diukur dari faktor keterlibatan kepala daerah.

“Untuk Sulut, Nasdem pastinya akan mendapat support dari tiga kabupaten dan kota. Karena seperti yang saya sebut sebelumnya, faktor mobilisasi dari top ekskutif itu akan berpengaruh dalam perolehan suara. Jadi peluang satu kursi yang seharusnya dominan ke PDIP bisa bergeser menjadi milik Nasdem apabila nanti mereka berhasil memenuhi syarat parlemen threshold,” paparnya.

Selain itu, pertarungan di internal PDIP untuk DPR-RI, kata Liando, akan berlangsung sangat sengit. Para calon dinilai harus berjibaku dan menyelamatkan diri masing-masing. Sebab sistim penentuan pemilik kursi ditentukan oleh peraih suara terbanyak.

“Tak menutup kemungkinan terjadi proses kanibalisme antar caleg di PDIP. Artinya bisa saja sesama caleg yang rawan akan saling menelikung satu sama lain, karena masing-masing akan menyelamatkan diri untuk meraih suara terbanyak sebagai syarat memperoleh kursi,” tandasnya.

 

 

STRATEGI PEMBAGIAN SUARA MINAHASA

 

Hasrat PDIP untuk bisa meraup tiga kursi Senayan ditakar dari berbagai beragam aspek. Pengamat politik Taufik Tumbelaka menilai peluang itu bisa diraih. Namun harus ada strategi tepat yang dimainkan kubu Moncong Putih untuk mewujudkan target tersebut.

Bang Taufik, sapaan akrabnya, condong melihat potensi suara di daerah Minahasa. Bahkan dia melihat adanya strategi yang akan sengaja dimainkan PDIP untuk memenuhi target kursi di DPR-RI dari Dapil Sulut.

"Bisa saja daerah Minahasa yang punya suara signifikan sengaja dijadikan wilayahnya JWS, karena PDIP memiliki strategi dalam mendulang suara dari dapil Sulut dengan target 3 kursi. Dengan kata lain akan dibuat strategi berbagi wilayah politik guna mengantisipasi lawan dari parpol lain," ujarnya.

Apalagi persaingan eksternal dengan figur-figur dari parpol lain dinilai cukup ketat. Dia menyebut, PDIP pasti telah memiliki pemetaan suara potensial masing-masing caleg.

“Artinya jika dua calon sudah berpotensi untuk duduk maka bisa ada strategi membagi ke satu calon lainnya. Peluang itu bisa dilihat di Minahasa sebab yang mencalonkan diri merupakan mantan kepala daerah yang tentu punya massa,” tandasnya.

“Jadi dalam pertarungan politik semua cara bisa dilakukan. Tinggal melihat dengan situasi dan kondisi di lapangan, apakah tepat atau tidak. Saya kira PDIP parpol yang matang pengalaman dan punya langkah-langkah strategis soal itu,” pungkas jebolan Universitas Gajah Mada itu.

Senada, Goinpeace Tumbel, akademisi sekaligus pengamat politik menilai, disamping basis massa yang kuat, strategi yang dimainkan masing-masing kandidat disebut akan jadi penentu hasil suara yang diraup. "Masing-masing figur memiliki peluang dan potensi untuk mendapatkan suara yang signifikan, karena datang dari parpol yang memiliki dukungan yang signifikan dan memiliki basis suara serta menguasai segmen komunitasnya masing-masing," tanggapnya.

"Soal siapa yang meraih suara terbanyak nanti, itu sangat tergantung pada upaya dan strategi yang dilakukan masing-masing figur," ujarnya.

Tumbel berpendapat, strategi membangun komunikasi politik, menjala, mengumpul, mengoleksi dan mempertahankan basis massa yang sudah dimiliki semuanya tergantung pada strategi manajemen politik masing-masing figur. "Sebab itu caleg tidak harus mengelola sendiri tapi harus memiliki tim khusus untuk pekerjaan-pekerjaan politik secara teknis," tandasnya.

 

BANTENG SULUT OPTIMIS

 

Nada optimis mengalun dari kubu pengurus Moncong Putih Sulut. Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) PDIP Sulut, Lucky Senduk menyebut, untuk meraih target tiga kursi itu ada beberapa langkah prioritas yang dilakukan.

Pertama yaitu mempertahankan suara PDIP di Pemilu Legislatif DPR-RI tahun 2014 yaitu sebanyak 449.000 suara. PDIP Sulut optimis perolehan itu bisa dipertahankan mengingat figur-figur caleg yang maju dalam Pileg 2014 dan meraih suara signifikan kembali mencalonkan diri dalam Pileg tahun ini.

“Tokoh-tokoh PDIP Sulut dalam Pileg 2014 lalu ada pak Olly Dondokambey, Vanda Sarundanjang, Jenri Keintjem dan calon lainnya. Mereka memperoleh suara signifikan. Nah tahun ini kita optimis hasil itu bisa dipertahankan salah satu alasannya karena mereka mencalonkan diri lagi,” kata Senduk.

“Mengapa saya sebut seperti itu, karena Djenri dan Vanda kan kembali maju, sedangkan pak Olly yang saat ini menjabat Gubernur meski tak lagi mencalonkan diri namun ada figur Adriana Dondokambey  yang bisa dibilang implementasinya pak Olly,” jelasnya lagi.

Selain itu, PDIP Sulut saat ini memiliki amunisi baru. Dia mencontohkan dengan majunya sosok Herson Mayulu yang dianggap akan memberi kontribusi suara bagi PDIP dari wilayah Bolaang Mongondow (Bolmong) Raya.

“Pileg 2014 lalu kontribusi suara dari Bolmong Raya itu bisa dibilang kecil. Tapi dengan hadirnya pak Herson Mayulu di Pileg DPR-RI tahun ini kita optimis suara PDIP dari Bolmong Raya akan lebih signifikan dan akan mendongkrak keseluruhan suara dari Dapil Sulut,” tandasnya.

Senduk yakin, perolehan suara PDIP di Sulut untuk DPR-RI di Pileg 2019 ini akan naik dibanding 2014 lalu. “Kalau dulu (pileg 2014, red) PDIP dapat memperoleh 449 ribu suara, maka dengan sangat yakin tahun 2019 ini kita akan berhasil merebut 500 ribu suara,” lugasnya optimis.

Keyakinan memperoleh 500 ribu suara inilah yang membuat PDIP Sulut yakin target 3 kursi  ke Senayan bisa terpenuhi di ajang pesta demokrasi Pileg tahun ini. “Hitung-hitungan sederhananya begini, 500 ribu suara itu kan jika dibagi 5 menjadi 100 ribu, sedangkan jika kita melihat  kursi terakhir DPR-RI di Pileg 2014 lalu suaranya tak sampai 100 ribu. Jadi peluang 3 kursi itu bukan mustahil, malah kita sangat yakin dapat terpenuhi,” kata Senduk.

Disentil soal strategi PDIP terkait pemetaan basis masa masing-masing caleg DPR-RI, menurut Senduk, tak ada batasan yang ditetapkan. Masing-masing caleg kata dia, dibebaskan untuk bermanuver di seluruh wilayah Sulut.

“Tidak ada batasan, semua bebas bergerak. Tapi ada aturannya yaitu harus melibatkan pengurus PDIP. Karena dengan melibatkan struktural partai maka akan ketahuan pertarungannya antara internal atau pertarungan eksternal dengan parpol lain,” jelas Senduk.

Dia mencontohkan pertarungan di wilayah Minahasa yang memiliki potensi suara yang cukup banyak. Dengan melibatkan pengurus partai, maka menurutnya akan kelihatan berapa calon internal yang bertarung.

“Jadi intinya jangan sampai ada ketegangan antara sesama calon PDIP yang bisa memicu polemik atau pertarungan tak sehat di internal partai. Makanya sekali lagi, sangat penting dan wajib untuk melibatkan pengurus partai di masing-masing wilayah karena mereka yang lebih tahu situasi dan kondisi di lapangan seperti apa,” tandas Senduk.

Di sisi lain, semua caleg juga diarahkan untuk bertarung merebut sauara di basis-basis suara PDIP yang potensial. Dia mencontohkan wilayah-wilayah seperti Minahasa, Minahasa Tenggara (Mitra), atau Bolmong Selatan (Bolsel).

“Artinya daerah yang eksekutifnya dari PDIP, karena tentu potensinya jelas akan lebih besar. Tapi itu secara khusus, kalau secara umum tentunya harus berjuang di semua daerah di Sulut. Jadi intinya akan sangat tergantung dari sejauh mana figur yang diusung ini bekerja,” pungkas Senduk.(***)


Komentar