Robby Manampiring, terikat dengan rantai pada potongan kayu besar, serta kunjungan warga yang prihatin dengan keadaannya.(foto: rul)


6 TAHUN DIIKAT KARENA GANGGUAN JIWA

Robby Tidur Beralaskan Papan di Atas Tanah

 

Amurang, MS

Miris. Itulah kata yang cocok untuk menggambarkan kondisi Robby Manampiring. Pria berusia 39 tahun asal Desa Paslaten, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahàsa Selatan (Minsel), diikat dengan rantai besar pada sebatang kayu besar, di belakang rumahnya. Robby sudah diikat di tempat itu selama 6 tahun.

Diceritakan Masye Tombokan, ibu Robby, dia diikat karena mengidap gangguan jiwa. Jika dilepas, Robby selalu berontak dan menyerang orang lain. "Robby tidak bisa lagi dilepas, karena akan menyerang orang lain," kata Masye.

Dikisahkannya, 6 tahun silam Robby menyerang ayahnya sendiri. Akibat serangan maut Robby, ayahnya itu meninggal dunia. "Ayahnya sendiri dia bunuh. Iti terjadi ketika penyakit Robby kambuh," ungkapnya.

Setahun kemudian, saat Robby dilepas, dia kembali berulah. Akibatnya, nyawa kemenakannya sendiri melayang. Anak bayi berusia 3 minggu dibunuh Robby dengan menggunakan parang. "Sejak saat itulah Robby diikat," terang Masye.

Sebenarnya kata dia, Robby sudah sempat dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, Ratumbuysang Manado. Namun, karena keluarga tak lagi punya biaya, Robby dikembalikan ke rumahnya. "Kami tidak mampu lagi membiayai pengobatan Robby, jadi dia dikembalikan lagi ke rumah," timpalnya.

Dia berharap, pemerintah dapat membantu mereka mengobati Robby. Sebab, jika tidak diobati, dikhawatirkan akan membahayakan orang lain. "Mudah-mudahan pemerintah mau membantu biaya pengobatan Robby," pungkasnya.

Keprihatinan pun datang dari masyarakat Minsel. Rabu kemarin, owner Rumah Makan Turangga, Rita Lolowang, memberikan bantuan bahan makanan kepada keluarga Robby. "Mudah-mudahn bantuan kecil ini dapat meringankan beban keluarga," kata Lolowang.(rul mantik)

Komentar