Ketua BPH AMAN Sulut, Rivo Gosal, Tua-Tua Adat serta Plt Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Minahasa, Agustivo Tumondo di sela-sela Festival Nyiur Melambai.

AMAN Sulut Dorong Pembentukan Perda Masyarakat Adat

  • Peringati Hari Internasional Masyarakat Adat Se-Dunia 

Laporan : Jackson KEWAS

Sederet persoalan serius melilit masyarakat adat di Nusantara. Tak terkecuali di jazirah utara Selebes. Belenggu diskriminasi, marginalisasi, penghancuran sistem kepercayaan, budaya, bahasa dan cara hidup, kian erat menghimpit. Masyarakat adat tersudut. Kondisi ini memantik geliat komunitas peduli, salah satunya Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) di wilayah Sulawesi Utara (Sulut).

Komitmen memperjuangkan hak masyarakat adat kembali tersulut dalam peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat se-Dunia tahun 2017. Momentum ini juga berkaitan erat dengan pendeklarasian hak-hak masyarakat adat yang digagas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2007 silam.

Semangat ini mendorong AMAN wilayah Sulut, untuk kembali menggugah simpati pemerintah dan wakil rakyat dalam memperhatikan hak masyarakat adat. Dalam Festival Nyiur Melambai yang digelar AMAN Sulut di gedung Loji, Tondano, Rabu (9/8), ada sejumlah pesan yang sempat dititipkan. Di antaranya mendorong inisiatif Pemerintah Daerah Minahasa agar menerbitkan produk Peraturan Daerah (Perda) tentang Masyarakat Adat.

 

"Ada juga beberapa rekomendasi lain kepada pemerintah dan pihak legislatif yang bersifat nasional, seperti meminta percepatan terkait pengesahan RUU masyarakat adat menjadi Undang-Undang. Tapi yang sifatnya menyentuh langsung ke daerah, kami usulkan dibuat Perda Masyarakat Adat," tutur Ketua Badan Pelaksana Harian AMAN wilayah Sulut, Rivo Gosal.

Dorongan itu, lanjut dia, terus dilakukan karena regulasi yang pro hak masyarakat adat dinilai masih lemah. Tak heran, dalam berbagai konflik agraria, baik dengan pemerintah maupun pihak perusahaan, masyarakat adat sering 'gigit jari'.

"Makanya kami juga mendesak pemerintah untuk meninjau ulang  peraturan perundang-undangan terkait Masyarakat Adat khususnya yang mengatur tentang hak atas sumber agraria," papar Gosal.

Tak hanya itu, pemerintah juga diminta untuk menyusun RUU terkait dengan penyelesaian konflik-konflik agraria yang muncul sebagai akibat dari pengingkaran berbagai peraturan perundang-undangan sektoral atas hak-hak Masyarakat Adat selama ini. 

"Intinya kami menekankan adanya penguatan terhadap payung hukum yang menaungi hak-hak masyarakat adat," serunya.

Sementara, terkait penyelenggaraan kegiatan, Gosal menjelaskan bahwa Festival Nyiur Melambai di Tondano digelar dalam rangka peringatan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Kegiatan ini diisi tarian adat Kawasaran, soft launching dua buah buku, ritual adat, musikalisasi puisi, musik kreatif, kalelon makaaruyen, pemutaran film pendek, pameran lukisan, pameran fotografi, pameran buku dan masih banyak lagi.

"Jadi 9 Agutus ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia. Tahun ini adalah peringatan ke-10 tahun deklarasi PBB tentang hak-hak masyarakat adat. Sebuah deklarasi yang diperjuangkan selama lebih dari 20 tahun oleh Masyarakat Adat di seluruh dunia, yang kemudian diadopsi dan disahkan pada tahun 2007," urainya. 

Indonesia sendiri merupakan negara yang turut mengadopsi deklarasi ini. Terdiri dari 46 pasal dan 52 ayat. "Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat menekankan berbagai hak Masyarakat Adat termasuk hak atas tanah, wilayah dan sumber daya, hak politik, sosial, budaya hingga hak atas berbagai jenis olahraga dan permainan tradisional," tambah putra asli Tondano itu. 

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Minahasa, Agustifo Tumundo yang hadir saat itu memberi apresiasi atas kegiatan tersebut. "Atas nama pemerintah kabupaten Minahasa memberi dukungan penuh atas penyelenggaraan acara ini. Banyak selamat untuk kita yang boleh merayakan hari masyarakat adat sedunia ini," ungkap Tumundo.

Adapun acara ini turut dihadiri sejumlah komunitas adat dan jaringan AMAN Sulut, ormas. Di antaranya, Makatana Minahasa Walak Tondano, Tondano Smart Musically Community (TSMC), Teater Arsitektur Perkotaan (Terakota), Kalelon Makaaruyen Minahasa (KAMA Minahasa), Komunitas Penulis Muda Minahasa “Mapatik”, Mawale Fotografi, Komunitas Seni Mandiri (Konsen) Minahasa, Waraney Wuaya, Komunitas Pawowasan, Wulan Waraney Dewi Laut Bitung, Komunitas Tumou Tou Tondano, Kawasaran Wanua Kawiley Tonsea, LBH Manado AJI Manado, Swara Manguni Sulut, Mawale Movement, Konsen Minahasa, Wale Papendangan Sonder, dan masih banyak lagi jaringan AMAN lainnya. (***)

 

Banner Media Sulut

Komentar