Suasana pembukaan perayaan hari masyarakat adat sedunia di Sulut.

10 Tahun PBB Deklarasikan Hak Masyarakat Adat

  • AMAN Sulut Gelar Festival Nyiur Melambai

 

Tondano, MS

Gaung perjuangan terhadap hak masyarakat adat, kencang disuarakan dari Kota Tondano. Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia tahun 2017 jadi momen penting mengkampanyekannya. ‘Festival Nyiur Melambai’ pun digelar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

Rabu (9/8), ratusan manusia jaringan AMAN Sulut terkumpul, di bangunan Loji, Kelurahan Rinegetan, Kecamatan Tondano Barat, Kabupaten Minahasa. Hari masyarakat adat sedunia ini mengangkat tema, 'Merayakan 10 Tahun Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (United Nations Declaration on the Rights of Indigenous Peoples (UNDRIP)'.

Acara tersebut diisi tarian Kawasaran, musikalisasi puisi, soft launching buku, ritual adat, musikalisasi puisi, musik kreatif, kalelon makaaruyen, pemutaran film pendek, pameran lukisan, pameran fotografi, pameran buku dan masih banyak lagi.

"9 Agutus ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Tahun 2017 ini, adalah peringatan 10 tahun Deklarasi PBB Tentang Hak-Hak Masyarakat Adat (UN Declaration on The Rights of Indigenous Peoples - UNDRIP). Sebuah deklarasi yang diperjuangkan selama lebih dari 20 tahun oleh Masyarakat Adat di seluruh dunia yang kemudian diadopsi dan disahkan pada tahun 2007," kata Ketua Pengurus Wilayah AMAN Sulut, Lefrando Andre Gosal.

Ia menjelaskan, Indonesia merupakan negara yang turut mengadopsi deklarasi ini. Terdiri dari 46 pasal dan 52 ayat. "Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat menekankan berbagai hak Masyarakat Adat termasuk hak atas tanah, wilayah dan sumber daya, hak politik, sosial, budaya hingga hak atas berbagai jenis olahraga dan permainan tradisional," tambah putra Tondano ini.

Deklarasi ini merupakan terobosan paling kuat dalam sejarah negosiasi dan kesepakatan internasional tentang hak-hak masyarakat adat. "Ayo, masyarakat adat seluruh Nusantara, mari rayakan 10 Tahun Deklarasi PBB tentang hak-Hak Masyarakat Adat ini di wilayah adatmu. Tanam pohon, ritual, permainan dan olahraga tradisonal, menari, menyanyi, berkumpul, rayakan dan resapi, sejauh mana hak-hak kita dihormati dan dipulihkan?," ajaknya.

"Mari rayakan dengan syukur dan perenungan. Selamat merayakan hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia," kunci alumnus Fakultas Teologi UKIT ini.

Sementara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa, Agustifo Tumundo yang hadir saat itu memberi apresiasi kegiatan tersebut. "Saya atas nama pemerintah kabupaten Minahasa memberi dukungan penuh atas penyelenggaraan acara ini. Banyak selamat untuk kita yang boleh merayakan hari masyarakat adat sedunia ini," ungkap Tumundo.

Acara ini turut dihadiri sejumlah ormas, komunitas dan jaringan AMAN Sulut. Di antaranya, Makatana Minahasa Walak Tondano, Tondano Smart Musically Community (TSMC), Teater Arsitektur Perkotaan (Terakota), Kalelon Makaaruyen Minahasa (KAMA Minahasa), Komunitas Penulis Muda Minahasa “Mapatik”, Mawale Fotografi, Komunitas Seni Mandiri (Konsen) Minahasa, Waraney Wuaya, Komunitas Pawowasan, dewi laut; LBH Manado, AJI Manado, Swara Manguni Sulut, Mawale Movement, Konsen Minahasa, Wale Papendangan Sonder dan masih banyak lagi jaringan lainnya. (arfin tompodung)

Banner Media Sulut

Komentar