Saat warga korban perusahaan sawit berada di depan gedung DPRD Sulut

Aktivitas Perusahaan Sawit ‘Ancam’ Tanaman Warga

Petani Bolmong Mengadu ke Gedung Cengkih

 

Manado, MS

Perusahaan kelapa sawit berulah di Bumi Nyiur Melambai. Petani penggarap di Desa Bolangat, Kecamatan Sangtombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow jadi korban. Gedung cengkih pun jadi tempat pelarian masyarakat.

Selasa (28/2) kemarin, warga  yang terkena dampak penanaman kelapa sawit itu, tampak berkumpul di depan kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Utara (Sulut). Mereka hendak bertemu dengan seorang anggota dewan di daerah pemilihan Bolaang Mongondow (Bolmong) Raya. Rombongan masyarakat ini pun membeberkan maksud kedatangan mereka kepada sejumlah wartawan.

Katoci Amasi, salah satu warga di antara rombongan yang datang itu mengatakan, mereka ingin  mengadukan kegiatan perusahaan sawit PT Karunia Kasih Indah yang mulai mengancam aktivitas perkebunan warga. “Lahan yang akan ditanam kelapa sawit 355 hektare (Ha). 120 Ha masih dipakai warga untuk menanam sementara 200 sekian Ha sudah mereka kuasai,” ungkap Amasi.

Amasi mengakui, tanah tersebut memang bukan milik mereka melainkan pemerintah. Namun masyarakat hanya ingin mereka tetap berkebun di situ sebagai penggarap karena belum memilik tanah sebagai lahan pencaharian untuk memenuhi kebutuhan.

“Kita di situ cuma penggarap. Kita mau masih bisa menanam di situ. Bukan mau ambil tanahnya. Hanya saja kami tidak punya tanah. Masyarakat di Bolangat banyak masih di bawah garis kemiskinan,” tambah wanita ini.

Ia menjelaskan, di lokasi yang sementara warga tanami, direncanakan akan dibuat saluran. Sementara dari pihak warga masih tetap mempertahankannya. “Di situ kita masih menanam rica (cabe), jagung, pisang dan lainnya. Bahkan di lokasi itu ada bendungan yang dibangun pemerintah tapi sudah dirobohkan. Kita yang datang masyarakat satu kecamatan semua. Kita pertahankan itu yang kita tanami sekarang,” tutur dia.

“Kita di sana sama deng ja kase mangasu. Hari-hari berkelahi dengan Brimob. Beberapa hari yang lalu ada penembakan. Masyarakat sementara bekerja traktor kemudian ditembak karena tidak mau berhenti. Mereka larang tapi kita tidak suka berhenti,” kuncinya.

Diketahui, sampai warga angkat kaki dari gedung dewan Sulut, mereka tidak sempat bertemu dengan legislator yang menjadi tujuan untuk menyampaikan aspirasi itu. (arfin tompodung)

Banner Media Sulut

Komentar