“Ahok, Mengapa Engkau Meninggalkan Aku” Bag.2

 Oleh: Christivan Galileo Riung STh, MSi (Pemerhati Kemasyarakatan, Politik, dan Agama)

 

Apa artinya kondusivitas yang nir-keadilan itu? Kondusivitas yang riil hanya jika keadilan yang menjadi tiang persatuan Indonesia Merdeka terpenuhi. Tidak juga berarti anarki sehingga mengganggu saudara/i yang akan menjalankan ibadah puasa.

Tapi paling tidak upaya hukum harus diteruskan oleh Ahok. Agar setiap warga boleh belajar memperjuangkan kebenaran melalui lajur konstitusi. Ini justru kesempatan berharga mengedukasi rakyat tentang perlawanan melalui proses hukum terhadap perilaku semena-mena berdalil otoritas primordial.

Menunggang “toleransi”, Ahok tidak lagi menempatkan hukum sebagai dasar toleransi itu sendiri. Maka, apa salahnya dengan para banalis religius yang menggaungkan “toleransi” tapi abai terhadap hukum?

Ahok mestinya banding. Banding sebagai upaya hukum perlu ditempuh dalam pemenuhan hukum sebagai sarana penyelesaian konflik yang mengakar di jantung penyelenggaraan republik ini yaitu tirani anasir teokratis.

Pada mulanya, Ahok mendorong kita untuk melakukan otokritik terhadap praktik agama yang destruktif bagi kemanusiaan. Namun, sungguh sayang, kini ia justru merelakan panji despotisme-religius tegak di neg’ri ini.

Ahok melepas momentum perbaikan fundamental untuk Indonesia. Ia adalah garda depan, membangkitkan semangat kita untuk berpartisipasi aktif menuntut keadilan melalui hukum, tapi kini ia berpaling.

“Ahok, mengapa engkau meninggalkan aku?”, demikian mazmur pahit yang mendengung di  tengah ikhtiar memperjuangkan penyelenggaraan negara yang Pancasilais saat Ahok cabut banding.

Keyakinan Tuhan memang berdaulat dan memegang kendali sejarah setiap bangsa idealnya memberi keberanian ekstra untuk terus berjuang demi tegaknya perikemanusiaan yang dinista oleh distorsi keberagamaaan.(selesai)

Banner Media Sulut

Komentar